Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Lestari Moerdijat: Jepara Sedang Menulis Ulang Sejarah Perempuan yang Lebih Jernih dan Adil

Fikri Thoharudin • Sabtu, 29 November 2025 | 23:31 WIB
PEDULI: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat bersama dengan Sejarawan Peter Carey tengah berdiskusi di Pendapa Museum Kartini Jepara pada Sabtu (29/11).
PEDULI: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat bersama dengan Sejarawan Peter Carey tengah berdiskusi di Pendapa Museum Kartini Jepara pada Sabtu (29/11).

JEPARA – Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan pentingnya mengangkat kembali jejak perjuangan perempuan Jepara, khususnya RA Roekmini.

Dalam Seminar Kebangsaan bertajuk “Menggali RA Roekmini Sang Patriot Pendidikan dari Jepara” pada Sabtu (29/11) di Pendapa Museum Kartini.

Kegiatan tersebut digelar sehari setelah ia menyaksikan pertunjukan kentrung dan dramaturgi bertema Semanggi Berdaun Tiga pada Jumat (28/11) malam di Desa Langon, Tahunan, yang mengisahkan tiga bersaudara Kartini, Kardinah, dan Roekmini.

Dalam paparannya, Lestari menyampaikan bahwa nama Roekmini seringkali masih terlupakan. 

“Ada nama jalan, tetapi siapa dirinya? Belum banyak yang tahu,” ujarnya. 

Karena itu, sebutnya, seminar ini ditujukan untuk mengangkat kembali sosok Roekmini agar publik memahami peran besar yang pernah diembannya.

Seminar sendiri dipantik oleh Sejarawan Peter Carey, penulis Melissa Sunjaya, Dekan FIB Undip Semarang Alamsyah, serta Antropolog Idham Bachtiar Setiadi.

Menurut Lestari, Jepara bukan sekadar tempat lahirnya Kartini, tetapi merupakan titik awal gerakan pendidikan perempuan di Indonesia. 

“Kita berkumpul di sini bukan hanya di dalam pendopo yang kemudian menjadi Museum Kartini. Di sini Kartini, Kardinah, dan Roekmini bermimpi, berdiskusi, dan berani membuat gagasan-gagasan besar,” tegasnya.

Gagasan besar tersebut pada masanya dianggap aneh, tabu, bahkan melanggar tatanan. Tetapi ketiga perempuan itu hadir melawan tekanan, kesunyian, dan tradisi yang membelenggu. “Jepara adalah awal dari kebangkitan perempuan Indonesia yang tidak boleh dilupakan dari sejarah kita,” lanjutnya.

Ia menegaskan bahwa lebih dari satu abad sejarah Indonesia cenderung menempatkan perjuangan perempuan sebagai upaya melawan domestifikasi. Padahal, gagasan mereka justru jauh melampaui zamannya, membebaskan pikiran, membangun pendidikan, dan meletakkan dasar-dasar kemerdekaan bangsa.

Lestari menyebut Kartini adalah konseptor. Sementara Roekmini adalah eksekutor, organisator dan pengelola sekolah.

Ketika Kartini diboyong sang suaminya ke Rembang. Kardinah juga diboyong suaminya, Ario Reksonegoro X (yang diangkat menjadi Bupati Tegal pada tahun 1908-an).

Roekmini-lah yang menetap di Jepara dan mengelola sekolah. Ia menjalankan pendidikan yang menjadi pondasi awal gerakan emansipasi perempuan di wilayah ini. Inilah mengapa kisah Roekmini perlu digaungkan kembali.

“Perjuangan perempuan ini harus digarisbawahi. Hari Kartini misalnya, bukan hanya soal berkebaya, tapi bagaimana mengingat kembali perjuangan mereka untuk memberikan kesempatan untuk bangkit,” ucapnya.

Ia menilai buku Roekmini van Jepara yang disusun Melissa Sunjaya dan Peter Carey membuka ruang keadilan historis dan menjadi bentuk penghargaan terhadap perempuan yang bekerja dalam kesunyian, namun kontribusinya sangat besar.

ANTUSIAS: Sejarawan Peter Carey tengah memantik diskusi dalam seminar kebangsaan yang mengusung tema sosok Roekmini.
ANTUSIAS: Sejarawan Peter Carey tengah memantik diskusi dalam seminar kebangsaan yang mengusung tema sosok Roekmini.

Terkait difungsikannya pendapa sebagai Museum Kartini, Lestari menegaskan bahwa Jepara perlu mengembalikan momentum ini untuk menunjukkan bahwa kota ini adalah tempat perjuangan perempuan. 

Ia menyebut bahwa upaya Pemkab Jepara sejatinya merupakan bentuk “membangunkan memori kolektif” bahwa perempuan Jepara sudah memimpin jauh sebelum Kartini, Kardinah, dan Roekmini lahir, termasuk sosok Ratu Kalinyamat.

“Pendapa yang menjadi museum ini adalah saksi bagaimana pendidikan menjadi arena penting bagi perempuan,” ungkapnya. 

Ia menegaskan bahwa museum tidak boleh hanya menjadi tempat kunjungan wisata atau sekadar menyimpan koleksi, melainkan ruang pengetahuan dan ruang kesadaran identitas, terutama untuk memahami perjuangan tiga bersaudara ini sebagai cara memerdekakan diri.

Lestari mendorong agar Museum Kartini dikembangkan sebagai pusat studi perempuan. Transformasi ini, menurutnya, sudah dimulai sejak bangunan tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya beberapa tahun lalu dan pada 15 November 2025 diresmikan menjadi museum oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

“Jepara sedang menulis ulang sejarahnya menjadi lebih tepat, jernih, dan adil gender,” ujarnya. 

Seminar ini juga bagian dari upaya mengembalikan catatan-catatan yang hilang, memaknai perjuangan Roekmini, serta menyambungkan kembali benang yang terputus dari sejarah perempuan Jepara.

Ia menambahkan bahwa masih banyak masyarakat, bahkan guru sejarah di Jepara sekalipun, yang belum memasukkan tokoh seperti Roekmini dalam kajian ataupun pembelajaran. Karena itu ia mengimbau agar tokoh-tokoh perempuan Jepara dapat dimasukkan dalam kurikulum pendidikan.

Lestari menutup dengan pesan bahwa Kartini, Kardinah, dan Roekmini adalah perempuan pembuka cakrawala. Mereka bagian penting dari pengarusutamaan gender yang memungkinkan bangsa ini berdiri kokoh.

“Jepara dulunya adalah api perubahan yang dinyalakan dan tidak pernah padam. Tugas kita menjaga api itu,” tegasnya.

Dengan mengembalikan kisah Roekmini dan dua saudarinya, Jepara tidak sekadar merawat sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali semangat perjuangan perempuan yang visioner, melampaui zaman, dan telah memberi fondasi bagi lahirnya pendidikan dan kemerdekaan bagi jutaan perempuan Indonesia.

Sementara itu, sejarawan Peter Carey menegaskan bahwa RA Roekmini merupakan sosok perempuan perkasa yang perannya selama ini kurang mendapat sorotan. 

Ia menggambarkan Roekmini sebagai perempuan yang tidak hanya berjuang dalam ruang pendidikan, tetapi juga memiliki kekuatan luar biasa dalam mengelola sekolah.

"Bagi saya itu tingkah laku heroik, sekalipun tidak menunggang kuda,” ujarnya. 

Ia menilai bahwa keberanian dan keteguhan sikap Roekmini justru hadir dalam bentuk yang lebih sunyi, lebih dalam, tetapi sangat monumental.

Ia menambahkan, perjuangan Roekmini layak dituliskan lebih panjang melalui buku-buku, penelitian serius, dan film dokumenter agar dapat menggugah hati masyarakat. 

Baginya, cara terbaik memulihkan jejak perempuan yang terlupakan adalah dengan menghadirkannya kembali melalui karya-karya ilmiah dan produk budaya yang dapat diakses generasi masa kini.

Peter Carey kemudian menyimpulkan sosok Roekmini dalam satu kata, “Perkasa!" (fik)

Editor : Mahendra Aditya
#jepara #kartini #museum kartini #kardinah #Roekmini #cagar budaya #Peter Carey