JEPARA - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara bersama tim peneliti UNISNU Jepara yang dipimpin oleh Dr. Mayadina Rahmi Musfiroh, MA, menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) bertajuk Strategi Membumikan Ekoteologi dalam Pengelolaan Sampah dari Sudut Pandang Berbagai Agama dan Komunitas Sosial pada Jumat, 21 November 2025, bertempat di Aula DLH Jepara Lantai 3.
Kegiatan ini menghadirkan tokoh lintas agama, akademisi, komunitas pengelola sampah, serta perwakilan pemerintah daerah.
Acara ini dipandu oleh Zahrotun Nafisah, Lc., M.H.I. dosen Fakultas Syariah dan Hukum dan diselenggarakan untuk menggali gagasan-gagasan strategis berbasis nilai keagamaan dan kearifan sosial dalam menghadapi persoalan sampah yang semakin kompleks.
Acara ini diawali paparan hasil riset oleh Mayadina Rohmi Musfiroh, dosen Fakultas Syariah dan Hukum, dimana pendekatan agama dan praktiknya dalam kehidupan menjadi salah satu dimensi penting yang perlu dieksplorasi untuk mengatasi problem minimnya kesadaran Masyarakat dalam pengelolaan sampah.
Ekoteologi hadir sebagai upaya reinterpretasi teks suci untuk membangun kesadaran ekologis dari Islam, Kriten, Hindu dan Budha.
Dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang Pentingnya Menjaga Lingkungan dan Isu-isu Lingkungan Hidup Saat ini yang dipaparkan langsung oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara Ibu Rini Patmini, A.P. Beliau menjelaskan bahwa sampah menjadi isu penting yang mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah khususnya Bupati Jepara.
Dalam forum ini turut hadir Faris dari Jepara Green yang mengingatkan pentingnya mempertimbangkan ulang penggunaan pendekatan digital dalam kampanye lingkungan.
Ia menegaskan bahwa tidak semua anak muda unggul dalam penggunaan teknologi: “Tidak semua generasi muda paham teknologi meskipun mereka hidup di era digital. Pengalaman pandemi menunjukkan bahwa banyak dari mereka justru kesulitan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan natural lebih relevan bagi generasi muda saat ini. “Anak muda sekarang jenuh dengan media sosial. Mereka lebih tertarik pada aktivitas lingkungan yang langsung, seperti kegiatan membersihkan pantai,” terang Faris.
Bapak M. Khanif Zyen sebagai tim peneliti dosen Fakultas Sains dan Teknologi menambahkan perlunya memperkuat hierarki pengelolaan sampah dari Reduce, Reuse, Recycle, Recovery hingga Residu dan memasukkan edukasi ini dalam kegiatan akademik, sosial maupun keagamaan.
Rahmanto, Tokoh agama Budha menyoroti keterhubungan antara manusia dan alam.
Ia menyampaikan, “Dalam ajaran kami, semua makhluk saling bergantungan. Merusak alam berarti merusak diri sendiri,” Ia menegaskan pentingnya pendidikan lingkungan sejak usia dini sebagai bagian dari pembentukan karakter ekologis.
Sementara itu, Pak Kisruh mengangkat prinsip moral dasar yang relevan dengan pengelolaan sampah.
“Ada tiga hal utama: jangan berbuat jahat, tambahlah kebaikan seperti membuang sampah pada tempatnya, dan sucikan diri dengan bersikap bijak terhadap sampah,” ujarnya.
Pandangan lebih kritis disampaikan Pak Danang, yang menegaskan bahwa masalah sampah bersumber dari nilai dan ideologi konsumsi masyarakat.
“Masalah sampah bukan hanya teknis. Ini pertarungan nilai antara gaya hidup konsumtif dan nilai hidup sederhana,” jelasnya.
Ia juga menyoroti perlunya penggunaan bahasa teologis dalam kampanye lingkungan, antara lain konsep “dosa ekologis dan penebusan ekologis.”
Dari sisi praktisi, Pak Anis Rahman dari Bank Sampah Jepara menyoroti rendahnya budaya pemilahan sampah di masyarakat.
“Yang paling sulit itu masyarakatnya sendiri. Mayoritas masih memakai satu tempat sampah untuk semua jenis,” ungkapnya. Ia menekankan perlunya edukasi berkelanjutan, terutama bagi anak sekolah, serta menghubungkan pengelolaan sampah dengan ajaran keagamaan melalui fiqih lingkungan.
Sementara itu, Pak Firman Muhammad memaparkan program inovatif “Tabung Sampah Tukar Makan, yang memungkinkan masyarakat menukar sampah dengan sembako atau jajanan. Anak-anak senang membawa sampah dari rumah untuk ditukar jajan. Ini cara efektif menanamkan kebiasaan sejak dini,” jelasnya.
Namun demikian, ia mencatat kurangnya dukungan regulasi dan minimnya partisipasi perangkat desa.
”TPA sudah penuh sejak 2016, tapi regulasi belum cukup kuat,” tambahnya.
Fauzan dari Environment Institute menambahkan analisis filosofis dan kebahasaan mengenai sampah serta merekomendasikan mengganti narasi kampanye dari "Buanglah Sampah" menjadi "Cegah Sampah" atau "Kelola Sisa Anda", serta mengubah istilah TPA menjadi "Tempat Pemrosesan Akhir" atau "Pusat Daur Ulang" dan integrasi kurikulum ekoteologi di sejumlah Lembaga Pendidikan.
FGD yang berlangsung selama 4 jam menghasilkan sejumlah rekomendasi, antara lain:
⦁ Penguatan edukasi lingkungan berbasis nilai agama di tempat ibadah dan komunitas keagamaan.
⦁ Penerapan SOP pengelolaan sampah pada setiap kegiatan sosial, pendidikan, dan keagamaan.
⦁ Kolaborasi inter dan antar agama dan komunitas untuk memperluas gerakan peduli lingkungan.
⦁ Advokasi kepada pemerintah daerah untuk memperkuat regulasi, sanksi, dan penegakan hukum terkait pengelolaan sampah.
⦁ Peningkatan partisipasi individu dimulai dari kebiasaan memilah dan mengurangi sampah di rumah.
⦁ Integrasi Kurikulum Ekoteologi: Lembaga pendidikan dan keagamaan harus mengajarkan pengelolaan sampah sebagai indikator keimanan.
⦁ Penerapan Ekonomi Sirkular: Mendorong kebijakan Extended Producer Responsibility untuk memaksa industri bertanggung jawab atas kemasan dan meruntuhkan mitos "sekali pakai
Forum Group Discussion ditutup oleh Ibu Rini dengan menegaskan bahwa pengelolaan sampah bukan semata isu teknis, tetapi merupakan tanggung jawab moral dan spiritual.
Slogan “Sampahku Tanggung Jawabku, Kebersihan adalah Investasi Masa Depan” disepakati sebagai pesan kunci gerakan bersama untuk mewujudkan Jepara yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Editor : Mahendra Aditya