JEPARA – Peristiwa tak biasa dialami oleh Sukarti (75), seorang warga Desa Kerso, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara.
Perhiasan emas miliknya yang telah ia simpan bertahun-tahun, tiba-tiba berubah menjadi emas palsu menyerupai mainan anak-anak.
Kisah ini terungkap saat Sukarti didampingi suaminya, Suhadi (80), dan keponakannya, Firda (41), menceritakan kejadian itu kepada wartawan pada Senin (21/7). Dalam kondisi penuh kesedihan, Sukarti mengungkapkan bahwa emas yang ia kumpulkan sejak 2009 hingga 2022 diduga kuat telah ditukar dengan logam tiruan.
Menurut penuturan Sukarti, ia baru menyadari perubahan bentuk dan warna emasnya sekitar dua pekan sebelum kejadian ini dilaporkan.
Rasa curiga muncul karena perhiasan yang biasa ia simpan dalam laci almari tampak berbeda dari biasanya.
Meski sempat mengira hanya lupa atau keliru, instingnya tetap mengatakan ada yang tidak beres.
Baca Juga: Cerita Warga Desa Kerso, Jepara, Kemalingan, Puluhan Gram Emas Berubah jadi Mainan, Ini Kronologinya
Awal Mula Kecurigaan
Kecurigaan Sukarti memuncak pada Sabtu (19/7), ketika ia mendapati jendela kamarnya dalam keadaan terbuka.
Beberapa tetangga juga mengonfirmasi bahwa jendela tersebut sudah terbuka sejak beberapa hari sebelumnya.
Rumah yang ia tempati bersama suaminya memang tergolong sederhana, dengan ukuran sekitar 4x12 meter dan ruangan-ruangan memanjang yang saling terhubung.
“Lemarinya tidak dalam keadaan terkunci,” kata Sukarti terbata-bata saat diwawancarai.
Firda, keponakan Sukarti yang turut hadir, menambahkan bahwa sang bibi memang jarang menggunakan perhiasan tersebut. Terakhir kali Sukarti mengenakan emas itu adalah saat lebaran dan sebuah acara hajatan beberapa waktu lalu.
Selama ini, emas-emas tersebut disimpan rapi dalam plastik yang dibungkus sapu tangan, kemudian dimasukkan ke laci lemari.
Perhiasan Diganti Logam Murahan
Dari total perhiasan yang dimiliki Sukarti, terdapat dua kalung (masing-masing seberat 20 dan 10 gram), sembilan cincin (masing-masing 2 gram), dua liontin, dan satu pasang anting. Jumlah keseluruhan emas diperkirakan sekitar 50 gram.
Namun setelah dicek ke toko emas, nyaris seluruh perhiasan tersebut ternyata palsu. Hanya satu liontin dan satu cincin yang dinyatakan masih asli. Selebihnya adalah logam tiruan, bahkan ada yang menyerupai perak imitasi, seperti yang banyak dijual di toko kelontong.
“Kalau diuangkan dengan harga emas saat ini, nilainya bisa mencapai Rp 70 sampai 80 juta,” ungkap Firda sambil menunjukkan beberapa contoh perhiasan palsu milik bibinya.
Firda juga menunjukkan bahwa semua bukti pembelian emas sejak 2009 hingga 2022 masih tersimpan rapi. Ia mengatakan emas-emas tersebut merupakan hasil jerih payah Sukarti dari menjual hasil panen selama bertahun-tahun.
Uang Tunai Tak Tersentuh
Yang membuat kasus ini semakin janggal adalah adanya uang tunai sebesar Rp 15 juta yang disimpan dalam bungkus yang sama dengan emas tersebut. Uang itu tidak hilang, bahkan tidak disentuh sedikit pun oleh pelaku.
“Saya juga heran. Uangnya masih utuh, padahal berada di tempat yang sama. Kenapa cuma emasnya yang ditukar?” ujar Firda.
Dilaporkan ke Polisi
Setelah memastikan bahwa emas-emas tersebut memang palsu, Firda segera membawa Sukarti ke toko emas untuk pengecekan.
Begitu hasilnya jelas, pihak keluarga langsung membuat laporan resmi ke Polsek Kedung pada Senin siang (21/7), disertai bukti dan kronologi kejadian.
Kapolsek Kedung, AKP Dasiyo, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan dan langsung menindaklanjuti kasus ini.
“Kami sudah terima laporannya dan saat ini sedang dalam proses penyelidikan. Kami akan memeriksa saksi-saksi dan mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk mengungkap pelakunya,” ujarnya.
Fokus pada Penyelidikan
Pihak kepolisian masih mendalami apakah kejadian ini merupakan pencurian biasa yang dilakukan oleh orang luar atau justru melibatkan orang yang mengenal situasi rumah korban.
Tidak ditemukan tanda-tanda perusakan atau pembobolan besar di rumah, selain jendela kamar yang terbuka.
Proses penyelidikan pun terus berjalan. Pihak kepolisian menegaskan akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap siapa saja yang memiliki akses ke rumah korban atau mengetahui keberadaan perhiasan tersebut.
Hingga kini, keluarga Sukarti masih berharap ada titik terang dari kasus ini. Emas yang selama ini menjadi tabungan masa tua, hasil kerja keras selama puluhan tahun, lenyap begitu saja dan tergantikan dengan logam mainan tanpa nilai.
Kasus Sukarti menunjukkan betapa pentingnya menyimpan barang berharga di tempat yang aman.
Meski belum diketahui pasti pelakunya, tindakan penukaran emas dengan logam palsu ini jelas merupakan bentuk kejahatan yang merugikan, terlebih menyasar lansia yang tinggal bersama pasangan di rumah sederhana.
Polisi kini tengah menelusuri kasus tersebut, dan publik menantikan hasil penyelidikan agar keadilan bagi Sukarti segera terwujud.
Editor : Mahendra Aditya