JEPARA - Upaya pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif di Pusat Daur Ulang (PDU) Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Karimunjawa terkendala keterbatasan suplai oli bekas.
Padahal, teknologi pirolisis yang digunakan untuk mengubah plastik menjadi bahan bakar setara solar atau petasol, membutuhkan hal tersebut.
Salah satu pegawai di TPA Karimunjawa, Indra, menjelaskan bahwa rata-rata sampah yang masuk ke lokasi mencapai 2,5 ton per hari.
Pengangkutan dilakukan dengan dua armada, yakni satu truk dan satu kendaraan tosa. Dari jumlah itu, sebagian berupa sampah plastik yang telah terpilah diolah menjadi bahan bakar alternatif
Teknologi ini bekerja dengan memanaskan plastik tanpa oksigen hingga menghasilkan bio-oil yang kemudian disuling menjadi bahan bakar layak pakai untuk mesin diesel.
Hal ini menjadi solusi penanganan sampah plastik, pengolahan melalui mesin pirolisis juga berfungsi ganda menyediakan energi terbarukan.
Teknologi ini telah teruji dan dimanfaatkan di sejumlah daerah, termasuk di Karimunjawa. "Kalau di sini (Karimunjawa, Red) kurang bahan pendukung berupa oli bekas yang menjadi medium proses pemasakan plastik belum bisa terpenuhi," sebutnya.
Indra menyebutkan, untuk memproses 30 hingga 50 kilogram plastik diperlukan sekitar 20-an oli bekas. Dari proses tersebut, hasil bahan bakar yang diperoleh hanya sekitar 9 liter. Kondisi itu membuat kegiatan produksi petasol belum dapat optimal.
Menurutnya, selama ini sumber oli bekas masih sangat minim, sehingga mesin pirolisis belum dapat dioperasikan secara rutin. Padahal, kapasitas sampah plastik yang masuk cukup memungkinkan untuk dilakukan pengolahan lebih intensif dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara, Rini Patmini, membenarkan bahwa proses produksi petasol di Karimunjawa masih dalam tahap adaptasi.
Rini menambahkan, selain keterbatasan plastik yang dapat diolah secara terpisah, pasokan bahan bakar seperti oli bekas memang menjadi persoalan yang harus segera dibenahi.
DLH berencana mendorong penampungan oli bekas dari berbagai sumber sebagai langkah awal pemenuhan kebutuhan pengoperasian alat.
Ia mencontohkan beberapa daerah, seperti di Banjarnegara, yang menggunakan kayu sebagai bahan pemanas dalam proses pirolisis. Namun opsi tersebut masih perlu dikaji lebih lanjut mengingat kondisi di Karimunjawa berbeda dan membutuhkan penyesuaian.
DLH, lanjut Rini, akan berkoordinasi dengan pihak TPA Karimunjawa terkait kebutuhan oli serta intervensi terhadap peningkatan kualitas pengelolaan sampah yang masuk.
Pihaknya juga ingin, sebagai kawasan wisata unggulan, pengelolaan sampah di Karimunjawa dapat dilakukan lebih maksimal mulai dari tingkat rumah tangga.
"Pemilahan sampah amat penting agar proses pengolahan menjadi lebih efektif, baik untuk sampah organik melalui kompos maupun anorganik yang memiliki nilai ekonomis," katanya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya