Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat Bidik Ukir Jepara Jadi Warisan Dunia, Diplomasi UNESCO Dikebut

Redaksi Radar Kudus • Jumat, 12 September 2025 | 17:33 WIB

 

MENDUKUNG PENUH: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (dua dari kanan) bersama Bupati Jepara Witiarso Utomo (kanan) menyapa pengukir cilik di halaman Gedung Shima, Jepara, kemarin.
MENDUKUNG PENUH: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (dua dari kanan) bersama Bupati Jepara Witiarso Utomo (kanan) menyapa pengukir cilik di halaman Gedung Shima, Jepara, kemarin.

JEPARA – Ketukan palu kayu terdengar ritmis. Berpadu dengan gesekan tatah yang menyayat permukaan balok jati.

Di halaman Gedung Shima, Jepara, suasana kemarin pagi itu, berbeda dari biasanya.

Puluhan anak-anak berseragam biru batik sekolah dasar hingga remaja SMK duduk berbaris, memahat pola demi pola di atas kayu dengan teliti.

Serbuk halus berhamburan. Tangan-tangan kecil itu, menorehkan garis lengkung, motif bunga, hingga ukiran khas Jepara yang sejak lama dikenal di dunia internasional.

Di tengah kerumunan, tampak Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat berjalan sambil menyapa.

Senyumnya mengembang saat melihat seorang bocah lelaki dengan penuh konsentrasi memukul tatah kayu di genggamannya.

”Luar biasa. Ini bukti seni ukir Jepara tetap hidup di tangan generasi penerus," ucapnya, disambut tepuk tangan hadirin.

Tidak hanya menyemangati, kehadiran politikus yang akrab disapa Mbak Rerie itu, membawa kabar penting.

Ia menegaskan bahwa seni ukir Jepara sedang diproses untuk diajukan sebagai warisan budaya takbenda UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization).

”Dokumen sudah hampir lengkap. Kita lengkapi bukti sejarah, praktik turun-temurun, dan pengakuan komunitas. Diplomasi juga berjalan. Bosnia yang sudah lebih dulu mendapat pengakuan UNESCO, akan kita ajak komunikasi, agar mendukung langkah ini," tuturnya.

Menurutnya, diplomasi budaya menjadi langkah strategis. Tidak cukup hanya dengan bukti sejarah, pengakuan dari negara sahabat juga menentukan, agar ukir Jepara segera memeroleh status bergengsi itu.

”Kami di parlemen melakukan komunikasi parlemen diplomatik. Dukungan lintas negara menjadi sangat penting," imbuhnya.

Sebelumnya, digelar seminar pelestarian ukir. Dirangkai dengan beragam lomba ukir untuk pelajar, mewarnai motif ukir untuk pelajar, hingga cipta karya cenderamata ukir. Ratusan peserta dari usia dini hingga dewasa ikut ambil bagian.

Moment itu menjadi penegasan, bahwa seni ukir tidak berhenti pada generasi orang tua. Transfer pengetahuan terjadi secara alami.

”Melihat antusiasme anak-anak kita ini sungguh membesarkan hati. Ada kemauan untuk belajar, melestarikan, dan menciptakan karya baru. Itu kunci agar ukir Jepara tetap hidup," tutur Mbak Rerie.

Bupati Jepara Witiarso Utomo yang turut hadir menambahkan, pemerintah daerah akan menggarap serius sektor ini.

Tahun depan, kawasan Desa Mulyoharjo dan sepanjang jalan di Kecamatan Tahunan akan ditata menjadi destinasi wisata ukir.

”Selama ini Mulyoharjo dan Tahunan dikenal sebagai sentra mebel dan ukir. Tapi kunjungan wisatawan masih rendah. Tahun depan kami mulai dari penyusunan studi kelayakan, lalu disosialisasikan," ungkapnya.

Dia berharap, setelah penataan dua kawasan itu, bisa menjadi etalase ukir Jepara.

Wisatawan dapat menyaksikan langsung proses mengukir, membeli produk, sekaligus belajar filosofi di balik motif-motif ukiran.

”Kecamatan lain bisa meniru sesuai potensinya masing-masing. Kita punya SDM (sumber daya manusia), infrastruktur, dan ekosistem. Tinggal ditata, agar lebih maksimal," terangnya.

Selain penataan kawasan, Pemkab Jepara menyiapkan tiga agenda besar pada tahun depan.

Berupa Pameran Seni Ukir Jepara ”TATAH” di Galeri Nasional Jakarta; partisipasi dalam IFEX 2026 di ICE BSD City, Tangerang; serta INDEX 2026 di Dubai World Trade Center.

Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat branding di skop nasional maupun kaliber internasional.

”Dengan keikutsertaan di pameran besar, posisi kita di kancah nasional maupun global akan makin dominan. Seni ukir Jepara bukan hanya tradisi, tapi juga punya nilai ekonomi tinggi," terangnya.

Bagi masyarakat Jepara, ukiran bukan sekadar keterampilan tangan, tetapi identitas dan jati diri.

Sejak abad ke-19, ukir Jepara telah mendunia, melekat sebagai marwah daerah.

Dari rumah adat, masjid, hingga furnitur modern, karya tangan pengukir Jepara menjadi simbol kehalusan seni dan kekuatan budaya.

Kini, dengan pengakuan UNESCO yang sedang diperjuangkan, harapan besar itu semakin nyata.

Status warisan dunia akan memberi legitimasi internasional, membuka peluang promosi, sekaligus meneguhkan kebanggaan masyarakat Jepara.

”Yang kita perjuangkan bukan hanya pengakuan, tapi keberlanjutan. Agar masyarakat merasa memiliki, ikut menjaga, melindungi, sekaligus menikmati hasilnya," tandas Mbak Rerie. (war)

Editor : Ali Mustofa
#batik #Lestari Moerdijat #unesco #diplomatik #seni ukir