JEPARA — Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Jepara mengadakan kegiatan Orientasi Pengasuhan Positif dan Komunikasi Efektif Orang Tua dengan Remaja bagi Kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) serta Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R), Jumat (28/11).
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Quick Win Kemendukbangga sekaligus peringatan Hari HIV/AIDS Sedunia yang diperingati setiap 1 Desember.
Kepala DP3AP2KB Jepara Mudrikatun, membuka kegiatan dengan menegaskan pentingnya peran keluarga, komunitas, dan ekosistem sosial dalam membentuk karakter remaja.
Ia mengingatkan bahwa pengasuhan yang tepat dan komunikasi yang sehat memainkan peran besar dalam pencegahan perilaku berisiko, termasuk risiko penularan HIV pada kelompok usia muda.
Melalui orientasi ini, pihaknya berharap sinergi komunitas remaja, keluarga, dan lembaga layanan semakin kuat dalam menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan bebas stigma bagi anak dan remaja Jepara.
Hadir sebagai narasumber pertama, Dian Ratih Saptasari selaku Psikolog RSUD Kartini Jepara. Ia memaparkan materi tentang 'Komunikasi Positif Orang Tua dan Remaja.'
Pihaknya juga menekankan bahwa relasi yang aman, empati, serta komunikasi dua arah adalah kunci pengasuhan yang efektif.
“Remaja membutuhkan ruang aman untuk didengar. Ketika orang tua menghadirkan empati dan komunikasi terbuka, banyak risiko bisa dicegah sejak dini,” jelasnya.
Aktivis Ajak Remaja dan Keluarga Tingkatkan Kesadaran HIV & AIDS
Materi kedua disampaikan oleh Jeanette S. Listiyani sebagai Aktivis Per.empuan dan Anak sekaligus SSK LPSK Jawa Tengah wilayah Jepara.
Dalam sesi bertajuk “HIV & AIDS Awareness: Empati, Pengetahuan, dan Aksi”, ia menyoroti pentingnya edukasi yang benar, tidak diskriminatif, serta ramah remaja.
Jeanette menegaskan bahwa isu HIV tidak hanya menjadi tanggung jawab remaja, tetapi juga bagian dari tugas keluarga dan masyarakat.
“Remaja dan keluarga harus bergerak bersama. Kita semua punya tanggung jawab memahami HIV dengan benar, melindungi hak anak, dan menghentikan stigma yang masih menyakiti banyak korban,” jelasnya.
Menurutnya, edukasi yang tepat akan membantu remaja mengambil keputusan sehat, mencegah penularan HIV, serta memperlakukan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) tanpa stigma.
Dalam paparannya, Jeanette membeberkan situasi HIV di Kabupaten Jepara. Data resmi DKK Jepara menunjukkan estimasi 1.685 ODHIV sejak 1997 hingga 2024.
Dari jumlah tersebut, 1.115 orang telah mengetahui status HIV-nya. 646 orang menjalani pengobatan di fasilitas kesehatan.
Lalu 269 orang telah melakukan tes viral load. 240 orang di antaranya dinyatakan tersupresi (virus tidak terdeteksi).
Temuan kasus, termasuk pada kelompok usia muda, menjadi pengingat bahwa edukasi lintas generasi sangat dibutuhkan.
Ditegaskan bahwa menegaskan bahwa kelompok BKR, PIK-R, dan Forum GenRe (ForGen) adalah garda terdepan dalam menyebarkan informasi kesehatan reproduksi yang akurat.
Memberikan pendampingan sebaya. Membangun komunikasi efektif antara remaja dan keluarga. Serta menguatkan pemahaman tentang HIV dan pentingnya tes secara sukarela (VCT).
Kegiatan ini ditutup dengan penyematan pita merah kepada perwakilan peserta sebagai simbol komitmen bersama dalam memerangi stigma HIV/AIDS dan mendukung ODHIV.
"Hidup selalu lebih besar dari stigma. Dengan empati, pengetahuan, dan aksi kecil, kita dapat melindungi diri sendiri, keluarga, dan orang-orang di sekitar," pungkas Jeanette.(fik)
Editor : Zainal Abidin RK