JEPARA - Sejumlah penggiat seni dari Kabupaten Jepara dan sekitarnya melakukan aksi art perfomance serta melukis on the spot di Pantai Pasir Hitam, Tambakrejo, Desa Mulyoharjo Jepara pada Minggu (7/9).
Kegiatan bertajuk 'Hitam Putih Indonesiaku' tersebut merupakan respon atas keadaan sosial politik di Tanah Air.
Para seniman dan budayawan meresponnya dengan kontemplasi media arang sisa demonstrasi dan aksi massa pembakaran Gedung DPRD Jepara pada Minggu (31/8) lalu.
Tak hanya itu, menjelang petang, juga diadakan 'Ritus Julung Caplok' yang diadakan sebagai simbol tolal balak dan menyingkirkan sengkala, bebendu, serta segala marabahaya yang mengganggu ketenteraman wilayah.
Penggiat Seni asal Jepara, Fahrudin menyebutkan bahwa aksi tersebut merupakan kelanjutan dari art action, tabur bunga yang dilakukan Front
Masyarakat Kesenian Jepara pada Minggu (31/8) lalu di depan Kantor DPRD Jepara. Tepatnya usai insiden pembakaran gedung tersebut.
"Kali ini menggambar bersama, dengan media arang sisa material Gedung DPRD, medianya kanvas putih," sebutnya kemarin.
Menurutnya, atmosfer sosial politik yang tidak menentu sebagaimana arus nasional juga sampai ke Jepara.
Tak dapat dipungkiri bahwa Jepara sendiri sebenarnya turut menyimpan sejarah Kejayaan Nusantara.
Mulai dari riwayat Kejayaan Kalingga, Ratu Kalinyamat, penyerangan Portugis ke Johor Malaka.
Hal tersebut sebagai bagian dari cermin masyarakat Jepara selalu setia selalu sedia melawan ketidakadilan, penjajahan, penindasan dan imperialisme dalam wujud apapun.
Menurutnya, demonstrasi dan aksi massa yang yang menyasar aparat kepolisian dan DPRD Jepara menjadi bagian dari kemuakan masyarakat terhadap sebuah sistem yang perlu dibenahi.
Sekalipun aksi pembakaran serta penjarahan gedung DPRD Jepara juga tidak dapat dibenarkan.
"Ini menyisakan kesedihan dan kepedihan mendalam. Termasuk di dalamnya teman-teman Jepara yang selama ini berjuang di jalur kesenian. Kami turut prihatin, untuk itu penggiat dan pemerhati kesenian sepakat untuk mengangkat kesenian di beranda muka strategi kebudayaan kita. Meleram isu dan merefleksikan apa yang ada," ujarnya.
Hasil dari lukisan on the spot dari arang dan bermedia kanvas tersebut akan dipamerkan di event yang strategis. Sebagai arsip sekaligus pengingat bahwa Jepara merupakan rumah yang perlu dijaga secara saksama.
Melukai satu orang, sama artinya melukai diri sendiri. Sebab, sejatinya semua terikat dalam darah kewargaan dan kekeluargaan.
Sementara itu, Widyo Leksono atau Babahe sapaan akrabnya menyampaikan bahwa, pemerintah seyogianya tidak hanya fokus terhadap amuk massa aksi yang telah terjadi.
Tapi juga memberikan perhatian atas apa yang memantik amarah serta yang menjadi tuntutan masyarakat. Menurutnya pun, massa aksi tidak akan begitu reaktif ketika tidak disulut dengan hal-hal yang sensitif.
Tak hanya negarawan, seniman, akademisi hingga politisi, tapi semua pihak juga wajib menjaga harmonisme dalam penyelenggaraan pemerintahan. Lewat peran masing-masing.
Sebagai seniman dan budayawan, pihaknya melakukan 'Julung Caplok', yang menjadi satu waktu, saat matahari tenggelam, yang dipercaya masyarakat sebagai waktu demit dan hal-hal buruk mulai berkeliaran.
"Larungan sebagai suatu simbol visualisasi dan lelaku, berdoa memohon agar terhindar dari malapetaka," tegasnya.(fik)
Editor : Zainal Abidin RK