Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ibadah Misa Vigili Natal dan Natal Pagi di Jepara Berjalan Damai, Romo Berikan Khutbah Peneladanan Gembala dan Penguatan Hubungan Keluarga

Fikri Thoharudin • Kamis, 25 Desember 2025 | 19:35 WIB
ANTUSIAS: Para jemaah khidmat mendengarkan homili atau khutbah.
ANTUSIAS: Para jemaah khidmat mendengarkan homili atau khutbah.

JEPARA — Suasana khidmat dan penuh damai menyelimuti rangkaian perayaan Ibadah Misa Malam Natal dan Hari Raya Natal di Kabupaten Jepara. 

Sejak Rabu (24/12) malam hingga Kamis (25/12), umat Kristiani di berbagai gereja mengikuti perayaan Natal dengan penuh sukacita, doa, serta permenungan iman yang mendalam. 

Perayaan berjalan damai, aman, dan lancar dengan dukungan pengamanan dari pemerintah daerah dan unsur terkait. Seperti halnya yang terjadi di Gereja Katolik Paroki Stella Maris, Jepara.

Sebelumnya rangkaian perayaan Natal diawali dengan Misa Vigili Natal, yang menjadi puncak penantian umat Katolik setelah menjalani Masa Adven. 

Sejak sore hari, umat mulai berdatangan ke gereja dengan mengenakan busana rapi. Mereka datang bersama keluarga, membawa harapan dan doa, untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus sebagai Sang Juru Selamat.

Misa Malam Natal diawali dengan perarakan Bayi Yesus, sebuah prosesi simbolis yang memiliki makna teologis dan historis yang kuat dalam tradisi Gereja Katolik. 

Bayi Yesus yang diarak melambangkan peristiwa kelahiran Kristus di Betlehem, ketika Allah hadir ke dunia dalam rupa manusia yang sederhana dan lemah. 

Perarakan ini bagi umat Katolik menjadi pengingat bahwa keselamatan tidak datang melalui kekuasaan atau kemegahan, melainkan melalui kerendahan hati, cinta kasih, dan pengorbanan.

Secara filosofis, perarakan Bayi Yesus juga dimaknai sebagai ajakan bagi umat untuk membuka hati dan menyambut kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari. 

KHIDMAT: Romo Antonius Gunardi Prayitna MSF meletakkan bayi Yesus usai dilakukan perarakan pada Rabu (24/12) malam.
KHIDMAT: Romo Antonius Gunardi Prayitna MSF meletakkan bayi Yesus usai dilakukan perarakan pada Rabu (24/12) malam.

Prosesi ini mengingatkan bahwa Natal bukan sekadar perayaan historis, melainkan peristiwa iman yang terus hidup dan relevan. Allah yang dahulu hadir di palungan, kini hadir dan tinggal di tengah umat-Nya, menyertai perjalanan hidup manusia dalam berbagai situasi.

Ibadah berlangsung khidmat, berjalan sesuai tata liturgi gereja, mulai dari ritus pembuka, liturgi sabda, hingga doa-doa penutup. 

Pada Rabu (24/12) malam sekitar 600 umat memenuhi aula gereja, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh iman.

Misa Malam Natal dipimpin oleh Romo Antonius Gunardi Prayitna, MSF yang untuk pertama kalinya memimpin prosesi Natal di Jepara sejak mulai bertugas pada Agustus lalu. 

Meski baru pertama kali memimpin perayaan Natal di Jepara, Romo Antonius memimpin ibadah dengan penuh ketenangan dan kekhidmatan, sehingga umat dapat mengikuti seluruh rangkaian perayaan dengan baik.

Dalam homili atau kotbahnya, Romo Antonius mengajak umat untuk merenungkan teladan para gembala yang menjadi saksi pertama kelahiran Yesus Kristus. 

"Makna perarakan bayi Yesus sendiri untuk mengenang, secara simbolis bahwa ini merupakan peristiwa sejarah. Peneladanan akan sikap-sikap kesederhanaan," ujarnya.

Menurutnya, para gembala dipilih Allah bukan karena status atau kedudukan mereka, melainkan karena kesederhanaan dan keterbukaan hati mereka dalam menerima kabar keselamatan.

Ia menekankan bahwa sikap para gembala mencerminkan nilai-nilai utama iman Kristiani, yakni kesederhanaan hidup, keberanian untuk terus mencari kebenaran, kerendahan hati untuk datang menyembah, serta kepercayaan penuh pada kedaulatan Allah, bahkan di tengah situasi hidup yang sulit dan penuh keterbatasan. 

“Allah bekerja melalui kesederhanaan,” menjadi pesan utama yang ditekankan dalam homilinya.

Romo Antonius juga mengingatkan bahwa dalam kehidupan modern, manusia kerap terjebak pada hal-hal duniawi yang perlahan menggeser relasi dengan Tuhan. 

Pihaknya menyinggung kebiasaan manusia modern yang lebih banyak “menyembah” gawai dan kesibukan dunia, sehingga waktu untuk berdoa, berkumpul dengan keluarga, dan membangun relasi sosial menjadi semakin berkurang. 

"Saya mengambil bahasan dalam homili para gembala, dengan kesederhanaan kerendahan hati, penyembahan kepada Allah itu karena kini sikap itu perlahan-lahan dirongrong oleh hal-hal duniawi. Kita lebih menyembah handphone, ini sebagai contoh," pesannya.

Romo berharap, agar para umat semakin sehat dan kuat. Hebat dalam pelayanan dan dahsyat kesaksiannya. "Memberi contoh yang baik, menjadi terang di tengah kehidupan bersama," katanya.

Natal, menurutnya, menjadi momentum yang tepat untuk kembali menata ulang orientasi hidup.

Lebih lanjut, Romo Antonius mengaitkan perayaan Natal dengan tema Natal tahun ini, “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga.” 

Tema ini, menurutnya, sangat relevan dengan kondisi kehidupan saat ini, di mana keluarga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persoalan ekonomi, komunikasi, hingga relasi antaranggota keluarga. 

Umat diajak untuk menjadi keluarga kudus yang terberkati, yang mampu menghadirkan kasih, pengampunan, dan pengharapan di tengah kehidupan bersama.

ADEM AYEM: Wabup Jepara melakukan silaturahmi ke Gereja Katolik Paroki Stella Maris, Jepara dan disambut Romo Antonius Gunardi Prayitna.
ADEM AYEM: Wabup Jepara melakukan silaturahmi ke Gereja Katolik Paroki Stella Maris, Jepara dan disambut Romo Antonius Gunardi Prayitna.

Dalam suasana penuh kehangatan, Romo Antonius juga mengungkapkan rasa haru dan syukur atas kehadiran Wakil Bupati Jepara dalam perayaan Natal. 

Kehadiran unsur pemerintah tersebut dinilai sebagai bentuk perhatian dan dukungan nyata terhadap kehidupan beragama dan toleransi di Jepara. 

"Kegembiraan Natal ini menjadi semakin lengkap dan sungguh-sungguh membuat saya terharu, kehadiran pak Wabup M. Ibnu Hajar yang membuat kami diteguhkan dan dikuatkan," ucapnya.

Ia menegaskan komitmen umat Katolik dengan semboyan “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia,” yang berarti beriman secara utuh sekaligus berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

"Kita telah mempersiapkan diri dalam masa Adven, kita merayakan Hari Raya Natal, Sang Sabda menjelma menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah kita. Tema tahun ini agar keluarga kudus terberkati, kita lanjutkan dengan menyongsong tahun baru yang sejahtera," urainya.

Seluruh rangkaian berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan. Umat mengikuti perayaan dengan sikap hening dan doa, mencerminkan makna Natal sebagai peristiwa iman yang menyentuh hati.

KHIDMAT: Para jemaah memenuhi Gereja Katolik Paroki Stella Maris, Jepara.
KHIDMAT: Para jemaah memenuhi Gereja Katolik Paroki Stella Maris, Jepara.

Sementara itu, pada Misa Hari Raya Natal Kamis (25/12) pagi, Romo Andrianus Sulistyono, MSF kembali menegaskan pesan Natal dengan fokus pada peran dan keutuhan keluarga.

Dalam homilinya, ia menyoroti realitas kehidupan modern yang perlahan menggerus kehangatan keluarga, seperti semakin jarangnya waktu makan bersama, komunikasi yang renggang, serta meningkatnya individualisme.

Menurut Romo Andrianus, tema Natal tahun ini memiliki maksud yang sangat mendalam, yakni mengajak umat untuk kembali pada esensi dan hakikat keluarga. 

Relasi antara ayah, ibu, dan anak perlu terus dibangun dan dirawat. Natal juga menjadi momentum untuk meluruhkan luka-luka batin yang mungkin selama ini terpendam, serta memulihkan relasi yang retak. 

Ia menegaskan bahwa Natal tidak boleh berhenti pada seremoni dan perayaan lahiriah semata.

"Tema tahun ini tentu bukan tanpa maksud. Menguatkan hubungan kekeluargaan, relasi harus dikembalikan ke esensi hakikat keluarga," tegasnya.

Usai menyampaikan homili, Romo Andrianus juga melayani Sakramen Perminyakan. 

Sakramen ini diberikan kepada umat yang sakit sebagai bentuk penguatan iman dan penghiburan rohani, agar mereka merasakan kehadiran Allah yang menyembuhkan dan membawa sukacita, sekalipun di tengah penderitaan dan keterbatasan fisik.

GEMBIRA: Anak-anak dan remaja menerima hadiah dari Sinterklas pada Kamis (25/12).
GEMBIRA: Anak-anak dan remaja menerima hadiah dari Sinterklas pada Kamis (25/12).

Perayaan Natal di Jepara juga memberi ruang khusus bagi generasi muda. Usai Misa Natal pagi, panitia menyelenggarakan perayaan Natal khusus bagi anak-anak dan remaja. 

Kegiatan ini dirancang dengan konsep yang ceria dan edukatif, agar pesan-pesan Natal dapat disampaikan dengan cara yang mudah dipahami dan menyenangkan. 

Suasana perayaan berlangsung meriah, penuh tawa, dan kebersamaan, mencerminkan kegembiraan Natal.

Di sisi lain, Wakil Bupati Jepara M. Ibnu Hajar menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Jepara telah melakukan monitoring dan pengamanan perayaan Natal sejak Senin (23/12). 

Monitoring dilakukan di sekitar 13 gereja yang tersebar di wilayah Jepara, guna memastikan seluruh rangkaian ibadah berjalan aman dan kondusif.

DAMAI: Wabup Jepara M Ibnu Hajar menyalami jemaah.
DAMAI: Wabup Jepara M Ibnu Hajar menyalami jemaah.

“Alhamdulillah, sejak persiapan hingga pelaksanaan, perayaan Natal di Jepara berjalan dengan aman dan lancar,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen menjaga keamanan dan kenyamanan seluruh umat beragama dalam menjalankan ibadahnya.

Ibnu Hajar juga mengajak seluruh masyarakat Jepara untuk terus menjaga semangat toleransi dan saling menghormati antarumat beragama. 

Ia menyampaikan ucapan selamat kepada umat Kristiani yang merayakan Natal, seraya berharap perayaan Natal 2025 membawa keberkahan, kebahagiaan, dan keselamatan.

“Semoga Natal ini semakin mempererat persaudaraan, memperkuat kebersamaan, dan mewujudkan Jepara yang aman, damai, dan sejahtera untuk semua,” pungkasnya.(fik)

Editor : Ali Mustofa
#keluarga #nataru #Misa Malam Natal #romo #ibadah natal