Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ratusan Anak Serbu Museum Kartini Jepara! Maestro Muhyuri Hidupkan Lagi Memedhen Gadhu Warisan Leluhur

Fikri Thoharudin • Kamis, 11 Desember 2025 | 23:39 WIB
ANTUSIAS: Maestro Pembuat Memedhen Gadhu Muhyuri ajari anak-anak membuat boneka jerami di Museum Kartini pada Kamis (11/12).
ANTUSIAS: Maestro Pembuat Memedhen Gadhu Muhyuri ajari anak-anak membuat boneka jerami di Museum Kartini pada Kamis (11/12).

JEPARA – Suasana Museum Kartini Jepara mendadak riuh pada Kamis (11/12) ketika ratusan pengunjung dari berbagai satuan pendidikan berkumpul mengikuti lokakarya pembuatan boneka jerami Memedhen Gadhu. 

Ini menjadi salah satu kegiatan pembuka dalam serangkaian Semarak Museum RA Kartini di Jepara (Semuria) yang terselenggara pada Kamis-Jumat (11-12/12) di kompleks Museum.

Di samping itu, kegiatan lokakarya tersebut menjadi bagian dari permulaan Festival Memeden Gadhu 2026, sekaligus ajang mengenalkan kembali tradisi agraris yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia tahun 2025.

Di tengah kerumunan, Maestro pembuat Memedhen Gadhu, Muhyuri, 75, tampak telaten memperagakan cara merangkai rangka bambu dan jerami hingga menyerupai sosok orang-orangan. 

Dengan sigap, ia menunjukkan cara membentuk jari, hidung, hingga detail tubuh lainnya. Anak-anak yang menonton dibuat terpukau, bahkan beberapa langsung memainkan boneka yang baru mereka buat sambil mendalang spontan tanpa naskah.

Muhyuri menjelaskan bahwa Memedhen Gadhu atau orang-orangan sawah, dibuat untuk mengusir burung dan tikus ketika padi mulai mrapu (menguning).

Biasanya boneka jerami itu ditancapkan di tiap sudut sawah, dilengkapi kaleng susu berisi batu yang jika tertiup angin menghasilkan bunyi untuk menakuti hama. “Kalau luas sawahnya kecil, biasanya dipasang sekitar dua puluhan memedhen,” ujarnya.

Pada saat yang sama, Pemuda Desa Kepuk, Joko Jafar Shodiq, 30, menambahkan bahwa Memedhen Gadhu telah lama menjadi ikon kebanggaan warga. Utamanya dalam balutan festival.

Tradisi ini berasal dari proses mengkreasikan dami (jerami) padi gadu yang ditanam pada musim kemarau. Menggambarkan siklus tanam warga yang bisa berlangsung dua hingga tiga kali setahun. 

Pada puncak festival yang digelar setiap Senin Pahing di bulan Apit, (April 2026 mendatang) seluruh warga membuat memedhen dan memasangnya berjejer dari ujung barat hingga selatan, khususnya RT 3 dan RT 4 Desa Kepuk.

“Harapannya, anak muda tetap mencintai warisan leluhur dan budaya ini tidak hilang,” katanya.

Dijelaskan lebih lanjut, festival tersebut nantinya juga akan menghadirkan pameran instalasi sekitar 1000 memedhen yang dipasang keliling kampung, menjadi simbol kedekatan masyarakat dengan tradisi bertani. 

Termasuk tari kolosal yang diperankan 80 penari dari berbagai usia, serta pagelaran seni tradisi seperti wayang, emprak, dan kesenian lokal lainnya.

Tak hanya seni pertunjukan, dalam festival nantinya juga digelar lokakarya dan 'njagong budaya' sebagai wadah belajar teknologi tradisional bagi anak-anak sekaligus ruang dialog perkembangan tradisi Jepara. 

"Puncak acara menghadirkan arak-arakan memeden dan tumpeng raksasa menuju punden leluhur sebagai wujud rasa syukur dan pengikat kebersamaan warga," ucapnya.

Di samping lokakarya pembuatan memedhen tersebut, di Museum Kartini pada Kamis (11/12) ratusan siswa juga mengikuti lomba mewarnai, mendengarkan dongeng, serta menyimak gelar wicara Taman Baca Jepara.

Pagelaran budaya pun semakin meriah dengan kehadiran Reog Encik Gronggong dari Desa Tanjung, serta pada malam harinya ditampilkan tari-tarian dari Sanggar Desa Kemujan Karimunjawa, Sanggar Hadipuran, hingga pentas Emprak Sidomukti.

Agenda Semuria ini diharapkan menjadi ruang besar untuk menjaga denyut tradisi Jawa, memperkuat identitas, dan histori daerah.

"Alhamdulillah kali ini lokakarya diwadahi oleh Museum Kartini, sehingga masyarakat umum juga bisa belajar proses pembuatan dan filosofinya," tandasnya.(fik)

 

Editor : Mahendra Aditya
#jepara #museum kartini #Memedhen Gadhu #wbtb #Budaya #Kepuk #seni