Jepara — Diperlukan penelitian lanjutan untuk menyingkap sejarah dan objek-objek cagar budaya (CB) yang masih terkubur.
Khususnya di Dukuh Duplak Desa Tempur Kecamatan Keling yang termasuk ke dalam kawasan Pegunungan Muria.
Camat Keling Lulut Andi Ariyanto menilai bahwa hal tersebut perlu segera dilakukan mengingat kondisi dan pergerakan alam yang tak dapat diprediksi.
Terlebih usai penemuan prasasti Candi Angin pada tahun 2013 oleh warga dari Dukuh Duplak. Prasasti yang saat ini tersimpan di Museum RA Kartini Jepara, ditulis menggunakan aksara Jawa Kuno dan diperkirakan dari abad ke-13 hingga ke-14 Masehi.
Lulut melanjutkan, wilayah ini diduga masih menyimpan lebih banyak objek-objek cagar budaya yang masih terkubur di bawah permukaan tanah. Menunggu untuk disingkap melalui penelitian arkeologis lanjutan.
"Hingga saat ini belum ada kelanjutan untuk melanjutkan penelitian. Lagi-lagi semua soal dukungan anggaran," tuturnya.
Penemuan prasasti yang terkait dengan situs Candi Angin membuka tabir sejarah masa lampau yang selama ini terkubur dan belum banyak dikenal publik.
Sementara itu, prasasti yang telah ditemukan tersebut berupa larangan berpoligami bagi laki-laki, dengan ancaman tidak akan diikutkan sebagai keturunan pemuja Dewa Siwa.
Prasasti tersebut menjadi bukti kuat bahwa kawasan pegunungan Muria, khususnya Desa Tempur, pernah menjadi bagian penting dalam peradaban kuno di wilayah pesisir utara Jawa.
Ditambah dengan kisah warga setempat yang acapkali menemukan sejenis terakota yang diduga ODCB saat melakukan pembukaan lahan atau bertani kopi.
Dugaan ini memperkuat bahwa kawasan ini menyimpan warisan arkeologis yang signifikan, yang belum sepenuhnya terungkap.
"Perlu memang membuat semacam forum, ini bisa menjaga sementara. Siapa tahu forum itu memunculkan kekuatan untuk mencari pendanaan, karena selama ini kendalanya memang di pembiayaan," sebutnya.
Potensi yang masih terkubur ini, lanjut Lulut dapat menjadi bekal untuk memproduksi pengetahuan maupun menjadi modal budaya dan ekonomi bagi masyarakat setempat melalui pengembangan wisata sejarah.
"Kami juga telah menginisiasi Forum Peduli Cagar Budaya Muria, sudah ada sejak 2022.
Kami beberapa giat bersama dan upaya-upaya perawatan, tapi memang sifatnya sengkuyung," ujarnya.
Pihaknya menyampaikan harapannya sekaligus menanti langkah konkret dari pihak-pihak terkait. Supaya potensi sejarah yang terpendam dapat segera digali, diteliti, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
"Misalnya dimulai dari melakukan petaan sebaran peninggalan. Selama ini belum bisa dipetakan, apalagi kawasan candi dilewati jalur pendakian. Intinya perlu adanya semangat melakukan pelestarian, ketika ada menemukan sesuatu bisa melaporkan dan selama ini warga sudah demikian," tandasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya