JEPARA – Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI menggelar sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan kepada para santri ataupun wali santri di Kabupaten Jepara pada Kamis (18/12).
Kegiatan ini berlangsung di dua lokasi, yakni Kadjine Coffee & Resto serta kawasan Pondok Pesantren Balekambang, dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat pesantren.
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan pentingnya peran santri sebagai bagian dari kekuatan sosial bangsa.
Menurutnya, kemampuan untuk melihat, memahami, dan memverifikasi persoalan di masyarakat merupakan langkah awal dalam menangkap aspirasi publik yang nantinya dapat diteruskan kepada pihak-pihak berwenang.
“Setidaknya, ketika kita mampu membaca dan memverifikasi persoalan yang ada, itu sudah menjadi langkah awal untuk menangkap aspirasi dan meneruskannya kepada pihak yang memiliki legitimasi untuk menyelesaikan persoalan tersebut,” ungkap Lestari Moerdijat yang akrab disapa Rerie.
Ia juga meminta para santri dan masyarakat pesantren untuk terus memberikan masukan dan pandangan kritis terhadap berbagai persoalan di daerah.
Menurutnya, aspirasi dari akar rumput sangat penting sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan di tingkat pusat.
Dalam kesempatan itu, Lestari Moerdijat menyinggung pentingnya konektivitas antara daerah dan pemerintah pusat. Ia menyampaikan bahwa sejumlah persoalan di daerah akan terus dicermati serta jika diperlukan, disambungkan dengan kementerian atau lembaga terkait supaya mendapatkan solusi yang tepat.
"Di sini juga hadir Wakil Ketua DPRD Jepara, Bapak Pratikno, yang bisa menjembatani apabila terdapat hal-hal di daerah yang perlu disampaikan kepada pemerintah pusat," rujuknya.
Sementara itu, Ikhwan Syaefulloh selaku tim ahli menilai kegiatan sosialisasi Empat Pilar ini menjadi momentum penting untuk menghidupkan dan memberdayakan santri, khususnya di Jepara yang dikenal sebagai salah satu kantong santri di wilayah Pantura Jawa Tengah.
Menurutnya, santri muda dan para wali santri perlu terus didorong agar berdaya dan berperan aktif dalam pembangunan.
“Ibu Rerie sendiri menginginkan seluruh elemen lokal, yang secara orisinal berbasis santri, diperkaya wawasan, mindset, pengetahuan, dan kebersamaannya. Ini bagian dari dedikasi untuk Jepara,” tuturnya.
Ia menambahkan, santri seharusnya tidak hanya dijadikan objek simbolik, tetapi diposisikan sebagai subjek pembangunan.
Santri perlu dilibatkan secara nyata di lapangan agar tidak hanya mendengar, melainkan juga berperan aktif dalam berbagai sektor kehidupan.
Dalam bidang pendidikan, perhatian besar juga diberikan pada dorongan agar para santri dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Sejumlah program beasiswa, termasuk KIP dan skema beasiswa lainnya, telah dimanfaatkan oleh santri Jepara untuk berkuliah di Semarang maupun kota-kota lain.
Ikhwan menyebutkan, sejak 2019 hingga kini, puluhan ribu beasiswa telah disalurkan, meskipun saat ini terdapat penyesuaian kuota.
Program tersebut terbukti mampu mendorong lahirnya generasi pertama dalam keluarga yang berhasil menempuh pendidikan tinggi, bahkan diikuti oleh adik-adiknya pada tahun-tahun berikutnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa santri merupakan aset bangsa yang harus dirawat dan didampingi secara berkelanjutan.
Pendidikan tidak hanya dimaknai sebatas ilmu agama, tetapi juga mencakup berbagai disiplin ilmu lain yang relevan dengan kebutuhan zaman, termasuk mendorong santri menjadi pengajar dan agen perubahan di masyarakat.
Melalui sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ini, diharapkan nilai kebhinekaan, kebersamaan, dan semangat kebangsaan dapat tertanam kuat di kalangan santri, sekaligus menguatkan peran mereka sebagai motor penggerak dalam pemajuan bangsa, khususnya dari daerah.
"Untuk beasiswa yang disalurkan sendiri sudah cukup banyak. Dengan harapan satu keluarga, satu sarjana. Ini menjadi salah satu motto yang sangat penting, dari yang awalnya dalam satu keluarga sama sekali tidak ada yang kuliah, setelah kami beri stimulan dengan beasiswa bahkan sudah ada yang lulus dari 2019 hingga sekarang," tandasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya