Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jepara 2025, Ketika Konektivitas Dibangun, Jargon MULUS Mulai Terasa, Bupati Wiwit Tunaikan Janji

Achmad Anwar • Minggu, 28 Desember 2025 | 23:03 WIB

 

MULUS: Bupati Jepara Witiarso Utomo meninjau jalan yang telah diperbaiki di wilayah Jepara Utara.
MULUS: Bupati Jepara Witiarso Utomo meninjau jalan yang telah diperbaiki di wilayah Jepara Utara.

PAGI di Jalan Kecapi kini berjalan tanpa drama. Permukaan cor beton memantulkan cahaya matahari, sementara truk pengangkut mebel melintas bergantian dari gudang ke jalur utama.

Tak ada lagi roda selip, tak perlu ganti ban karena kejeglong.

“Sekarang barang keluar masuk lancar,” kata Slamet, pelaku usaha mebel. “Order bisa dikejar," timpalnya.

Jalan Kecapi bukan satu-satunya yang berubah. Ia hanya salah satu simpul dari konektivitas yang coba dibangun Pemerintah Kabupaten Jepara sepanjang 2025.

Konektivitas antar-desa, antar-sentra ekonomi, antar-warga dengan pemerintah. Setahun pertama kepemimpinan Bupati Jepara Witiarso Utomo dan Wakil Bupati M. Ibnu Hajar diisi pekerjaan mendasar. Menyambung yang terputus, membenahi yang lama dibiarkan.

Jalan sebagai Penghubung Ekonomi

Pada 2025, Pemkab Jepara menargetkan penanganan sekitar 350 kilometer jalan kabupaten. Hingga akhir tahun, lebih dari 335 kilometer berhasil disentuh, tersebar di 128 ruas.

Anggaran infrastruktur yang dialokasikan mencapai sekitar Rp 40 miliar, ditopang pinjaman daerah dan dukungan bantuan Provinsi Jawa Tengah senilai puluhan miliar rupiah.

Fokusnya jelas: jalan poros dan jalur ekonomi. Ruas-ruas yang menghubungkan sentra mebel, pertanian, tambak, pasar, dan kawasan wisata menjadi prioritas. Jalan Kecapi, yang menjadi akses penting bagi industri mebel, dicor beton agar tahan beban dan cuaca.

Dampaknya terasa langsung. Waktu tempuh distribusi lebih singkat, risiko kerusakan barang berkurang, dan biaya logistik menurun. Di banyak desa, jalan mulus berarti hasil panen dan produksi bisa bergerak lebih cepat. Konektivitas fisik menjadi fondasi bergeraknya ekonomi lokal.

Desa Tak Lagi Jauh

Konektivitas tak berhenti pada aspal. Sepanjang 2025, Pemkab Jepara mengubah cara hadir di tengah masyarakat melalui program Ngantor di Desa. Balai desa menjadi ruang dialog.

Aduan tak harus naik berlapis-lapis ke kantor kabupaten.

Dari pertemuan-pertemuan itu, persoalan lama kembali diurai. Salah satunya rumah tidak layak huni (RTLH). Pada 2025, puluhan unit RTLH di sejumlah kecamatan masuk program penanganan.

Untuk 2026, Pemkab menyiapkan usulan sekitar 5.000 unit RTLH ke pemerintah pusat dan Provinsi Jawa Tengah agar penanganan lebih merata.
Bagi warga, kehadiran pemerintah di desa memberi rasa terhubung.

Pemerintah tak lagi terasa jauh, keputusan tak lagi hanya dibaca di papan pengumuman.

Kota Ditata, Arus Dipisah

Di pusat kota Jepara, konektivitas diterjemahkan lewat penataan ruang. Kawasan kanal disulap menjadi pusat UMKM.

Tujuannya memecah kepadatan Jalan Pemuda, sekaligus memberi ruang usaha yang lebih tertib dan aman.

Penataan kawasan Pasar dan Klenteng Welahan juga mulai digerakkan. Kawasan ini disiapkan sebagai simpul wisata sejarah dan edukasi, menghubungkan ekonomi, budaya, dan identitas Jepara.

Arus orang, barang, dan cerita diharapkan kembali hidup.

Di sisi lain, pelaku UMKM didorong naik kelas. Perajin anyaman Telukwetan difasilitasi tampil di ajang nasional seperti INACRAFT.

Potensi desa, seperti sentra mainan tradisional anak di Karanganyar, diarahkan menjadi wisata edukasi yang menghubungkan produksi lokal dengan kunjungan publik.

Menjaga yang Tumbuh

Konektivitas juga dimaknai sebagai hubungan manusia dengan lingkungan.

Pada 2025, Pemkab Jepara meluncurkan program Jepara Menanam, dengan target 800 ribu pohon setiap tahun. Penanaman dilakukan di bantaran sungai, lahan kritis, kawasan rawan longsor, hingga lingkungan permukiman.

Program ini menjadi penyeimbang pembangunan fisik. Jalan dibangun, ekonomi bergerak, tetapi daya dukung alam tetap dijaga. Pohon-pohon itu diharapkan menjadi pengikat: menahan air, menjaga tanah, dan memastikan pembangunan tak menggerus masa depan.

Toleransi yang Menghubungkan

Konektivitas sosial juga dirawat. Wakil Bupati M. Ibnu Hajar menjalankan program Jumat Berangkat, menyambangi masyarakat di tempat-tempat ibadah. Tanpa seremoni besar, tanpa pidato panjang. Hadir, duduk, mendengar.

Di Jepara yang beragam, pendekatan ini menjadi jembatan kepercayaan. Pemerintah tak sekadar mengatur, tetapi menyapa.

MULUS yang Mulai Terasa

Jepara Makmur, Unggul, Lestari, dan Religius. MULUS bukan lagi sekadar jargon di baliho. Setahun berjalan, ia mulai terasa di lapangan. Di jalan yang menghubungkan desa dengan pasar.

Di balai desa yang menjadi ruang dialog. Di kota yang lebih tertata. Di pohon-pohon yang mulai ditanam untuk masa depan.

Jepara 2025 belum selesai. Masih ada jalan menunggu giliran, rumah yang harus dibenahi, dan ruang yang perlu ditata. Namun dari Jalan Kecapi hingga desa-desa, satu hal mulai jelas: ketika konektivitas dibangun, perubahan tak lagi terasa jauh.(*)

Editor : Zainal Abidin RK
#jepara #Jepara Mulus #witiarso utomo #Kecapi #jawa tengah