Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Sidak Beras Premium di Jepara: Tak Ada Oplosan, Warga Justru Pilih Beras Non Kemasan, Lho Kok Bisa?

Redaksi Radar Kudus • Sabtu, 19 Juli 2025 | 00:05 WIB

 

CEK: Bagian Perekonomian didampingi DKPP, Disperindag serta Polres melakukan sidak beras premium di Pasar Jepara 1.
CEK: Bagian Perekonomian didampingi DKPP, Disperindag serta Polres melakukan sidak beras premium di Pasar Jepara 1.
 

JEPARA - Pemerintah Daerah Jepara melakukan sidak toko modern serta pasar tradisional. Hal tersebut menyasar beberapa merek beras premium yang dikabarkan dioplos. Di satu sisi, masyarakat menjadi lebih memilih membeli beras non kemasan.

Sebelumnya, secara nasional kasus dugaan pengoplosan sejumlah beras premium jamak diberitakan.

Satuan Tugas Pangan Kepolisian Negara Republik Indonesia atau Satgas Pangan Polri telah memerika empat produsen beras pada Kamis (10/7).

Hal itu lekat dengan dugaan pelanggaran kualitas dan takaran, usai dilakukan pemeriksaan oleh tim penyidik yang mengambil sampel beras premium.

Dugaan oplosan dipijak dari ketidaksesuaian dengan standar mutu, volume ataupun harga yang tidak sesuai HET.

Beberapa merek beras yang disebut-sebut dalam konferensi pers Menteri Pertanian seperti Sania, Sovia, Fortune, dan Siip yang diproduksi oleh Wilmar Group.

Kemudian Setra Ramos, Beras Pulen Wangi, Food Station, Setra Pulen, milik Food Station Tjipinang Jaya. Lalu Raja Platinum, Raja Ultima milik milik PT Belitang Panen Raya. Ayana yang diproduksi oleh PT Sentosa Utama Lestari (Japfa Group).

Kepala Bagian Perekonomian Setda Jepara, Ferry Yudha Adhi Dharma Rahardjo menyampaikan menyampaikan pihaknya bersama dengan perwakilan DKPP, Disperindag dan Polres melakukan sidak di sejumlah titik.

Di antaranya toko modern seperti Indomart, Alfamart termasuk pasar Jepara 1 dan Jepara 2.

Hal itu diinisiasi atas arahan pemerintah pusat untuk mengecek terkait dengan beras premium.

"Setelah dilakukan pengecekan, beras oplosan premium di Jepara tidak terjadi. Beberapa sampel yang diperiksa tidak terindikasi beras premium yang dioplos," ucapnya.

Dijelaskan batasan beras patahan pada beras premium maksimal ialah 15 persen.

"Beras bersih, tidak berbau, tidak berwarna. Bobotnya pun memenuhi standar bahkan dari yang ukuran 5kg ada yang lebih.

Secara kasat mata, patahan kecil. Bulir beras lonjong, panjang, beras utuhnya lebih banyak, sesuai standar beras premium," jelasnya.

Berdasarkan sidak tersebut tidak ada temuan oplosan beras premium, maupun berat bobot yang kurang.

"Sementara masih kasat mata, untuk uji lab masih nunggu (arahan, Red) provinsi. Harga beras premium Rp 75 ribuan untuk 5kg," sebutnya.

Pihaknya mengimbau supaya masyarakat tetap tenang seiring berkembangnya isu beras oplosan tersebut.

"Kemungkinan kecil (beras oplosan, Red) tersedia di Jepara. Seperti ini tadi bisa kita lihat memenuhi standar untuk premium," ujarnya.

Pada saat yang sama, Kepala Bidang Ketahanan Pangan DKPP Jepara Aprilia Elisiawati menyampaikan bahwa beras premium ataupun medium tidak dibedakan dari rasa ataupun jenis varietas. Tapi dari bentuk fisiknya.

"Kalau premium maksimal beras patahannya 15 persen, beras kepala maksimal 5 persen lebih bagus. Segi rasa tidak begitu berpengaruh,

pulen atau dalam arti pero juga tidak bisa dijadikan kategori (premium, Red)," tanggapnya.

Aprilia juga menyampaikan terdapat setidaknya tiga kategori kelas, mulai dari beras menir, medium hingga premium.

"Masyarakat bisa melihat di antara itu. Kalau mau beras premium bisa melihat beras kepala atau yang utuh dalam kemasan, semakin banyak itu semakin premium.

Diikuti dengan harga. Masyarakat bisa menyesuaikan mau beli yang mana," terangnya.

Menurutnya, secara lebih detail dan komprehensif memang harus dilakukan uji lab, namun penyisiran secara kasat mata pun juga dapat diketahui.

Warga Mulyoharjo Kecamatan Jepara, Dina menyampaikan mendengar beredarnya kabar beras oplosan, pihaknya jadi memilih membeli beras non kemasan.

"Bikin sedih, beras kan untuk konsumsi sehari-hari. Biasanya beli yang premium atau medium, merek Fortune. Sekadang jadi waspada, mau bagaimana lagi," ujarnya.

Untuk itu pihaknya lebih memilih beli beras yang hasil selepan desa non kemasan di pasar. Meskipun harganya pun unda-undi dengan beras premium.

"Rp 15 ribu per kilogramnya. Saya sendiri kalau cari beras yang pulen, tidak cepat berair.

Tapi soal beras premium ini perasaan biasa saja, gak tahu juga itu oplosan beneran atau gak. Kalau oplosan katanya kemrampul (patahan banyak, Red)," tandasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#jepara #Beras Premium #sidak beras oplosan #Beras Non Kemasan #beras oplosan