Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jepara Jadi Tuan Rumah Pekan Madaris Pertama Tingkat Provinsi, Ajang Penjaringan Prestasi Terbaik, Kembangkan Ponpes dan Madin

Fikri Thoharudin • Minggu, 12 Oktober 2025 | 21:21 WIB
MERIAH: Wagub Jateng Gus Taj Yasin Maimoen berkesempatan membuka acara Pekan Madaris Pertama tingkat Jawa Tengah di kompleks Ponpes Walisongo Pecangaan pada Sabtu (11/10).
MERIAH: Wagub Jateng Gus Taj Yasin Maimoen berkesempatan membuka acara Pekan Madaris Pertama tingkat Jawa Tengah di kompleks Ponpes Walisongo Pecangaan pada Sabtu (11/10).

JEPARA - Kabupaten Jepara kembali mencatatkan sejarah penting dalam dunia pendidikan keagamaan. 

Untuk pertama kalinya, Pekan Madaris tingkat Provinsi Jawa Tengah digelar oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU Jawa Tengah, dengan Pondok Pesantren Walisongo Pecangaan Jepara sebagai tuan rumah, pada Sabtu–Ahad (11–12/10).

Pekan Madaris ini merupakan agenda perdana RMI di tingkat provinsi se-Jawa Tengah di Indonesia. 

Kegiatan yang juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2025 tersebut, mengusung tema “Melestarikan Tradisi, Menyiapkan Generasi Santri yang Berprestasi untuk Membangun Negeri.”

Ratusan peserta dari RMI cabang kabupaten/kota se-Jawa Tengah hadir dalam ajang ini untuk mengikuti berbagai perlombaan.

Di antaranya seperti Tahfidz Surat Yasin, Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Ghayah Wattarghib, Lomba Cerdas Cermat (LCC) Ke-NU-an, Cipta Mars Madin NU, Puitisasi Santri Madin, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Imla’ & Pegon, Hafalan Amsilah Tashrifiyah, Taqdimul Qisshoh, maupun Rebana putra dan putri.

Dalam acara pembukaan juga dihadiri sejumlah tokoh penting, diantaranya Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Rais Syuriyah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh, Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng KH Abdul Ghoffar Rozin, Wakil Bupati Jepara M Ibnu Hajar serta jajaran pengurus NU dan RMI dari berbagai daerah.

Ketua RMI PWNU Jawa Tengah, KH Ahmad Fadlullah Turmudzi, menyebutkan bahwa penyelenggaraan Pekan Madaris ini menjadi tonggak penting perjalanan RMI. 

“Ini bagian dari syiar kami sebagai penerima amanat Rabithah Ma’ahid Islamiyah. Sejak Muktamar di Makassar, Jombang, dan Lampung, RMI memiliki tanggung jawab besar untuk mengoordinasi dan mengonsolidasi pondok pesantren serta madrasah diniyah,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi RMI PWNU Jateng bersama RMI PCNU se-Jawa Tengah, dengan total 22 kafilah yang berpartisipasi. 

“Kegiatan ini menjadi wadah bersama untuk memperkuat sinergi antara pesantren dan madrasah diniyah. Bukan sekadar ajang lomba, tapi juga ruang konsolidasi dan silaturahmi,” tambahnya.

Rangkaian kegiatan dibuka dengan halaqah pedagogi guru madin, dilanjutkan diskusi internal bersama pengurus RMI se-Jateng pada Sabtu (11/10) malam hari. 

KH Ahmad Fadlullah menegaskan, tujuan besar dari Pekan Madaris ini adalah menjaga tradisi keilmuan Islam di lingkungan Nahdlatul Ulama. 

“Kami berikhtiar menjaga dan nguri-uri tradisi kitab kuning. Karena kitab kuning adalah akar keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah,” jelasnya.

Ia menambahkan, madrasah diniyah memiliki peran strategis sebagai input utama bagi pondok pesantren. 

“Kami ingin madrasah diniyah menjadi kekuatan besar, mencetak generasi masa depan NU, dan calon tokoh-tokoh dari ranting hingga pusat. Nilai-nilai Aswaja harus diajarkan sejak dini, agar meski anak tidak mondok, pesan-pesan kebaikan tetap melekat di hati mereka,” ujarnya.

Melalui tagline “RMI Hadir untuk Pesantren dan Madrasah Diniyah,” RMI PWNU Jateng berkomitmen untuk terus melakukan sambang pesantren. 

Kegiatan tersebut bukan hanya ajang silaturahmi, tetapi juga mendengarkan aspirasi dan dinamika dari para pengasuh pesantren secara langsung, untuk dijadikan bahan kebijakan dan program kerja RMI ke depan.

Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin, mengapresiasi semangat RMI Jateng yang menjadi pelopor penyelenggaraan Pekan Madaris kali ini. 

“Ini menunjukkan keseriusan Jawa Tengah dalam mengembangkan madrasah diniyah dan pesantren. Kita tahu, madrasah diniyah adalah benteng moral dan akhlakul karimah anak-anak kita,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan Jawa Tengah dalam berbagai ajang madrasah sebelumnya, serta kebijakan pendidikan lima hari sekolah yang tetap memberi ruang bagi kegiatan madrasah diniyah, menjadi bukti kesungguhan provinsi ini dalam menjaga keseimbangan antara ilmu umum dan ilmu agama.

“Dalam rangka Hari Santri, prestasi madrasah diniyah perlu dipublikasikan agar bisa menjadi motivasi bagi yang lain. Karena di tengah tantangan zaman, santri harus menjawab dengan prestasi. Sekalipun langit runtuh, akhlakul karimah tidak ikut runtuh di madrasah diniyah dan pesantren,” tegasnya.

Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi yang telah diberikan, RMI PWNU Jawa Tengah bekerjasama dengan Pemerintah Kota Semarang, juga menyerahkan paket umroh kepada sejumlah guru madrasah diniyyah yang telah mengabdi bertahun-tahun mendidik santri.

BERKHIDMAT: Para guru madin yang menerima hadiah umrah atas dedikasinya telah mengajar bertahun-tahun.
BERKHIDMAT: Para guru madin yang menerima hadiah umrah atas dedikasinya telah mengajar bertahun-tahun.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Gus Taj Yasin Maimoen, yang membuka kegiatan secara resmi, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif RMI Jateng dan dukungan masyarakat pesantren. 

“Program ini luar biasa. Saya melihat bagaimana kekuatan madrasah diniyah terus bergelombang dan berlanjut, berkontribusi nyata terhadap pembentukan moral dan akhlak bangsa,” ungkapnya.

Ia juga menyinggung sejumlah program pemerintah provinsi yang diarahkan untuk peningkatan kesejahteraan guru madin. 

“Kami juga sedang merancang, ke depan ada bedah rumah untuk guru-guru madin. Ini bentuk perhatian kami terhadap para pendidik di madrasah diniyah ataupun pesantren,” kata Gus Yasin.

Gus Taj Yasin Maimoen menekankan bahwa perhatian terhadap pondok pesantren dan madrasah diniyah tidak hanya menyangkut aspek pendidikan, tetapi juga peningkatan kualitas secara menyeluruh. Menurutnya, persoalan moral menjadi pekerjaan rumah besar bagi bangsa, termasuk di Jawa Tengah.

Ia menilai, pondok pesantren dan madrasah diniyah memiliki peran penting dalam menjawab tantangan tersebut melalui berbagai prestasi nyata yang ditunjukkan oleh para santri dan peserta didik. 

"Kita harus menata dan menyinergikan peran madrasah diniyah dengan pesantren. Madin itu fondasi awal untuk mempersiapkan kemampuan nahwu, shorof, imlak, dan fiqih para santri sebelum mereka melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren,” ujarnya.

Selain itu, Pemprov Jateng tengah menyiapkan lembaga baru yang akan di-launching oleh gubernur pada Hari Santri mendatang.

Lembaga ini akan menjadi wadah khusus untuk membantu pondok pesantren, terutama dalam menyalurkan santri yang ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi di luar negeri. Seperti di Al-Azhar dan Al-Ahqaf.

“Madrasah diniyah adalah pijakan menuju pesantren. Sinergi antara madin, ponpes, dan pemerintah harus terus ditata. Karena dari sinilah lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak,” tandasnya menegaskan.

ANTUSIAS: Peserta tengah mengikuti lomba MQK Ghoyah Wattaqrib.
ANTUSIAS: Peserta tengah mengikuti lomba MQK Ghoyah Wattaqrib.

Terpisah, salah satu peserta dari Madrasah Diniyyah Cilacap, Filry Mahmudah Assyifa, 13, mengaku senang bisa ikut serta.

“Saya ikut lomba taqdimul qissah Bahasa Indonesia. Persiapannya sekitar dua minggu. Senang bisa ketemu teman-teman dari madrasah lain,” singkatnya sumringah.(fik)

Editor : Zainal Abidin RK
#RMI #jepara #madin #Pekan Madaris #Pondok Pesantrean