Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tiga Desa di Lereng Gunung Muria di Kecamatan Keling Jepara, Gelar Apel Siaga dan Pelatihan Mitigasi Bencana

Fikri Thoharudin • Kamis, 18 Desember 2025 | 21:10 WIB
SINERGIS: Prosesi apel yang diikuti oleh sejumlah relawan pada Kamis (18/12).
SINERGIS: Prosesi apel yang diikuti oleh sejumlah relawan pada Kamis (18/12).

JEPARA - Suasana Pendopo Balai Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kamis (18/12), tampak lebih khidmat dari biasanya. 

Sejak pagi, aparatur desa, relawan, hingga warga dari tiga desa meliputi Tempur, Damarwulan, dan Kunir, berkumpul dalam satu barisan, menyatukan tekad menghadapi potensi bencana alam yang sewaktu-waktu bisa terjadi di lereng Gunung Muria.

Apel Siaga Bencana yang dilanjutkan dengan Pelatihan Mitigasi Kebencanaan itu menjadi momentum penting untuk menguatkan kesiapsiagaan bersama. 

Wilayah yang dikenal memiliki kontur pegunungan dan rawan longsor tersebut menuntut kesiapan bukan hanya dari pemerintah, tetapi juga dari masyarakat akar rumput.

Deretan pejabat dan unsur lintas sektor hadir memberi dukungan. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Jepara Arwin Noor Isdiyanto, Camat Keling Lulut Andi Ariyanto, unsur TNI-Polri, hingga tenaga kesehatan dari Puskesmas Keling berdiri sejajar bersama para relawan Desa Tangguh Bencana (Destana). 

Kehadiran mereka menjadi simbol kuatnya kolaborasi dalam urusan kemanusiaan.

Kalaksa BPBD Jepara, Arwin Noor Isdiyanto menyampaikan bahwa kesiapsiagaan adalah kunci utama mengurangi risiko bencana. 

Menurutnya, bencana memang tak bisa dicegah sepenuhnya, namun dampaknya dapat ditekan jika masyarakat memiliki pengetahuan dan kesiapan yang memadai. 

Ia mengingatkan agar warga tak abai terhadap perubahan cuaca ekstrem yang belakangan kian sering terjadi.

"Bencana tidak bisa diprediksi secara pasti kapan datangnya, namun kita bisa meminimalisir dampaknya dengan selalu siaga dan memahami langkah mitigasi yang benar," ungkapnya.

Hal serupa juga disampaikan Camat Keling, Lulut Andi Ariyanto.

Pihaknya menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi lintas sektor saat menghadapi situasi darurat. 

SINERGIS: Apel berlangsung amat khidmat.
SINERGIS: Apel berlangsung amat khidmat.

Ego sektoral, katanya, justru akan memperlambat penanganan. Informasi sekecil apa pun harus segera dilaporkan agar langkah cepat bisa diambil sebelum situasi memburuk.

"Koordinasi adalah kunci. Semua instansi harus bahu-membahu dan saling lapor jika terjadi indikasi bencana agar penanganan bisa dilakukan secara cepat dan tepat," sambungnya.

Pihaknya berharap dengan adanya kolaborasi tiga desa ini (Tempur, Damarwulan, dan Kunir), dapat tercipta sabuk pengaman sosial yang kuat di wilayah Keling, sehingga risiko jatuhnya korban jiwa maupun kerugian materiil dapat ditekan seminimal mungkin.

Dari sisi keamanan, Kapolsek dan Danramil Keling mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tertib saat bencana terjadi. 

Sementara itu, Petinggi Desa Tempur, Mariyono, juga menitipkan pesan dengan mengingatkan kembali memori kolektif warga. 

Mariyono mengajak masyarakat untuk mengambil hikmah dari peristiwa bencana yang pernah terjadi di Sumatera maupun musibah banjir dan tanah longsor di Desa Tempur beberapa tahun silam.

"Mari dijadikan pengalaman pahit masa lalu sebagai pelajaran berharga. Kita harus lebih siap, lebih tangguh, dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar," tuturnya.

Usai apel rampung, kegiatan langsung bersambung dengan sesi pelatihan mitigasi yang dipandu oleh tim BPBD Jepara. Para relawan Destana dan tokoh masyarakat diberikan pembekalan.

Meliputi cara membaca tanda-tanda alam sebelum bencana, prosedur evakuasi mandiri yang aman hingga pertolongan pertama pada korban bencana.(fik)

 

Editor : Ali Mustofa
#muria #jepara #siaga bencana #keling #apel