Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Libatkan Gen Z Kolaborasikan Wayang dan Kentrung, Dorong Kebangkitan Seni dan Budaya Lokal Jepara

Fikri Thoharudin • Kamis, 18 Desember 2025 | 18:38 WIB
GAYENG: Ki Dalang Sugiarto beserta Grup Karawitan Among Jiwo dari SMKN 1 Kedung pukau masyarakat dalam pagelaran wayang dan kentrung pada Rabu (17/12) malam.
GAYENG: Ki Dalang Sugiarto beserta Grup Karawitan Among Jiwo dari SMKN 1 Kedung pukau masyarakat dalam pagelaran wayang dan kentrung pada Rabu (17/12) malam.

JEPARA - Upaya menghidupkan kembali kesenian tradisional sekaligus menanamkan literasi budaya kepada generasi muda ditunjukkan melalui kolaborasi pertunjukan Wayang Santri dan Kentrung yang digelar di Kampoeng Lembah Manah Azharul Hikmah, Jepara, Rabu (17/12) malam. 

Pagelaran budaya ini menyedot perhatian masyarakat lintas usia, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua yang berbondong-bondong memadati area pertunjukan.

Pagelaran tersebut menghadirkan dua dalang, yakni Ki Dalang Sholeh dan Ki Dalang Sugiarto, dengan lakon “Bima Suci Babar Ilmu Sangkan Paraning Dumadi”. 

Baca Juga: Keren! 40 Cabor Lolos Kualifikasi Porprov Jateng 2026, Bupati Jepara Witiarso Utomo Janjikan Bonus Cair 2027 Optimistis Penuhi Target

Lakon ini menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak kelahiran hingga kematian, serta mengajarkan nilai-nilai kebaikan, pengabdian, dan tanggung jawab sosial terhadap lingkungan sekitar.

Uniknya, pertunjukan ini dikemas melalui kolaborasi antara wayang dan kentrung, dua seni tradisi yang jarang dipadukan. 

Iringan karawitan dibawakan oleh Karawitan Among Jiwo dari SMKN 1 Kedung Jepara, yang seluruh pengrawitnya merupakan generasi muda. 

Keterlibatan Gen Z inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama dalam pagelaran tersebut.

Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Jepara Nur Hidayat menyampaikan bahwa pagelaran ini merupakan sebuah gagasan untuk membangkitkan kembali seni kentrung yang belakangan dinilai perlahan mulai luntur dalam ingatan masyarakat, khususnya generasi muda. 

Oleh karena itu, kentrung dikolaborasikan dengan wayang agar lebih relevan dan mampu menjangkau selera anak-anak Gen Z.

GAYENG: Kentrung dikolaborasikan dengan Wayang Santri pukau ratusan masyarakat.
GAYENG: Kentrung dikolaborasikan dengan Wayang Santri pukau ratusan masyarakat.

“Pagelaran malam ini adalah upaya bagaimana kentrung dan wayang bisa berkolaborasi, didalangi dan dikarawitani oleh anak-anak muda. Harapannya, kesenian ini kembali dicintai, khususnya oleh Gen Z,” ungkap Nur Hidayat Rabu (17/12).

Menurutnya, lakon 'Bima Suci Babar Ilmu Sangkan Paraning Dumadi' sarat akan pesan moral tentang proses kehidupan manusia, tentang bagaimana nilai kebaikan harus ditanamkan dan diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. 

Di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi, generasi muda diajak untuk kembali pada literasi lokal tanpa meninggalkan identitas budaya Jepara.

“Ini bagian dari gerakan literasi budaya. Antusiasme masyarakat luar biasa, ini menandakan kebangkitan kesenian lokal. Ibu-ibu, anak-anak, semuanya hadir untuk menyaksikan,” tambahnya.

Hadir pula Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, yang akrab disapa Rerie. 

Pihaknya mengaku amat bahagia melihat keterlibatan anak-anak muda dalam pelestarian budaya, khususnya kentrung dan wayang. 

Baca Juga: Bupati Jepara Ngantor di Desa Bugo, Siapkan Kawasan Pecinan dan Desa Tematik UMKM Welahan

Menurutnya, memperkenalkan budaya sejak usia dini merupakan langkah strategis agar kecintaan terhadap warisan leluhur tumbuh secara alami.

“Witing tresno jalaran soko kulino (Cinta tumbuh karena terbiasa, red). Kalau dibiasakan sejak kecil, kecintaan itu akan tumbuh. Bulan lalu di Solo, saya melihat dua pertiga penonton wayangan pun adalah anak-anak di bawah 10 tahun dan mereka menonton dengan khidmat,” ungkap Rerie.

Ia juga mengaitkan pelestarian budaya dengan pemahaman nilai-nilai kebangsaan, termasuk Empat Pilar MPR RI. 

Menurutnya, pendekatan budaya dapat menjadi media yang efektif untuk menyosialisasikan nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dengan cara yang lebih membumi dan mudah dipahami generasi muda.

Sementara itu, Perwakilan Lesbumi NU Jepara, Hisyam Zamroni, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari internalisasi perjuangan para pahlawan dan tokoh sejarah Jepara, seperti Ratu Kalinyamat maupun Kartini kepada masyarakat melalui pendekatan budaya dan literasi.

Lesbumi Jepara sendiri selama ini juga memiliki kajian rutin, di antaranya di Karimunjawa setiap peringatan Maulid Nabi serta di Mantingan, tepatnya di makam Ratu Kalinyamat. 

Kegiatan tersebut menjadi sarana refleksi sejarah dan penguatan nilai perjuangan para leluhur.

“Ini adalah bagian dari upaya bagaimana ruh perjuangan Ratu Kalinyamat dan para pahlawan bisa terimplementasi dalam kehidupan masyarakat hari ini. Kolaborasi ini bersama Forum Taman Baca Masyarakat agar ini menjadi gerakan bersama, tentu dukungan Bu Rerie juga sangat penting,” kata Hisyam.

Baca Juga: Mantap! Kejari Jepara Raih Satker Terbaik Bidang Intelejen serta Pemulihan Aset dan Pengelolaan Barang Bukti di Rakerda Kejati Jateng 2025

Menurutnya, Bu Rerie juga berperan penting dalam penatapan Ratu Kalinyamat menjadi pahlawan nasional. Termasuk pengupayaan Pendapa Kabupaten Jepara menjadi Museum Kartini 

Ia juga menyinggung konsep “Pedagogy of Hope” dari Paulo Freire, yakni pendidikan yang berpengharapan. 

Menurutnya, kegiatan budaya seperti ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana pendidikan dan produksi pengetahuan yang membangun kesadaran kolektif masyarakat.

“Kami mohon dukungan semua pihak agar kegiatan seperti ini bisa terus berlangsung. Apa yang kita lakukan hari ini adalah warisan untuk anak cucu kita,” tegasnya.

Pagelaran wayang dan kentrung ini menjadi bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki ruang hidup di tengah masyarakat modern, asalkan dikemas secara kreatif dan melibatkan generasi muda. 

"Dengan antusiasme yang tinggi, kegiatan ini bisa menjadi langkah awal menuju Jepara sebagai pusat literasi dan budaya, sekaligus melahirkan generasi yang beradab, berakar pada nilai leluhur, dan siap menghadapi tantangan zaman," pungkasnya.(fik)

Editor : Ali Mustofa
#jepara #Wayang santri #kentrung #seni budaya #MPR RI