JEPARA – Upaya mengungkap misteri kematian Axsyal Rendy Saputra, pemuda 24 tahun asal Dukuh Sekuping, Desa Tubanan, terus dilakukan oleh Polres Jepara.
Untuk memperdalam penyelidikan yang sejak awal dinilai penuh kejanggalan, penyidik kini memeriksa enam saksi tambahan agar dapat mendapatkan keterangan penting terhadap rangkaian peristiwa sebelum korban ditemukan tewas.
Sebelumnya, pihak kepolisian juga telah melakukan pemeriksaan terhadap enam saksi lainnya.
Saat dikonfirmasi pada Jumat (12/12), Kasatreskrim Polres Jepara AKP M Faizal Wildan Umar Rela menyebut, tambahan enam saksi itu meliputi orang terdekat korban.
Di antaranya anggota keluarga termasuk nenek korban, serta beberapa teman korban yang sempat berinteraksi sebelum peristiwa nahas terjadi.
Pihaknya masih melakukan proses klarifikasi. Semua keterangan nantinya akan dicocokkan dan didalami.
Pemeriksaan lanjutan ini dilakukan karena situasi kasus masih dianggap 'abu-abu'.
Meski setidaknya sudah hampir dua pekan berlalu sejak korban ditemukan pada Minggu (30/11) di kebun rumput gajah, polisi bekerja secara hati-hati dan tidak terburu-buru untuk memastikan penyebab pasti kematian.
Berbagai kemungkinan masih terbuka, sehingga penyidik perlu menggali informasi lebih luas dari lingkungan terdekat korban.
Saat ditemukan, korban ditemukan dalam kondisi terlentang dan bersimbah darah. Sejumlah luka yang diduga akibat benda tajam tampak jelas di tubuhnya.
Pada bagian leher terdapat luka sayat sepanjang 13 sentimeter dengan lebar 6 sentimeter.
Di pergelangan tangan kiri ada luka iris sepanjang 6 sentimeter dan lebar 3 sentimeter, sementara dada korban menunjukkan luka iris dangkal.
Polisi memastikan bahwa luka di leher menjadi penyebab utama kematian karena mengenai nadi dan batang leher, sehingga memicu pendarahan hebat.
Pihaknya menampik spekulasi liar yang beredar di media sosial, belum ada pelaku yang ditangkap. Pihak kepolisian pun belum memutuskan almarhum merupakan korban pembunuhan ataupun bunuh diri.
Sebagai langkah investigasi tambahan, sebelumnya kepolisian juga telah menurunkan anjing pelacak ke lokasi kejadian.
Proses pelacakan dilakukan dari titik korban ditemukan hingga beberapa area yang diduga berkaitan. Namun, hasil pelacakan masih memunculkan pertanyaan besar.
“Anjing pelacak menelusuri TKP 1 dan TKP 2, lalu balik lagi ke rumah (korban, red),” jelas AKP Wildan.
Hal tersebut membuat penyidik harus melakukan verifikasi berulang, termasuk meminta keterangan pada saksi-saksi.
Hingga kini, polisi masih menunggu hasil pemeriksaan Bidlabfor Polda Jawa Tengah untuk mengetahui karakter luka lebih rinci, dan faktor kematian secara jelas.
Sekalipun telah ditemukan dua jenis pisau dapur dengan bercak darah.
Di tengah informasi liar yang beredar di media sosial, AKP Wildan mengimbau masyarakat agar tidak sembrono menyebarkan informasi.
Ia meminta warga tidak tergesa-gesa membuat asumsi tanpa data, apalagi menyebarkan hoaks yang dapat menyesatkan dan menghambat penyelidikan.
“Saat ini proses klarifikasi sedang berjalan. Jangan sampai ada yang membuat keterangan atau asumsi yang tidak tepat,” tegasnya.
Pihaknya berharap titik terang bisa segera muncul. Hingga berita ini ditayangkan, tim penyidik terus bekerja memadukan temuan lapangan, menunggu hasil laboratorium, serta keterangan para saksi untuk mengungkap misteri kematian pemuda 24 tahun asal Sekuping tersebut.(fik)
Editor : Ali Mustofa