JEPARA - Kecamatan Welahan menyimpan kekayaan kultural dan historis tersendiri. Ditinjau dari multikulturalisme dan perdagangan di masa lampau, warisan sejarah tersebut mencakup pengaruh budaya Tionghoa dan Jawa yang kuat.
Camat Welahan Suhadi, memaparkan berbagai rencana pengembangan kawasan Pecinan Welahan sebagai pusat kuliner, wisata, dan sentra UMKM modern.
Suhadi menyebutkan bahwa kawasan kelenteng menjadi titik penting dalam pengembangan wisata. Di samping itu, kelenteng tersebut memiliki catatan sejarah, termasuk jejak Ibu Kartini yang pernah berobat di sana setidaknya pada kurun waktu tahun 1902-an.
Pengembangan ini juga diselaraskan dengan visi-misi Bupati Jepara yang menekankan peningkatan kapasitas UMKM.
Suhadi menambahkan, rencana jangka panjang mencakup penyediaan 40 hingga 50 kamar penginapan untuk menampung tamu yang setiap hari dapat berdatangan.
Pihaknya juga menyampaikan bahwa Welahan memiliki sejumlah makanan khas yang menjadi daya tarik tersendiri, seperti pecel semanggi, sego goreng babat, hingga aneka jajanan tradisional.
Ia menyebut, bahwa dalam skop kecamatan sendiri memiliki potensi UMKM berupa kerajinan rotan di Telukwetan dan kerajinan mainan anak-anak di Karanganyar.
Selain UMKM, sektor pertanian juga menjadi perhatian. Suhadi memaparkan keberadaan Blimbing Jinggo dari Desa Ketilengsingolelo. Saat ini terdapat 1.000 pohon yang sudah mulai panen, ditambah 5.000 bibit yang dianggarkan DKPP serta 3.000 bibit jambu air. Tahun 2026 direncanakan penyaluran 12 ribu bibit pisang ke 15 desa.
“Prediksinya, nanti orang mau makan buah itu susah. Karena yang di pasaran sudah diambil SPPG MBG. Makanya kami siapkan juga dari petani lokal,” jelasnya.
Hal tersebut ditujukan untuk mendukung pemenuhan pangan dan membantu petani Welahan bersaing tanpa harus bergantung pada Demak, Kudus, Lampung, atau Jawa Timur.
Dalam penguatan UMKM, Suhadi memaparkan alokasi anggaran sebesar Rp 800 juta pada APBD 2025 untuk pembangunan showroom di sekitar Tugu Macan Kurung.
"Pembangunan empat showroom produk unggulan seperti blimbing Jinggo, roti Desa Bugo, kerajinan mainan Karanganyar, serta kerajinan rotan dari Telukwetan. Anggaran Rp 150 juta dialokasikan untuk memperbarui area kamar mandi dan toilet. Sementara di sisi kanan, pihak kecamatan bekerja sama dengan Djarum Foundation untuk membangun taman kota lengkap dengan fasilitas cuci tangan," sebutnya.
Kendati demikian, kelenteng yang juga merupakan salah satu cagar budaya juga akan dikembangkan menjadi destinasi wisata utama.
Walau Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor ini belum terlihat besar, menurut Suhadi, UMKM yang berkembang akan menciptakan perputaran ekonomi yang kuat.
"PAD bisa masuk dari parkir, retribusi pasar, dan aktivitas wisata kelenteng. Karena itu pemerintah perlu membantu menyiapkan infrastruktur dasar seperti perbaikan jalan dan saluran. Itu kewajiban pemerintah untuk memberikan akses,” tegasnya.
Seluruh program pembangunan ini ditargetkan berjalan hingga 2028 dan dievaluasi pada 2029.
"Usulan anggaran sudah disiapkan mulai 2026–2028, termasuk rencana pembangunan showroom blimbing dan fasilitas UMKM lain. Anggaran tiap kotak pembangunan diperkirakan Rp200 juta. Pemilihan lokasi showroom pada jalur nasional dinilai strategis karena mudah dijangkau pengunjung maupun pembeli," terangnya.
Ia juga menyampaikan bahwa setiap tamu bupati dari luar daerah akan diberikan blimbing Jinggo sebagai buah tangan. Termasuk rapat-rapat pemerintahan bisa disediakan snack dari hal tersebut.
Ke depan, kawasan ruko yang ada juga akan dipercantik dengan cat berwarna merah, kuning, dan hitam sebagai identitas visual Pecinan Welahan. Suhadi menegaskan bahwa konsep utamanya adalah bekerja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. “Yang dibutuhkan apa, kami penuhi,” pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya