JEPARA - Pemerintah Kabupaten Jepara resmi mengalihfungsikan Pendopo Kabupaten Jepara menjadi Museum Kartini, sebuah ruang baru yang menghadirkan kembali jejak pemikiran dan kehidupan Raden Ajeng Kartini dalam format yang lebih hidup, terbuka, dan modern.
Bangunan bersejarah yang selama ini menjadi rumah dinas Bupati ini kini disulap menjadi pusat edukasi publik, dan dibuka gratis hingga 1 Januari 2026 mendatang.
Sebelumnya, peresmian dilakukan secara langsung oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon pada Sabtu (15/11) malam, didampingi oleh Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat.
Baca Juga: Pemkab Jepara Pastikan Stok Solar di Semua SPBU Aman hingga Akhir Tahun
Bupati Jepara Witiarso Utomo menegaskan bahwa keputusan ini diambil sebagai bagian dari upaya memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat guna mempelajari warisan emansipasi perempuan dari Bumi Jepara.
“Kami ingin seluruh masyarakat, dari Jepara maupun luar daerah, dapat melihat langsung artefak peninggalan Ibu Kartini. Karena itu kami gratiskan selama masa pembukaan ini,” ungkapnya Senin (17/11).
Museum Kartini menampilkan rangkaian koleksi maupun replikasi yang autentik, mulai dari mebeler, benda pribadi, dokumen sejarah, ataupun kereta kuda. Seluruh koleksi dapat dinikmati pengunjung setiap hari pukul 13.00—17.00.
Di samping itu, Bupati Witiarso menegaskan bahwa pengembangan museum ke depan akan mengedepankan semangat gotong royong masyarakat Jepara, termasuk pelaku usaha lokal.
"APBD hanya digunakan untuk kebutuhan digitalisasi. Kami harus bangga membangun museum ini dengan kemampuan kita sendiri,” jelasnya.
Sambil menunggu pembangunan rumah dinas baru tahun depan, sebagian kecil ruang pendopo masih digunakan sementara.
Pemkab juga mulai menyiapkan desain merchandise resmi Museum Kartini, baik suvenir hingga karya kerajinan, yang diharapkan dapat rilis tahun depan.
Project Manager Museum Kartini, Ikhwan Syaefulloh, menuturkan bahwa penunjukan dirinya oleh Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat sebagai pendonor awal museum merupakan bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian pengetahuan dan nilai Kartini.
Museum menurutnya menjadi jembatan masa lalu untuk masa depan. Ikhwan menegaskan Museum Kartini bukan sekadar tempat memajang artefak, tetapi ruang belajar untuk melihat masa depan melalui masa lalu.
“Museum ini menyimpan artefak masa lalu yang harus dipelajari agar bisa menatap masa depan dengan lebih terang,” ujarnya.
Menurutnya, Jepara bukan hanya kota ukir. Jepara adalah kota emansipasi perempuan yang dilahirkan oleh gagasan besar Kartini, seorang perempuan berusia 25 tahun yang pemikirannya mengguncang Indonesia bahkan dunia.
Menurutnya, museum harus menjadi bekal dan pusat edukasi bagi perempuan di seluruh Indonesia. Jepara sebagai rumah kelahiran pemikiran Kartini memiliki mandat moral untuk menjaga nyala inspirasi itu.
Salah satu agenda besar selanjutnya di antaranya ialah membangun sistem volunteer museum yang profesional.
Ikhwan menekankan bahwa museum ini harus dikelola bersama oleh berbagai unsur, aktivis lokal, pengusaha lokal, peneliti, hingga komunitas muda dari berbagai latar.
“Posisi volunteer adalah elemen penting. Pemda membuka ruang besar bagi masyarakat Jepara untuk terlibat. Gen Z, milenial, semuanya (khususya pelajar, Red) akan dididik menjadi edukator museum yang siap menjadi jembatan informasi dengan standar nasional,” jelasnya.
Para volunteer ini nantinya akan menjadi wajah museum, pemandu, penyampai narasi, sekaligus duta nilai-nilai Kartini.
Museum tidak hanya memamerkan benda, tetapi juga menghidupkan kembali pemikiran Kartini lewat manusia-manusia yang menjaganya.
Dengan wajah baru ini, Museum Kartini didorong menjadi lokus kemajuan Jepara, tidak hanya dalam konteks sejarah, tetapi juga pengembangan pengetahuan, ruang kreativitas anak muda, dan pusat dialog mengenai perempuan, pendidikan, budaya, serta masa depan.
Museum ini, sambungnya, diharapkan bukan sekadar destinasi, tetapi sebuah rumah belajar yang terus tumbuh, di mana gagasan Kartini dapat kembali menggugah generasi baru.
“Silakan datang. Museum ini sudah dibuka, gratis sampai 1 Januari. Kami ingin Museum Kartini menjadi ruang edukasi baru bagi Jepara,” tandasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya