JEPARA — Di tengah kemajuan teknologi dan hadirnya berbagai aplikasi prakiraan cuaca, sebagian masyarakat Jepara masih memegang teguh kepercayaan terhadap tanda-tanda alam yang dianggap sebagai pertanda datangnya hujan.
Kebiasaan ini telah diwariskan secara turun-temurun sejak masa leluhur, terutama di wilayah pedesaan dan pesisir. Berbagai ciri-ciri alam dipercaya menjadi “bahasa bumi” yang menandakan hujan akan segera turun.
Menurut penuturan warga Desa Bulu, Jepara, salah satu tanda paling umum adalah ketika udara terasa gerah dan pengap meski langit tampak mendung. Kondisi ini oleh masyarakat setempat disebut “mendung ngempet”, yang dipercaya sebagai tanda langit tengah menahan hujan.
Selain itu, munculnya awan hitam tebal dari arah barat daya atau Gunung Muria juga sering dianggap sebagai pertanda hujan akan segera turun. Para nelayan di kawasan pesisir pun biasanya segera menarik perahu mereka ke darat saat melihat perubahan arah angin laut yang tiba-tiba berembus ke daratan.
Tanda lainnya, hewan-hewan kecil juga diyakini memberi isyarat. Ketika semut keluar dari sarang atau naik ke tempat tinggi, warga percaya bahwa tanah mulai lembap dan hujan sudah dekat. Sementara itu, suara katak yang bersahutan di malam hari dianggap sebagai “panggilan alam” yang menandakan udara sudah jenuh dengan uap air.
Selain tanda-tanda tersebut, bau khas tanah yang muncul sebelum hujan—sering disebut “bau tanah hidup”—juga menjadi pertanda yang akrab di masyarakat Jepara. “Kalau sudah tercium bau tanah begitu, biasanya tidak lama lagi hujan turun,” ujar Siti Mariyah, warga Desa Krapyak, Kamis (23/10).
Beberapa warga juga mempercayai bahwa pelangi yang muncul di pagi hari menandakan hujan akan turun pada sore harinya. Namun jika pelangi tampak sore, cuaca keesokan hari dipercaya akan cerah.
Meskipun sebagian besar tanda-tanda tersebut belum terbukti secara ilmiah, para tokoh masyarakat menilai kepercayaan itu merupakan bentuk kearifan lokal yang mencerminkan kedekatan warga Jepara dengan alam.
“Bagi orang Jepara, memahami tanda-tanda alam bukan sekadar untuk tahu kapan hujan turun, tapi juga wujud rasa hormat terhadap alam yang sudah memberi kehidupan,” ujar tokoh adat setempat, Mbah Suparjo.
Hingga kini, mitos tanda-tanda hujan di Jepara masih sering diperbincangkan, terutama di kalangan orang tua dan petani, sebagai bagian dari warisan budaya dan pengetahuan tradisional yang tetap hidup di tengah modernisasi.
Jepara, Jawa Tengah — Di tengah kemajuan teknologi dan hadirnya berbagai aplikasi prakiraan cuaca, sebagian masyarakat Jepara masih memegang teguh kepercayaan terhadap tanda-tanda alam yang dianggap sebagai pertanda datangnya hujan.
Kebiasaan ini telah diwariskan secara turun-temurun sejak masa leluhur, terutama di wilayah pedesaan dan pesisir. Berbagai ciri-ciri alam dipercaya menjadi “bahasa bumi” yang menandakan hujan akan segera turun.
Menurut penuturan warga Desa Bulu, Jepara, salah satu tanda paling umum adalah ketika udara terasa gerah dan pengap meski langit tampak mendung. Kondisi ini oleh masyarakat setempat disebut “mendung ngempet”, yang dipercaya sebagai tanda langit tengah menahan hujan.
Selain itu, munculnya awan hitam tebal dari arah barat daya atau Gunung Muria juga sering dianggap sebagai pertanda hujan akan segera turun. Para nelayan di kawasan pesisir pun biasanya segera menarik perahu mereka ke darat saat melihat perubahan arah angin laut yang tiba-tiba berembus ke daratan.
Tanda lainnya, hewan-hewan kecil juga diyakini memberi isyarat. Ketika semut keluar dari sarang atau naik ke tempat tinggi, warga percaya bahwa tanah mulai lembap dan hujan sudah dekat. Sementara itu, suara katak yang bersahutan di malam hari dianggap sebagai “panggilan alam” yang menandakan udara sudah jenuh dengan uap air.
Selain tanda-tanda tersebut, bau khas tanah yang muncul sebelum hujan—sering disebut “bau tanah hidup”—juga menjadi pertanda yang akrab di masyarakat Jepara. “Kalau sudah tercium bau tanah begitu, biasanya tidak lama lagi hujan turun,” ujar Siti Mariyah, warga Desa Krapyak, Kamis (23/10).
Beberapa warga juga mempercayai bahwa pelangi yang muncul di pagi hari menandakan hujan akan turun pada sore harinya. Namun jika pelangi tampak sore, cuaca keesokan hari dipercaya akan cerah.
Meskipun sebagian besar tanda-tanda tersebut belum terbukti secara ilmiah, para tokoh masyarakat menilai kepercayaan itu merupakan bentuk kearifan lokal yang mencerminkan kedekatan warga Jepara dengan alam.
“Bagi orang Jepara, memahami tanda-tanda alam bukan sekadar untuk tahu kapan hujan turun, tapi juga wujud rasa hormat terhadap alam yang sudah memberi kehidupan,” ujar tokoh adat setempat, Mbah Suparjo.
Hingga kini, mitos tanda-tanda hujan di Jepara masih sering diperbincangkan, terutama di kalangan orang tua dan petani, sebagai bagian dari warisan budaya dan pengetahuan tradisional yang tetap hidup di tengah modernisasi.
Jepara, Jawa Tengah — Di tengah kemajuan teknologi dan hadirnya berbagai aplikasi prakiraan cuaca, sebagian masyarakat Jepara masih memegang teguh kepercayaan terhadap tanda-tanda alam yang dianggap sebagai pertanda datangnya hujan.
Kebiasaan ini telah diwariskan secara turun-temurun sejak masa leluhur, terutama di wilayah pedesaan dan pesisir. Berbagai ciri-ciri alam dipercaya menjadi “bahasa bumi” yang menandakan hujan akan segera turun.
Menurut penuturan warga Desa Bulu, Jepara, salah satu tanda paling umum adalah ketika udara terasa gerah dan pengap meski langit tampak mendung. Kondisi ini oleh masyarakat setempat disebut “mendung ngempet”, yang dipercaya sebagai tanda langit tengah menahan hujan.
Selain itu, munculnya awan hitam tebal dari arah barat daya atau Gunung Muria juga sering dianggap sebagai pertanda hujan akan segera turun. Para nelayan di kawasan pesisir pun biasanya segera menarik perahu mereka ke darat saat melihat perubahan arah angin laut yang tiba-tiba berembus ke daratan.
Tanda lainnya, hewan-hewan kecil juga diyakini memberi isyarat. Ketika semut keluar dari sarang atau naik ke tempat tinggi, warga percaya bahwa tanah mulai lembap dan hujan sudah dekat. Sementara itu, suara katak yang bersahutan di malam hari dianggap sebagai “panggilan alam” yang menandakan udara sudah jenuh dengan uap air.
Selain tanda-tanda tersebut, bau khas tanah yang muncul sebelum hujan—sering disebut “bau tanah hidup”—juga menjadi pertanda yang akrab di masyarakat Jepara. “Kalau sudah tercium bau tanah begitu, biasanya tidak lama lagi hujan turun,” ujar Siti Mariyah, warga Desa Krapyak, Kamis (23/10).
Beberapa warga juga mempercayai bahwa pelangi yang muncul di pagi hari menandakan hujan akan turun pada sore harinya. Namun jika pelangi tampak sore, cuaca keesokan hari dipercaya akan cerah.
Meskipun sebagian besar tanda-tanda tersebut belum terbukti secara ilmiah, para tokoh masyarakat menilai kepercayaan itu merupakan bentuk kearifan lokal yang mencerminkan kedekatan warga Jepara dengan alam.
“Bagi orang Jepara, memahami tanda-tanda alam bukan sekadar untuk tahu kapan hujan turun, tapi juga wujud rasa hormat terhadap alam yang sudah memberi kehidupan,” ujar tokoh adat setempat, Mbah Suparjo.
Hingga kini, mitos tanda-tanda hujan di Jepara masih sering diperbincangkan, terutama di kalangan orang tua dan petani, sebagai bagian dari warisan budaya dan pengetahuan tradisional yang tetap hidup di tengah modernisasi.
Editor : Zainal Abidin RK