Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

12 Siswa Sekolah Rakyat Dasar Jepara Mengundurkan Diri, Pemkab Carikan Pengganti

Fikri Thoharudin • Senin, 13 Oktober 2025 | 23:26 WIB
PENUH HARU: Sejumlah siswa sekolah rakyat tengan memberikan persembahan lagu saat momen penutupan MPLS pada Senin (13/10).
PENUH HARU: Sejumlah siswa sekolah rakyat tengan memberikan persembahan lagu saat momen penutupan MPLS pada Senin (13/10).

JEPARA - Sebanyak 12 siswa Sekolah Rakyat Dasar (SRD) IC Jepara memilih mengundurkan diri sejak awal kegiatan hendak dimulai, yaitu dalam momen masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).

Kepala Sekolah Rakyat (SR) Kabupaten Jepara, Asri Linda Listyaningrum, menjelaskan bahwa jumlah tersebut meningkat dari pekan sebelumnya yang hanya enam siswa yang keluar. Adapun sebelumnya, kesemua siswa dari kelas I-V ialah 75 anak.

Pihak sekolah kini berupaya menjaga stabilitas kegiatan belajar sekaligus melakukan pendekatan personal kepada para siswa yang masih bertahan.

Asri Linda menekankan pentingnya kesabaran dalam mendidik anak-anak di SR Jepara.

Menurutnya, setiap anak memerlukan pendekatan dari hati ke hati, bukan hanya sekadar perintah atau instruksi. 

“Kami berusaha mengarahkan anak agar lebih mandiri, termasuk membiasakan mereka pada kedisiplinan dan kebersihan. Mengajak anak mau belajar juga menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya Senin (13/10).

Pihaknya menegaskan, pendekatan yang dilakukan bukan dengan kekerasan, tetapi dengan ketegasan yang tetap bersifat mendidik. Termasuk sikap halus ketika melakukan komunikasi interpersonal kepada para siswa.

Mengenai fasilitas, Asri mengungkapkan bahwa sejumlah perlengkapan masih dalam tahap penyediaan. Seragam siswa, misalnya, baru akan diukur secara individual agar ukurannya sesuai dengan tubuh masing-masing anak pada Selasa (14/10).

“Besok akan kami ukur satu per satu, supaya tidak ada yang terlalu besar atau kecil,” terangnya.

Selain itu, buku-buku dan alat tulis juga telah disiapkan. Setiap siswa bahkan akan mendapatkan satu unit laptop untuk mendukung proses belajar melalui sistem Learning Management System (LMS) yang diterapkan di SR Jepara.

Karena fasilitas belum sepenuhnya lengkap, sementara ini para siswa masih menggunakan seragam dari sekolah asal mereka. Beberapa siswa yang berstatus Anak Tidak Sekolah (ATS) bahkan masih mengenakan pakaian seadanya. 

“Yang penting rapi dan sopan, terutama bagi siswa putri yang memakai baju muslim,” imbuhnya.

Asri Linda mengakui, alasan utama pengunduran diri 12 siswa tersebut lebih banyak bersifat psikologis. 

Sebagian besar anak belum terbiasa hidup jauh dari orang tua, sementara orang tua mereka pun belum siap melepas anak-anaknya untuk tinggal di lingkungan asrama.

"Kesulitannya karena banyak dari mereka masih di usia kelas kecil, jadi wajar kalau rasa kangen pada keluarga itu masih kuat,” katanya.

Asri menambahkan, para guru kini tengah menyiapkan strategi pendampingan yang lebih intensif untuk membantu anak-anak beradaptasi.

Usai menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) terakhir ini, siswa-siswa SR mulai memasuki tahap transisi menuju kurikulum pembelajaran.

Menurutya, proses ini membutuhkan kesabaran ekstra baik dari pihak pendidik maupun siswa, karena mereka berasal dari latar belakang pendidikan dan kebiasaan yang berbeda-beda.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Jepara Witiarso Utomo menyampaikan bahwa pemerintah kabupaten telah menyiapkan langkah pengganti bagi siswa yang keluar. 

“Yang mengundurkan diri ada 12, dan sudah masuk 4 orang. Masih ada cadangan 4 lainnya yang kami siapkan untuk mengganti kekosongan,” jelasnya.

Menurut Witiarso, hal ini bukan persoalan serius, melainkan bagian dari penyesuaian di awal pembelajaran. “Hanya soal kebiasaan saja, mereka kangen orang tua,” katanya.

Bupati menambahkan, pihaknya akan melakukan penyesuaian terhadap jadwal kunjungan orang tua. “Permasalahannya, setiap kali orang tua berkunjung, anak-anak justru ikut pulang. Jadi ke depan kunjungan akan dijadwalkan dua minggu sekali,” ujarnya.

Ia juga sempat berinteraksi langsung dengan para siswa SR, memberikan motivasi agar mereka tetap semangat dan betah belajar di lingkungan baru. “Harus sabar, ikhlas, dan tulus,” harapnya .

Selain membahas kondisi siswa, Bupati juga menyebutkan bahwa Jepara termasuk dalam 104 wilayah yang terpilih untuk didirikan sekolah rakyat baru pada awal 2026. Direncanakan di sekitar Bumi Perkemahan Pakis Aji.

Menurutnya, langkah ini diharapkan dapat memperkuat sistem pendidikan berbasis karakter dan kemandirian di Kabupaten Jepara.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#SRD #jepara #mengundurkan diri #murid #Sekolah Rakyat Dasar