JEPARA - Kabupaten Jepara kembali menorehkan prestasi membanggakan di bidang kebudayaan. Enam usulan warisan budaya takbenda (WBTb) berhasil lolos seleksi nasional.
Enam warisan budaya dari Jepara yang diusulkan tersebut adalah Pindang Serani, Batik Jepara, Horog-horog, Baratan Kalinyamatan, Memeden Gadhu, dan Ukir Kaligrafi Jepara (teknik sulam pita).
Pada Selasa (7/10), usulan tersebut disidangkan secara langsung bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Dirjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, serta Tim Ahli WBTbI.
Sidang usulan penetapan tersebut terbagi ke dalam 21 sesi, sementara rapat pleno dan pembacaan hasil sidang penetapan dijadwalkan berlangsung pada Jumat (10/10) mendatang.
Sidang penetapan WBTb itu telah dimulai sejak Minggu (5/10). Untuk daerah di lingkup Jawa Tengah berlangsung pada Selasa (7/10) di Hotel Sutasoma Dharmawangsa, Jalan Darmawangsa Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Jajaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara hadir langsung mengikuti proses tersebut bersama perwakilan daerah lain dari Jateng.
Dari total 64 usulan yang disidangkan, enam usulan akhirnya ditangguhkan.
Di antaranya adalah Canthing Batik Kota Surakarta, Blangkon Surakarta, Jangkrik Ngenthir Boyolali, Reog Campur Bawur Khas Lereng Merapi-Merbabu Boyolali, Batik Bayat Klaten, serta Asal Usul Nama Kota Sala Surakarta.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Ali Hidayat melalui Kabid Kebudayaan, Muhamad Adjib Ghufron, menyampaikan bahwa keenam usulan sudah melewati serangkaian penilaian ketat oleh tim ahli sebelum disidangkan.
Keberhasilan ini menjadi catatan penting bagi Jepara, mengingat daerah ini telah dikenal luas sebagai gudang tradisi, seni, dan budaya sejak lama.
Adjib menambahkan, khusus Ukir Kaligrafi (teknik sulam pita) bahkan masuk dalam nominasi Intangible Cultural Heritage (ICH) tingkat internasional, karena memiliki nilai khazanah Islami yang tinggi.
Jika berhasil ditetapkan, ini akan menjadi capaian penting yang tidak hanya menegaskan identitas budaya Jepara di tingkat nasional, tetapi juga mengangkatnya ke panggung dunia.
"Dengan penetapan WBTb, kami tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memberi pengakuan agar generasi mendatang lebih bangga dengan budayanya," ujarnya.
Ia menekankan, keberhasilan ini sekaligus menjadi branding wilayah, karena mampu memperkenalkan Jepara melalui jalur kebudayaan.
Adjib juga berharap agar ke depan tidak hanya enam usulan ini yang tercatat, melainkan tradisi lain dari Jepara juga bisa menyusul.
"Harapannya, di Jepara ini terkait dengan makanan, tradisi, ke depannya juga menyusul. Untuk WBTb ini akan terus bertambah. Karena ini lingkupnya nasional, tentu menjadi bagian dari kekayaan yang bisa mengangkat nama Jepara," katanya.
Menurut Adjib, keberhasilan enam WBTb dari Jepara ini menjadi wujud komitmen daerah dalam menjaga dan melestarikan kekayaan budaya lokal.
Penetapan resmi nantinya akan menambah deretan WBTb yang sudah dimiliki Jepara sekaligus memperkuat posisi daerah ini sebagai salah satu pusat kebudayaan unggulan di Indonesia.
"Jepara kaya akan tradisi dan seni. Dengan semakin banyaknya yang ditetapkan, akan memperkuat identitas daerah sekaligus memberi ruang bagi generasi muda untuk bangga serta terus melestarikannya," pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya