JEPARA - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh dua siswi dari MAN 1 Jepara. Kali ini tinta emas tersebut dituliskan dalam ajang Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2025) yang diselenggarakan pada 10–13 November lalu di Banten.
Dua putri daerah tersebut ialah, Dwi Marsa Salsabilatul Muna (XI F5) dan Salsabyla Alenta Thu Winanda (XI F2) yang berhasil mengharumkan nama Jepara di panggung nasional.
Guru pendamping, Syafriyanti Annur, tampak bangga. Senyumnya mekar ketika ditanya bagaimana proses kedua siswi asuhannya berhasil membubuhkan prestasi gemilang tersebut.
Pihaknya menjelaskan bahwa proses tersebut bukanlah hal yang dijalani dalam satu malam. Melainkan penuh dengan persiapan yang matang.
Disebutkan bahwa proposal riset keduanya berhasil menyisihkan setidaknya 9.000 proposal dari berbagai siswa-siswi khususnya madrasah se-Indonesia.
“Awalnya masuk 9.000 proposal, lalu diseleksi menjadi 30 besar dan akhirnya masuk 6 besar nasional,” ungkapnya Selasa (18/11).
Adapun riset yang mereka ajukan berangkat dari permasalahan nyata di Jepara, yakni dari tak sedikitnya industri mebel yang masih menggunakan solar sebagai bahan bakar.
Padahal, ketersediaan solar kian terbatas. Dari situ muncul gagasan untuk mengolah oli bekas menjadi energi alternatif pengganti solar, yang kemudian diuji coba pada mesin diesel.
“Itu idenya, bagaimana oli bekas dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif yang lebih efisien,” ringkasnya.
Lebih lanjut dijelaskan, proses penelitian berlangsung sejak Juli hingga Oktober, dilanjutkan dengan persiapan kompetisi sekitar dua bulan. Mulai dari penyusunan proposal hingga pelatihan di Banten sampai tahap grand final.
Syafri menambahkan bahwa ini bukan prestasi pertama bagi kedua siswinya tersebut. Sebelumnya, mereka juga meraih juara dalam lomba esai nasional di Universitas Brawijaya (UB).
“Madrasah dan para pembimbing selalu memberikan motivasi dan dukungan kepada para siswa agar tetap optimis. Yang terpenting adalah semangat, karena prestasi dapat menjadi jalan mereka untuk masuk perguruan tinggi melalui jalur prestasi,” terangnya.
Prestasi ini diharapkan mampu menjadi pemantik semangat bagi siswa-siswi lainnya.
Bagaimana kemudian, inovasi tidak harus lahir dari laboratorium besar, melainkan dari kepekaan melihat masalah di sekitar.
Upaya dua siswi ini membuktikan bahwa generasi muda Jepara mampu melahirkan solusi nyata yang relevan bagi masyarakat.
Segenap civitas akademika MAN 1 Jepara turut mengamini bahwa setiap karya, sekecil apa pun, memiliki potensi untuk membawa perubahan.
Dengan dukungan yang berkelanjutan, madrasah berharap lahir semakin banyak peneliti muda yang berani bermimpi dan berkontribusi untuk kemajuan bangsa.
"Tidak ada yang terlalu kecil untuk perubahan. Kebermanfaatan sekecil apapun tetaplah menjadi sumbangsih yang berarti, bagi masyarakat dan bangsa," tandasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya