KOTA tanpa museum ibarat hutan beton yang kehilangan jiwa. Di tempat seperti itu, masyarakat hanya hidup dalam potongan waktu masa kini, tercerabut dari budaya dan leluhur mereka.
Namun Jepara memiliki jalan berbeda. Di pusat kota, eks Pendapa dan Rumah Dinas Bupati kini bertransformasi menjadi Museum Kartini yang baru. Menjadi ruang ziarah intelektual yang menghidupkan kembali ruh pemikiran RA Kartini.
Jepara, yang sejak lama dikenal sebagai bagian dari kiblat literasi dan perjuangan perempuan, akhirnya memiliki sebuah museum yang bukan hanya menampilkan benda-benda masa lalu, melainkan menyajikan pengalaman belajar yang hidup, reflektif, dan penuh kejutan.
Kurator dari Komunitas Rumah Kartini, M. Afif Isyarobi, menyebutkan inisiasi museum ini sebagai ruang narasi yang utuh. Setiap ruang disusun layaknya perjalanan intelektual Kartini, dari biografi, pemikiran emansipasi, hingga semangat seni dan berkebudayaan.
“Apa yang menarik dari museum ini? Semuanya,” ujarnya pada Jumat (28/11).
Pihaknya menyebutkan, Museum Kartini patut dikunjungi karena menampilkan data, arsip, narasi, sampai tata ruangnya yang penuh makna.
"Kami dibantu Leiden University untuk menampilkan data-datanya," sebutnya.
Pengalaman berpemandu di museum ini bahkan bisa membutuhkan waktu 1,5 hingga 2 jam. Pengunjung diajak menyelami alam pikiran Kartini sekaligus memahami bagaimana Jepara dikelola melalui arsip-arsip yang mendetail. “Dari Museum ini kita akan belajar bahwa sejarah bukan untuk dihapalkan, tapi dimaknai," tegas Afif.
Ia menjanjikan bahwa museum ini akan terus berkembang, dengan data terbaru dan kejutan-kejutan yang telah disiapkan.
Diharapkan, Museum Kartini kelak menjadi museum maupun cagar budaya nasional. Ruang edukasi yang membuat anak cucu, generasi masa mendatang, mampu merasakan keutuhan sejarah Jepara.
"Dari ruang depan sampai belakang, bagaimana data yang disampaikan berisi informasi yang update, museum bukan jadi ruang yang horor. Rencana kami ke depan bagaimana kemudian menghidupkan museum dengan event yang melibatkan anak muda," ujarnya.
Menurutnya, Kartini pun telah meneladankan, menyertakan sumber inspirasi yang melampaui zaman. "Masih relevan konteks pemikirannya. Dengan begitu kita tidak diracuni oleh drakor, dracin. Kita bisa mengenal diri kita sendiri. Lebih mengenal budaya kita sendiri, bukan budaya dari luar. Tahu cara berbudaya dan berkesenian," jelasnya.
Kurator lainnya, Susindra, menekankan bahwa tema utama museum untuk saat ini adalah literasi. Ia ingin museum menjadi rumah intelektual tempat pengunjung dapat merenung tentang perjalanan hidup Kartini singkat (25 tabun) namun mampu mengubah dunia.
“Setelah 25 tahun, kalau kita, mau jadi apa?” ucapnya melontarkan pertanyaan kepada para pengunjung.
Salah satu ruangan yang paling kuat adalah “Ruang Intelektual”, tempat dua memorandum penting Kartini dipamerkan.
Di sini ditampilkan replikasi surat resmi kepada Menteri Kolonial Belanda pada masa itu, mengenai pentingnya pendidikan bagi perempuan. Termasuk surat yang ditujukan pada Gubernur Jenderal kala itu, dengan nada lebih personal. Perjuangan pemenuhan atas hak masyarakat.
Kartini juga pernah membuka donasi publik pada pameran Den Haag, Belanda, tahun 1898. Ia juga bertekad untuk mendirikan sekolah perempuan, karena pada saat itu, baru ada sedikitnya 11 perempuan di seluruh Jawa dan Madura yang bersekolah.
“Kami ingin pengunjung menyadari bahwa mengenal sejarah adalah proses mengenal diri sendiri,” ujar Susindra.
Dengan pendekatan yang menyenangkan, ia berharap museum dapat memupuk nasionalisme generasi muda melalui tokoh-tokoh lokal yang hebat.
"Bisa membangun nasionalisme yang lebih kokoh. Kami ingin mereka (pengunjung) ke anaknya lebih banyak membicarakan orang-orang lokal yang hebat, itu nanti bisa memupuk nasionalisme," ringkasnya.
Di samping itu, keberadaan museum dapat menjadi sarana untuk memproduksi dan menggali ilmu pengetahuan.
"Harapannya daya literasi bisa naik, Jepara juga melahirkan penulis perempuan, Di sini sejak dulu ada banyak tokoh perempuan (Selain Kartini, juga ada Ratu Kalinyamat hingga Ratu Shima, Red). Kalau punya ilmu bisa jadi mitra penopang pembangunan," ucapnya.
Kepala Disparbud Jepara, Ali Hidayat, menegaskan bahwa museum baru ini berbeda dari museum lama yang bersifat umum. Museum Kartini di eks Pendapa ini dibuat khusus untuk memperkenalkan sosok Kartini secara lebih mendalam.
“Ini bisa menjadi pusat edukasi, pusat kreasi,” sambungnya.
Pemerintah daerah juga tengah menyiapkan website resmi Museum Kartini Jepara, agar wisatawan mancanegara dapat mengakses informasi sebelum berkunjung. Terlebih sebelum bertolak ke Karimunjawa dalam rute berwisatanya.
Sebagai bentuk apresiasi awal, hingga 1 Januari 2026, pengunjung bisa masuk ke Museum Kartini secara gratis. Pada pukul 13.00 hingga 17.00 juga dapat dipandu oleh kurator. Sehingga informasi yang didapatkan selama kunjungan dapat secara utuh.(fik)
Editor : Zainal Abidin RK