Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Ardiyansyah Ma’ruf, Mahasiswa Unisnu Jepara Inovasikan Latoh Jadi Yogurt, Sabet Emas di Ajang Internasional

Fikri Thoharudin • Rabu, 31 Desember 2025 | 00:04 WIB
KREATIF: Ardiyansyah tunjukkan produk hasil karyanya bersama dengan tim Unisnu Jepara.
KREATIF: Ardiyansyah tunjukkan produk hasil karyanya bersama dengan tim Unisnu Jepara.

RADAR KUDUS - BERAWAL dari rasa ingin tahu dan kegemaran mengamati hal-hal di sekitarnya, Ardiyansyah Ma’ruf perlahan menapaki jalan sebagai inovator muda. 

Mahasiswa Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara Prodi Manajemen ini sukses mengharumkan nama daerah lewat berbagai ajang olimpiade sains dan inovasi, sekaligus mematenkan produk berbasis potensi lokal Jepara.

Hal tersebut dilakoninya bersama dengan mahasiswa Unisnu lain. Dengan kerja-kerja kelompok yang solid dan penuh dengan terobosan baru.

Pemuda kelahiran Tahunan, Jepara, 5 Juni 2006 itu tercatat mengikuti sejumlah kompetisi tingkat nasional hingga internasional sepanjang 2025. 

Salah satu prestasi paling membanggakan diraihnya dalam World Science Environment and Engineering Competition (WSEEC) 2025 di Jakarta. Dalam ajang tersebut, Ardiyansyah mengolah latoh, rumput laut khas pesisir Jepara, menjadi produk yogurt inovatif. Karyanya itu berhasil menyabet medali emas sekaligus special award.

Tak berhenti di situ, Ardiyansyah kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap isu lingkungan dalam World Youth Invention and Innovation Awards (WYIIA) 2025 di Surabaya. 

Ia bersama dengan tim meneliti persoalan pencemaran limbah tekstil, khususnya limbah industri Troso, dengan memanfaatkan enzim papain sebagai solusi untuk membantu mengurai zat pencemar dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

Sementara pada ajang Indonesia International Applied Science Project Olympiad (I2ASPO) 2025 di Yogyakarta, Ardiyansyah mengangkat isu limbah tambak, terutama tambak udang. 

Limbah tersebut ia kembangkan menjadi pakan ikan yang kaya nutrisi, memanfaatkan kandungan alami seperti mikroorganisme dan bahan hayati dari lingkungan sekitar.

Berbagai riset itu tidak berhenti sebagai proyek lomba semata. Ardiyansyah telah menindaklanjuti inovasinya secara serius. 

Produk yogurt latoh yang dikembangkannya kini telah mengantongi HAKI, memiliki NPWP, serta izin usaha resmi. Selain itu, inovasi pakan ikan dari limbah tambak juga tengah dalam proses pengembangan lanjutan dan pengurusan HAKI.

Dua produk unggulan yang telah dipatenkan adalah YouLaTe, yogurt berbahan dasar latoh, serta SHIGAFLOK, inovasi pakan ikan dari limbah tambak udang. 

Keduanya diharapkan mampu menjadi solusi berkelanjutan sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis potensi lokal Jepara.

“Kalau ditanya tindak lanjutnya, kami ingin produk ini benar-benar jalan, bukan hanya berhenti di lomba,” ujar Ardiyansyah pada Selasa (30/12).

Ia menambahkan, beberapa event dan kompetisi lain juga telah masuk dalam agenda yang akan diikuti ke depan.

Anak ketujuh dari tujuh bersaudara ini mengaku dunia riset sudah akrab dengannya sejak kecil. 

Rasa penasaran yang tinggi membuatnya gemar mengamati, bertanya, dan mencoba memahami berbagai fenomena di sekitarnya. 

“Riset itu jadi satu disiplin hidup. Dari kecil saya memang kepo, ingin tahu, lalu observasi,” tuturnya.

Ardiyansyah merupakan lulusan SMAN 1 Tahunan tahun 2024. Di tahun yang sama, ia memutuskan melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisnu Jepara, Program Studi Manajemen, dan kini telah memasuki semester tiga. 

Pilihan jurusan tersebut diambilnya karena ia melihat manajemen memiliki cakupan luas dan prospek kerja yang lebih terbuka.

“Awalnya saya tidak terlalu berekspektasi tinggi kuliah di sini. Bahkan dulu sempat ingin ke universitas lain. Tapi saya pikir, kita tidak akan tahu rasanya kalau tidak mencoba,” katanya. 

Prinsip itulah yang justru membuka banyak peluang baru baginya selama kuliah.

Selain aktif di bidang riset dan inovasi, Ardiyansyah juga terpilih mengikuti program student exchange ke Thailand pada 7 Februari hingga 8 Maret. 

Dari 40 mahasiswa terpilih, Unisnu Jepara mengirimkan empat perwakilan, dan Ardiyansyah menjadi salah satunya. 

Pengalaman tersebut semakin membuka wawasannya, terutama tentang pentingnya bahasa Inggris sebagai bahasa global.

“Bahasa itu penting, apalagi bahasa Inggris. Di negara mana pun, itu jadi basic,” ujarnya. 

Ketertarikannya pada dunia bisnis, penyusunan business plan, dan pengembangan ide juga semakin kuat setelah mengikuti berbagai program akademik dan kolaborasi.

Putra dari seorang ayah yang berprofesi sebagai guru dan ibu rumah tangga ini berharap inovasi yang ia kembangkan dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat. 

Bagi Ardiyansyah, prestasi bukan sekadar soal medali, melainkan tentang keberanian mencoba, membuka pola pikir, dan menghadirkan solusi dari masalah yang ada di sekitar.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#produk ramah konsumen #jepara #unisnu #haki