JEPARA - Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan kembali ditunjukkan sejumlah komunitas pecinta alam di kawasan Pegunungan Muria.
Puluhan relawan menggelar kegiatan penanaman pohon di Bukit Savana Tunggangan, Desa Tempur, Kabupaten Jepara, pada Minggu (21/12), sebagai upaya memulihkan hutan yang rusak akibat kebakaran hebat puluhan tahun silam.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Kampoeng Kopi Tempur bersama Gerakan Peduli Muria.
Sebanyak sekitar 60 relawan dari berbagai wilayah ikut ambil bagian dalam aksi hijau ini. Mereka datang dari Jepara, Pati, hingga Kudus dengan satu tujuan yang sama, yakni mengembalikan fungsi hutan Muria sebagai penyangga kehidupan.
Sejumlah komunitas yang terlibat antara lain Relawan Donking Jepara, Relawan Praduli Langgat Adhirajasa Pati, Gemati Vicus Jepara, Pring Kuning, TRC Adventure, Ansor Bagana Tempur, Pokja Destana Tempur Jepara, serta relawan independen lainnya.
Kebersamaan lintas komunitas tersebut menjadi simbol kuatnya semangat gotong royong dalam menjaga alam.
Dalam kegiatan itu, para relawan menanam sekitar 250 pohon dengan berbagai jenis tanaman keras dan buah-buahan.
Jenis pohon yang ditanam meliputi karet, ringin, bergat, pule, rembulung, jambu biji, serta sejumlah tanaman lainnya yang dinilai mampu menopang ekosistem hutan dan menjaga ketersediaan air.
Bukit Savana Tunggangan dipilih karena memiliki nilai strategis, baik secara ekologis maupun sosial.
Di samping menjadi salah satu jalur pendakian favorit di Pegunungan Muria, kawasan ini juga masuk wilayah hutan yang mengalami kerusakan parah akibat kebakaran besar pada tahun 1998 silam.
Peristiwa tersebut disebut telah memusnahkan sekitar 90 persen ekosistem hutan dan menyebabkan ratusan sumber mata air mengering.
Lahan yang ditanami merupakan kawasan Perhutani yang telah dibeli dan dikelola secara pribadi oleh Mahfudz Aly, salah satu warga setempat.
"Lahan tersebut secara khusus diperuntukkan sebagai area reboisasi, bukan untuk kebun kopi," ujarnya Minggu (21/12).
Menurut Mahfudz, keputusan membeli lahan itu diambil karena jika tidak segera diamankan, kawasan tersebut berpotensi dialihfungsikan menjadi perkebunan kopi oleh pihak lain.
“Lahan ini memang kami niatkan untuk reboisasi. Kalau tidak dibeli, kemungkinan besar akan ditanami kopi. Padahal kawasan ini seharusnya menjadi penyangga air dan ekosistem,” ujar Mahfudz Aly, yang juga penggagas kegiatan penanaman.
Rangkaian kegiatan penanaman sebetulnya diawali sejak Sabtu (20/12) malam.
Para relawan terlebih dahulu melakukan camping di Kampoeng Kopi Tempur, dilanjutkan dengan diskusi lingkungan dan kebersamaan antar komunitas.
Minggu pagi, peserta sarapan bersama sebelum mempersiapkan pendakian menuju lokasi penanaman.
Perjalanan menuju Bukit Savana Tunggangan tidaklah mudah.
Dari Desa Tempur, para relawan harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam dengan jalur pendakian yang cukup menantang.
Namun, medan yang berat tidak menyurutkan semangat peserta untuk menanam harapan baru bagi Muria.
Pihaknya menjelaskan, kegiatan ini lahir dari rasa keprihatinan yang mendalam atas semakin maraknya alih fungsi hutan menjadi perkebunan kopi di sekitar Pegunungan Muria.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memperparah krisis air dan kerusakan lingkungan dalam jangka panjang.
“Sekitar 30 tahun lalu kita masih menyaksikan alam yang lestari. Sumber air melimpah, sungai tidak pernah kering saat kemarau dan tidak meluap saat musim hujan. Sekarang pohon semakin sedikit, sungai mengering di musim kemarau, petani kesulitan mengairi sawah, dan banjir datang saat hujan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, para relawan berharap penanaman pohon tidak berhenti sebagai seremoni semata, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan untuk menjaga Pegunungan Muria sebagai sumber kehidupan bagi generasi sekarang dan yang akan datang.
Ia menegaskan, jika kepedulian terhadap lingkungan tidak ditanamkan sejak sekarang, maka 30 tahun ke depan masyarakat akan menghadapi kesulitan yang jauh lebih besar, terutama dalam mencari sumber air bersih.
“Kalau tidak peduli dari sekarang, bagaimana nasib anak cucu kita nanti,” pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya