JEPARA — Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Jepara merespon mengenai video viral di media sosial (medsos).
Khususnya terkait jemaah yang belakangan diketahui asal Jepara yang berzikir dan tahlil di kompleks Candi Prambanan, Sleman, DIY belum lama ini.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jepara Akhsan Muhyiddin menyampaikan pihaknya telah melakukan tabayyun. Guna memastikan kejelasan informasi tersebut, serta alasan di baliknya.
Sebagaimana yang heboh beredar, tersorot setidaknya sepuluh jemaah yang melantunkan zikir maupun tahlil di depan Candi Prambanan.
Mereka mengenakan pakaian putih serta mengenakan sorban dengan duduk bersila.
Alih-alih berzikir secara sirri (tanpa suara), mereka tampak bersemangat membaca zikir secara nyaring.
Bahkan menggerakkan tangan seperti sedang menarik sesuatu dari dalam candi.
Sejumlah pengunjung pun tampak terheran-heran akan aktivitas yang tak lazim tersebut.
Akhsan menyebutkan bahwa pimpinan jemaah tersebut, diketahui merupakan warga yang berdomisili di Desa Karangrandu Kecamatan Pecangaan.
Pihaknya menyebutkan, semula jemaah tersebut melakukan kunjungan ke Pantai Segara Kidul. Kemudian bertolak ke Candi Prambanan.
"Pihak kami sudah sempat bertemu pimpinan (jemaah, red)," sebutnya Selasa (6/1).
Lebih lanjut dijelaskan, pihaknya telah menyampaikan batasan-batasan sebagaimana perilaku antar umat beragama. Agar saling menghormati satu sama lain.
Menurutnya, jika dalam keadaan mendesak berdoa di manapun, termasuk di tempat-tempat yang dihormati oleh salah satu penganut agama tidaklah masalah. Dengan catatan, telah diizinkan oleh pemilik wilayah atau tuan rumah.
"Dari pihak Candi, sudah mengingatkan. Tapi belum diindahkan," singkatnya.
Akhsan juga menyinggung, pentingnya sikap toleransi maupun moderasi beragama. Namun juga harus berpijak pada hukum maupun norma-norma sosial keagamaan yang ada.
Menurutnya, semula pimpinan jemaah berinisial AR tersebut membuka praktik pengobatan tradisional. Tak hanya itu, pihaknya juga tengah melakukan penelisikan lebih lanjut mengenai hal tersebut, utamanya praktik yang dilakukan di kompleks Candi Prambanan.
Pihaknya turut mengimbau, sekalipun kebebasan beragama dan berpendapat dijamin undang-undang, namun masyarakat lebih berhati-hati dalam mengekspresikan diri.
"Kami belum tahu secara jelas, sebenarnya mereka itu tergabung dalam apa. Karena tidak punya lembaga atau organisasi yang berizin," jelasnya.
Sementara itu, pada saat yang sama, Kamituwo Desa Karangrandu Saman Abdul Kholiq, menanggapi mengenai hal tersebut.
Pihaknya menceritakan, pimpinan majelis atau padepokan tersebut, AR, merupakan pria kelahiran Jepara.
Kemudian menikah dan mendapatkan istri orang Grobogan.
"Terus menikah, pindah ke sana (Grobogan, red). Entah bagaimana, terus pindah lagi ke Jepara. Namun itu belum resmi, belum mengurus surat pindah dan berdomisili di Karangrandu," sambungnya.
Jika dirunut, AR telah berdomisili setidaknya lima tahun terakhir di Kabupaten Jepara, khususnya di Desa Karangrandu Kecamatan Pecangaan.
"Yang jelas, AR ini dia sudah pindah dari Purwodadi ke Jepara (belum resmi, res). Terus dia di situ, setelah di rumahnya bikin padepokan sendiri, kurang lebih dari tempat tinggalnya 150 meter," katanya.
Aktivitasnya pun disebut-sebut sejenis majelis zikir. Ada kegiatan seperti istighosah, termasuk pengobatan alternatif-tradisional.
"Untuk anggota padepokannya sendiri berasal dari luar Desa Karangrandu, dari Jepara. Ada yang luar kota cuma tamu. Jemaahnya, saat saya temui (AR, red) ada 30-an orang," katanya.
Tak hanya itu, pihaknya pun mengaku telah melakukan mediasi bersama dengan AR belum lama ini. Dari situ, dijelaskan tujuannya semula melakukan kunjungan ke Pantai Segara Kidul.
"Tujuannya, karena istilahnya sebelum ziarah di Candi Prambanan ke Parangtritis dulu. Setelah itu mengaku dapat bisikan mistis, disuruh zikir ke Candi Prambanan. Katanya, yang pertama ingin membebaskan belenggu Roro Jonggrang," katanya.
Kendati demikian, lanjutnya, yang bersangkutan hanya ingin mendoakan. "Tidak ada tendensi ingin mencemari agama lain. Tidak ada. Tujuan awalnya berzikir, lalu dapat bisikan mistis dari Ratu Pantai Selatan," pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya