JEPARA - Upaya memperkuat kualitas pendidikan nasional terus dilakukan melalui berbagai pendekatan inovatif di berbagai daerah.
Di antaranya dengan pembelajaran mendalam (deep learning) yang kini terus diperkenalkan secara masif kepada para guru maupun kepala sekolah, termasuk peserta didik.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi bekerja sama dengan Komisi X DPR RI beserta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Jepara menggelar workshop bertajuk “Transformasi Pendidikan melalui Pembelajaran Mendalam”
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakil Ketua MPR RI sekaligus Anggota DPR RI Komisi X Lestari Moerdijat, perwakilan Kemendikdasmen serta ratusan pendidik jenjang SD dan SMP se-Kabupaten Jepara. Berlangsung pada Sabtu (18/10) di Hotel d'Season Premier Bandengan Jepara.
Dalam sambutannya, Lestari Moerdijat menceritakan bahwa dirinya telah lama terlibat dalam proses transformasi pendidikan, terutama pascabencana tsunami melanda Aceh 2004.
Pihaknya menekankan, transformasi pendidikan sejati tidak hanya dimulai dari ruang kelas, namun dari guru-guru yang mau memberikan teladan serta pengajaran sesuai dengan kebutuhan.
“Pasca tsunami, kami membangun sekolah (Sekolah Sukma Bangsa Aceh) sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap pendidikan,” tuturnya.
Ia menambahkan, pascabencana ribuan guru dikabarkan hilang dan siswa kehilangan akses belajar.
Menurut Lestari, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan tidak sekadar soal sistem, tetapi juga soal kemanusiaan dan daya tahan (resilience).
Rerie sapaan akrabnya, menilai bahwa deep learning atau pembelajaran mendalam menjadi sarana penting untuk melakukan transformasi pendidikan yang sesungguhnya. Yaitu pendidikan yang membebaskan dan memberdayakan manusia.
“Pendidikan mendalam mendorong anak-anak tidak hanya unggul secara akademis, tapi juga memiliki kemampuan mengembangkan dirinya, beradaptasi, dan bertahan menghadapi perubahan zaman,” tegasnya.
Terpisah Widyaprada Ahli Utama dalam Kemendikdasmen Jumeri, menjelaskan bahwa workshop ini disiapkan untuk memberi pemahaman kepada guru, kepala sekolah ataupun pengawas tentang konsep serta praktik pembelajaran mendalam.
“Kami bekerja sama dengan Komisi X DPR untuk memastikan para pendidik memahami metodologi pembelajaran yang relevan dengan tantangan masa depan,” ujarnya.
Menurutnya, pembelajaran mendalam penting diterapkan karena anak-anak SD dan SMP saat ini adalah generasi yang akan menjadi pemimpin Indonesia pada tahun 2045, ketika bangsa ini memasuki usia emas kemerdekaan.
“Mereka yang hari ini duduk di bangku SD dan SMP adalah generasi penentu masa depan. Karena itu, kemampuan literasi dan numerasi mereka harus diperkuat melalui pembelajaran mendalam yang menyenangkan dan bermakna,” ungkapnya.
Dalam pendekatan ini, guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan berperan sebagai aktivator, kolaborator, dan fasilitator.
Siswa diberi ruang lebih luas untuk berpartisipasi aktif, mengekspresikan ide, dan berkolaborasi melalui media pembelajaran digital interaktif.
“Dengan layar digital interaktif, anak-anak bisa berkreasi dan berkomunikasi lebih baik. Ini meningkatkan kepercayaan diri dan mendorong keberanian mereka untuk bereksperimen,” lanjut Jumeri.
Kemendikdasmen juga secara bertahap melakukan revitalisasi sarana pendidikan, memperbaiki gedung sekolah yang rusak, serta menambah perangkat digital agar pembelajaran interaktif dapat terlaksana secara merata.
Pengawas SMP dari Disdikpora Jepara Sukmandari menyampaikan kegiatan ini menjadi momentum penting bagi para guru untuk meningkatkan kompetensi dan memahami konsep pembelajaran mendalam secara utuh.
“Ini kegiatan yang kami harapkan. Guru perlu tidak hanya memahami teori, tapi juga mengimplementasikan pembelajaran mendalam di kelas,” katanya.
Ia berharap agar pelatihan semacam ini bisa dilaksanakan lebih luas di Jepara, sehingga kualitas pendidikan di daerah dapat meningkat secara berkelanjutan.
Dalam workshop kali ini juga ditekankan sejumlah prinsip utama pembelajaran mendalam yang menjadi panduan bagi guru.
Pertama, siswa diajak bertanya dan berpikir kritis, bukan sekadar menerima informasi. Lalu pentingnya menghargai pertanyaan melebihi jawaban, untuk mendorong rasa ingin tahu siswa.
Model pembelajaran harus beragam, dan guru berperan sebagai kolaborator. Sehingga keterkaitan dengan dunia nyata harus eksplisit, agar pembelajaran kontekstual.
Kemudian menumbuhkan kolaborasi guru–siswa, bukan hanya hubungan satu arah. Penilaian dilakukan secara otentik dan transparan, disertai umpan balik bermakna. Serta, motivasi belajar ditumbuhkan secara internal, agar semangat belajar sepanjang hayat.
Melalui pendekatan ini, pembelajaran tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi memantik keingintahuan dan semangat belajar seumur hidup (lifelong learning).
Salah satu peserta workshop, Okta Ferika yang menjadi guru Matematika di SMP Negeri 1 Keling, menilai pembelajaran mendalam sangat relevan untuk generasi digital masa kini.
“Anak-anak sekarang sudah menguasai piranti digital. Maka guru juga harus mempelajari digitalisasi supaya tidak tertinggal,” ujarnya.
Okta mengungkapkan, dirinya juga baru saja mengikuti pelatihan serupa di Balai Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (BPTIK) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.
Dari pelatihan tersebut, ia memahami pentingnya mengoreksi miskonsepsi dalam pembelajaran dan mempraktikkan pendekatan konkret di kelas.
Ia mencontohkan pembelajaran operasi bilangan bulat melalui metode 'lompat katak' di mana bilangan positif diartikan sebagai langkah maju dan bilangan negatif sebagai langkah mundur.
“Dengan cara ini, siswa tidak hanya menghafal teori, tapi benar-benar memahami konsepnya. Mereka lebih aktif, terkesan, dan belajar dengan gembira,” ujarnya menyebut praktik baik yang telah diajarkan.
Workshop ini bukan hanya menjadi ajang pelatihan teknis, tetapi juga gerakan kultural untuk mengubah paradigma pendidikan di Jepara.
Dari yang berorientasi pada hafalan menuju pendidikan yang membangun daya pikir kritis, empati, kreativitas, dan kemandirian.(fik)
Editor : Mahendra Aditya