Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Launching Buku Pulau-pulau Fatamorgana, Ulas Karimunjawa bukan Sekadar Destinasi Wisata

Fikri Thoharudin • Senin, 22 Desember 2025 | 00:19 WIB
LAUNCHING: Proses rilis buku Pulau-pulau Fatamorgana berlangsung khidmat dengan banyak penanya pada Jumat (19/12) malam.
LAUNCHING: Proses rilis buku Pulau-pulau Fatamorgana berlangsung khidmat dengan banyak penanya pada Jumat (19/12) malam.

JEPARA — Upaya mengarsipkan ingatan kolektif masyarakat kepulauan kembali dilakukan melalui medium literasi. 

Sebuah buku bertajuk Pulau-pulau Fatamorgana resmi diluncurkan di Bunga Jabe, Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, Jepara, pada Jumat (19/12) malam.

Peluncuran buku ini menjadi momentum penting bagi upaya pelestarian folklor dan kekayaan kultural masyarakat Karimunjawa yang selama ini lebih dikenal sebagai destinasi wisata bahari. 

Sekaligus mempertegas, wisatawan patut menyelami cerita dan budaya yang hidup dan berkembang di Karimunjawa. Bukan hanya sekadar berwisata.

Buku tersebut disusun oleh Seniman sekaligus Budayawan Widyo Babahe Leksono bersama Opick David Burhan. 

Keduanya meramu cerita-cerita berbasis imajinasi, pengalaman, serta pengamatan panjang terhadap kehidupan masyarakat kepulauan. 

Pulau-pulau Fatamorgana menjadi buku yang ditulis dalam dua bahasa, yakni Indonesia dan Inggris, setelah sebelumnya Babahe juga menerbitkan karya serupa dalam bahasa Jawa maupun Indonesia.

Widyo Babahe Leksono mengungkapkan, perkenalannya dengan Karimunjawa bermula sejak tahun 2014. 

Sejak saat itu, ia merasa terpanggil untuk mendorong masyarakat luas melihat Karimunjawa tidak semata sebagai objek wisata, melainkan sebagai ruang kebudayaan yang memiliki kekayaan cerita, tradisi, dan ingatan kolektif yang elok serta bernilai tinggi.

Di samping baginya, menulis ialah cara untuk memperlambat kepikunan. Namun ia juga menyebut aktivitas menulis sebagai upaya berbagi cerita, pengalaman, dan pengetahuan. 

Ketika ruang perjumpaan fisik tidak selalu memungkinkan, buku hematnya, menjadi medium silaturahmi yang mampu menjembatani jarak antarmanusia.

Secara etimologis, Karimunjawa disebut berasal dari istilah kremun-kremun, yang dalam ingatan masyarakat lokal lekat dengan kabut, ilusi, dan lanskap kepulauan yang seolah hadir sebagai fatamorgana. 

Dari sanalah imajinasi dalam buku ini berangkat, tidak hanya dari satu waktu atau satu bulan pengamatan, melainkan dari proses panjang yang berlapis.

Buku Pulau-pulau Fatamorgana mengusung pendekatan yang oleh Babahe disebut sebagai “fiksisme Karimunjawa”. 

Di dalamnya terdapat sejumlah inspirasi cerita yang disusun berdasarkan latar belakang geografis dan demografis kepulauan. 

Masing-masing kisah memiliki napas berbeda, sesuai dengan karakter ruang dan manusia yang menghuninya.

Tema dalam setiap bab pun beragam, seperti "Orang-orang Pasir", "Orang-orang Batu", "Bukan Orang-orang Pertama", dan sejumlah tema lain yang merefleksikan relasi manusia dengan alam serta sejarah hunian di pulau-pulau tersebut. 

Seluruh cerita ditulis menggunakan teknik prosa liris, sehingga pembaca diajak menyelami suasana batin, lanskap, dan dinamika sosial masyarakat kepulauan secara lebih mendalam.

Selain disajikan dalam bahasa Indonesia dan Inggris, buku setebal setidaknya 100 halaman ini juga memuat penggambaran latar belakang Karimunjawa secara geografis dan demografis. 

Tercatat ada empat desa dan puluhan hamparan pulau, sebuah realitas yang kemudian dipadukan dengan imajinasi dan refleksi filosofis penulis.

Babahe menegaskan bahwa seluruh cerita dalam buku ini berangkat dari imajinasi dan empirisitas.

Ia mengibaratkan proses kreatif tersebut seperti pencipta pesawat terbang yang terinspirasi dari capung yang mampu terbang. Menurutnya, insting menciptakan teknologi dan peradaban kerap dimulai dari fiksi dan khayalan.

Dalam konteks kekinian, Babahe secara khusus menyasar generasi muda, terutama Generasi Z. Ia mendorong anak muda agar tidak hanya bersikap konsumtif dengan gawai dan media sosial. 

“Mana karyamu? Mana ciptaanmu?” ujarnya, seraya menekankan bahwa fiksi dapat menjadi pemantik imajinasi dan kreativitas.

Beranjak dari folklor muria, kremun-kremun, dan berbagai cerita lokal Karimunjawa, menurut Babahe, telah mendarah daging dalam ingatan kolektif masyarakat. 

Ia tertarik menggali aspek demografis dan geografis yang riil, namun sekaligus membuka ruang bagi hal-hal tersembunyi, baik yang kasat mata maupun yang belum terungkap secara sejarah dan fakta, seperti penamaan daerah Batulawang.

Proses penulisan buku ini dilakukan secara disiplin. Babahe mencatat tanggal-tanggal penulisan setiap bagian. Hampir setiap hari ia menulis, dengan keyakinan bahwa dirinya hanyalah perantara, sementara seluruh inspirasi berasal dari Sang Pencipta.

Melalui buku Pulau-pulau Fatamorgana ini, Babahe berharap Karimunjawa dapat terus hidup tidak hanya dalam peta wisata, tetapi juga dalam imajinasi, sastra, dan ingatan budaya generasi masa depan.

“Semua tulisan ini menarik karena masing-masing punya nilai lebih,” sebutnya.

Pada saat yang sama, Opick yang juga selaku penggiat wisata setempat menyampaikan bahwa Karimunjawa bukan hanya lembaran pulau atau pantai secara alam fisika belaka. 

Akan tetapi di dalamnya juga terdapat laku kehidupan dari masyarakat yang beragam. Baik warga yang merupakan suku Jawa, Bugis, Bajau, Madura, maupun Mandar.

"Ada hal yang banyak digali sebagai khazanah dan ilmu pengetahuan di sini, dari cara hidup masyarakat hingga bagaimana kami masyarakat Karimunjawa memandang alam dan laut," terangnya.

Menurutnya keberadaan buku tersebut menjadi salah satu angin segar untuk dapat memperkenalkan Karimunjawa secara lebih luas. Termasuk kepada para turis.

"Kami berharap pariwisata di sini juga menghormati norma-norma sosial dan kebudayaan yang ada. Sehingga dapat berkelanjutan tanpa menyingkirkan kearifan-kearifan lokal," tandasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#Prosa #wisata #bajau #Bugis #sastra #jawa #karimunjawa #buku #Madura #Mandar #kemujan #Kepulauan