JEPARA - Perang Obor menjadi ikon budaya Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan dan menjadi salah satu tradisi kebanggaan Kabupaten Jepara.
Tradisi tahunan yang merupakan bagian dari puncak acara sedekah bumi ini kian digarap secara serius. Kini Pemdes setempat tengah menyiapkan penyelenggaraan secara meriah untuk tahun 2026 mendatang.
Tak hanya, saling memukul obor yang terbuat dari pelepah kelapa dan daun pisang kering. Tarian dan seni koreografi juga tengah dipersiapkan, dengan menjadi potensi serta kreativitas para peserta didik.
Petinggi Desa Tegalsambi, Agus Santoso, menjelaskan bahwa dalam rangkaian kegiatan menuju Perang Obor mendatang, pemerintah desa saat ini diadakan lomba tari yang diikuti oleh 36 kelompok tari dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA se-Kabupaten Jepara.
Kegiatan tersebut digelar di Pondok Wisata Desa Tegalsambi pada Sabtu (8/11) sejak pagi hingga sore hari.
Selain lomba tari, juga terdapat berbagai kegiatan sosial dan pendukung, antara lain santunan anak yatim, penyaluran bantuan PMT stunting, peresmian kios UMKM, hingga penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba tari.
Terkait dengan pelaksanaan Perang Obor tahun 2026, Agus menyampaikan bahwa Bupati Jepara telah memberikan arahan agar kegiatan tersebut dilaksanakan lebih meriah.
Termasuk di dalamnya peningkatan pada aspek koreografi, tata cahaya, dan lighting, dengan kemungkinan melibatkan Event Organizer (EO) untuk mendampingi panitia desa dalam menyiapkan acara.
"Pak Bupati menghendaki agar tahun 2026 pelaksanaannya lebih meriah. Lighting dan tata panggung diperhatikan, dan kemungkinan nanti akan didampingi EO agar lebih profesional. Jadi tidak hanya kegiatan hari ini, tapi harus berkelanjutan," ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya melibatkan anak-anak muda yang kreatif dalam pelestarian budaya lokal. Menurutnya, minat generasi muda terhadap seni tradisi mulai menurun, sehingga kegiatan ini menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan kembali kecintaan terhadap warisan leluhur.
"Saat ini agak sulit mencari anak muda yang benar-benar mencintai budaya kita. Di sinilah kami mencoba menggali lagi, mengajak mereka untuk lebih mencintai budaya bangsa melalui tarian, yang memang merupakan peninggalan leluhur kita," jelasnya.
Agus juga menyadari bahwa seiring perkembangan zaman, gaya tari tradisional perlu disesuaikan agar tetap diminati anak muda. "Gerakannya memang perlu disesuaikan dengan jiwa anak-anak hari ini. Jadi walaupun berakar dari tarian tradisional, tetap bisa terasa modern, ada sentuhan koreografer yang disukai generasi muda," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi momentum yang tepat untuk mempromosikan pariwisata Jepara. Melalui agenda ini, Desa Tegalsambi tidak hanya ingin menjaga budaya lokal, tetapi juga memperkuat citra Jepara sebagai kabupaten wisata.
"Dari tarian ini, kita juga bisa mempromosikan pariwisata. seperti gaya dan pariwisata di bali, kenapa di Jepara tidak? Di Pantai Kartini juga ada potensi besar. Ini bisa jadi embrio awal untuk mengembangkan promosi wisata budaya Jepara," ujarnya.
Agus mengingatkan bahwa Jepara memiliki banyak kekayaan seni tari yang patut dikembangkan. "Kalau kita flashback dulu, untuk menyambut tamu biasanya hanya ada Tari Gambyong, lalu Jepara punya Tari Kridajati. Nah, harapan kita, dengan semakin banyak tarian seperti ini, bisa memperkaya varian khas Jepara. Jadi nanti kalau ada wisatawan datang, tinggal memilih mau menampilkan tarian apa, dan semuanya adalah tarian khas dari Jepara," tegasnya.
Pihaknya menyebutkan, kegiatan ini merupakan yang ketiga kalinya diselenggarakan oleh pemerintah desa. Ia menjelaskan bahwa acara tersebut sengaja digelar bertepatan dengan ulang tahun Pondok Wisata Desa Tegalsambi, yang kini telah berusia tiga tahun.
Biasanya, kegiatan diadakan pada momentum Hari Sumpah Pemuda di akhir Oktober, namun tahun ini disesuaikan hingga bulan November karena pada saat bersamaan terdapat agenda Festival Literasi.
"Untuk tahun ini, lomba diikuti oleh 36 kelompok tari dari berbagai jenjang. Ada dari TK, SD, SMP, SMA, termasuk juga madrasah seperti MI, MTs, dan MA," jelasnya pada Sabtu (8/11).
Festival ini dibagi menjadi dua kategori lomba, yaitu Kategori A untuk TK dan SD, serta Kategori B untuk SMP, SMA, dan umum. Diketahui kelompok kategori umum rata-rata merupakan gabungan dari beberapa sekolah, sehingga tidak menggunakan nama sekolah tertentu.
Agus menjelaskan bahwa kegiatan ini berawal dari masukan salah satu pemerhati tari yang mengusulkan agar Desa Tegalsambi memiliki tarian khas yang terinspirasi dari tradisi Perang Obor.
"Waktu itu kami ingin membuat tarian obor, saya berbicara dengan banyak pemerhati tari, lalu muncullah gagasan lomba tari untuk anak-anak ini. Karena di setiap desa atau sekolah, sebenarnya ada banyak sanggar tari yang potensial," ucapnya.
Ia menambahkan, ide ini juga selaras dengan rencana Bupati Jepara yang ingin menghadirkan kegiatan serupa bertajuk ‘Jepara Menari’ di beberapa waktu yang akan datang.
"Sehingga kami adakan di Tegalsambi dulu, tujuannya untuk mencari bibit-bibit penari muda dan juga sebagai promosi desa wisata. Karena kebetulan desa kita termasuk salah satu desa wisata di Jepara, jadi sangat memungkinkan ke depan bisa diadakan kegiatan yang lebih besar lagi," tuturnya.
Para pemenang lomba nantinya juga akan dilibatkan dalam prosesi penyelenggaraan Perang Obor tahun depan. Agus menjelaskan, dari kategori umum akan diambil juara 1, 2, dan 3, baik untuk Kategori A maupun B, termasuk juga juara favorit untuk masing-masing kategori.
"Harapan kami, kegiatan ini bisa menjadi pemicu bagi para koreografer muda untuk terus menampilkan tarian-tarian terbaiknya," katanya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya