JEPARA — Ahmad Rifai ternyata ialah sosok yang dituakan dan disebut sebagai pimpinan Pondok Pesantren Al Gaib.
Pondok Pesantren tersebut berada di dekat Lapangan Sepakbola Maja Taruna Buaran, Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan.
Butuh waktu 30 menit dari Jepara kota untuk menuju ke sana. Atau setidaknya 10 menit perjalanan dari Pasar Pecangaan.
Tak seperti pesantren pada umumnya, pondok tersebut diapit serta terletak menjorok di area kebun, persawahan maupun aliran sungai irigasi.
Pondok Pesantren Al Gaib sendiri, menurut Ahmad Rifai merupakan pondok pesantren dengan sejumlah jemaah yang berasal dari area Jepara dan sekitarnya.
Bahkan ia menyebut, pihaknya penganut Tarekat Amaliyah. "Saya ikut tarekat dari guru saya di daerah Cipondoh, Tangerang. Tarekat Amaliyah. Saat usia saya 40 tahun, Kiai saya ngendikan, jika sudah saatnya saya membuat saung," ungkapnya saat ditemui di kediamannya pada Rabu (7/1).
Saung yang ia maksud ialah semacam surai yang memiliki luas, setidaknga 4 x 10 meter. Bangunannya berasal dari kayu maupun bambu.
Jika masuk ke dalam saung atau yang disebutnya Pesantren Al Goib, terdapat figura yang khas membentuk tokoh pewayangan Semar.
Termasuk foto yang disebutnya merupakan habaib.
Yang paling unik ialah di ruang tengahnya, terdapat satu tiang di antara empat saka utama bangunan. Juga dipasangi bendera Palestina.
Sedangkan bendera Indonesia tampak dipasang di sebelah luar saung.
Terdapat juga sejenis gong yang digantung. Bertuliskan 'Mujahadah Tauhid Eyang Semar Sabdo Palon'.
Di tempat inilah, Ahmad Rifai juga sering mengobati para pasiennya. Yang bahkan berdatangan dari luar Jawa.
Saat ditemui pada Rabu (7/1), Radar Kudus juga berbarengan dengan pasien Ahmad Rifai yang berasal dari Batam.
Di tempat inilah, yang juga kemudian Ahmad Rifai diminta Sang Guru untuk istiqamah, bermujahadah dengan para jemaahnya.
"Tarekat itu penting, punya guru atau mursyid yang membimbing rohani. Di sini Mujahadah Tauhid Eyang Semar Sabdo Palon," jelasnya.
Menurutnya, semua jenis tarekat amatlah baik. Yang terpenting ialah niat dan tujuannya untuk menuju Sang Maha Satu, Tuhan Semesta Alam.
"Kalau sudah memandang makrifat sudah tidak memandang keagamaan, apalagi membedakan. Yang penting tauhid. Berzikir menata niat hati, rida, mengharap rahmat Allah," ucapnya.
Lebih lanjut ditegaskan, Mujahadah Tauhid Eyang Semar Sabdo Palon menjadi salah satu kegiatan Pesantren Al Gaib.
"Perjalanannya saya di sini sejak 2019, terus merintis. Misi pertama, saya dapat amanah dadi leluhur, kalau ada orang susah, sakit, diobati. Dengan catatan bentuk syukur kepada Allah, yakni mujahadah," katanya.
Bahkan mujahadah kerap dilakukan setiap malam. "Di sini setiap malam, bakda Isya. Mosok menghadap Gusti Allah ngenteni dino atau jam (menunggu hari atau jam, red). Selagi masih dikasih kesempatan, tidak ada berhenti berzikir. Kalau semua hadir ada ratusan, tapi biasanya ada 20-40 orang," katanya.
Rifai juga menyadari, jika perjalanannya acapkali penuh dengan kontroversi. "Itu biasanya kalau belum mendengar (penjelasan, red) sendiri dari saya," katanya.
Lebih lanjut dikatakan, kendati lahir di Jepara, namun kemudian ia memiliki istri asal Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan.
"Istri saya dari Tanggungharjo, Grobogan. Demi amanah yang sudah diberikan beliau-beliau (leluhur, red), yang di Tanggungharjo pun sudah saya lepas (majelisnya). Meskipun di sana punya rumah juga, pulang ke sana paling 1,5 tahun," ujarnya.
Rifai juga mengaku memiliki kesibukan menggembalakan kambing. Tak jauh dari kediamannya, yaitu di area lapangan. Sebab di situ banyak rumput hijau segar.
"Saya (juga) angon wedus, ini habis ngeculke wedus di lapangan. Saya ikut apa yang sudah menjadi takdire Allah," sebutnya dengan sikap rendah hati saat ditemui Rabu (7/1) menjelang sore.
Bapak dari empat anak ini juga berpesan, tidak ada hidup yang istilahnya sulit. Jika hati seseorang ikhlas, rida atas apa yang menjadi takdir Yang Maha Kuasa semua terasa ringan.
"Seperti guru saja pernah berpesan, jika saya mulai berumur 40 tahun maka saya akan tahu siapa diri saya. Saya menekuni zikir," katanya.
Tak tanggung-tanggung, Rifai pun pernah bergabung dan memiliki majelis zikir di Bali. Itu dijalankannya di daerah Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Bali. Kurang lebih delapan tahun.
"Saya berjalan (lelaku, red) di sana, zikir bersama, termasuk dengan para Mangku (Tokoh Agama Hindu, red). Saya lepas karena di sana (jemaah) lebih pengin hal duniawi. Sementara bagi saya, tidak ada istilah lain, misi tauhid dan leluhur yang memberi tugas ke sana," katanya.
Lebih lanjut dikatakan, menurutnya Indonesia sedang berada pada fase krisis tauhid. Sehingga menurut, cacian, hinaan maupun makian dan sejenisnya tidak ada artinya jika untuk membumikan zikir.
"Apa artinya ketenaran dunia. Saya bukan siapa-siapa, bukan berpendidikan tinggi, SD saja tidak lulus, hanya sampai kelas III," pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya