JEPARA – Ancaman abrasi di pesisir Jepara bukan lagi sekadar bencana alam biasa. Dari selatan hingga utara, garis pantai terus tergerus laut.
Pemerintah Kabupaten Jepara mencatat sedikitnya 11 titik kritis kini terancam hilang, mulai Cemara Kasih, Mahbang, Bondo, hingga Ngelak.
Untuk menahan laju kerusakan, pemerintah menyiapkan pembangunan seawall dan jetty dengan desain teknis yang sudah dipetakan Dinas PU SDA dan Tata Ruang Jateng.
Namun, di balik rencana infrastruktur, jejak masalah lama tetap menghantui: kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan pesisir, penebangan mangrove, hingga penambangan pasir laut.
“Pendekatan infrastruktur saja tidak cukup. Kami kombinasikan dengan penghijauan mangrove agar lebih berkelanjutan,” ujar Kepala Bidang PISDAK Bapperida Jepara, Dwi Yogo Adiwibowo.
Data teknis menunjukkan ratusan meter seawall akan dipasang, termasuk seawall tipe A sepanjang 740 meter di Cemara Kasih dan jetty 100 meter di Pantai Bondo.
Namun, para pemerhati lingkungan mengingatkan: solusi beton seringkali hanya memindahkan titik abrasi ke lokasi lain.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menegaskan pihaknya sudah meminta dukungan pemerintah pusat.
“Kami sudah bersurat ke Menteri PUPR, DPR RI, hingga Gubernur Jateng. Masalah ini sudah darurat, pusat harus turun tangan,” tegasnya.
Sementara itu, komunitas lingkungan menggencarkan penanaman mangrove. Ratusan bibit ditanam di Pantai Mororejo, Mlonggo, pada Rabu (24/9), menyusul kegiatan serupa di Kedung.
Namun, upaya ini masih berpacu dengan laju abrasi yang setiap tahun menggerus lahan tambak, rumah warga, hingga fasilitas publik.
Investigasi Radar Kudus menemukan sejumlah titik abrasi berdekatan dengan kawasan tambak dan lokasi penambangan pasir laut ilegal di masa lalu.
Aktivitas itu mempercepat hilangnya daratan. Tanpa penegakan hukum yang tegas, abrasi dikhawatirkan akan menjadi “bencana buatan” yang terus berulang.
Kini, Jepara berada di persimpangan: apakah seawall dan jetty benar-benar jadi solusi jangka panjang, atau hanya tameng darurat sementara laut terus melahap daratan?
Editor : Ali Mustofa