JEPARA – Surga tersembunyi di kaki Muria, Desa Batealit. Pesona hidden gem ini membuat Bupati Jepara Witiarso Utomo kepincut.
Usai kegiatan Ngantor di Desa Batealit Selasa (24/6), Bupati didampingi Wabup Gus Hajar dan jajaran langsung meninjau Kali Ndayung. Bupati siap benahi wisata viral itu.
Sebelum ke Kali Ndayung, rombongan sampai di Gedung Serbaguna Desa Batealit, disambut dengan iring-iringan gending Jawa yang dimainkan oleh gabungan guru SDN 1,2,3 Batealit.
Mereka tampak piawai, menguasai alat musik gamelan Jawa tersebut.
Desa Batealit, selain terkenal dengan berbagai produk olahannya, juga terkenal dengan potensi wisata dan geliat seni dan budaya. Termasuk karawitan dan reog.
Bupati bersama dengan pimpinan OPD kemudian meninjau Objek Wisata Kali Ndayung.
Dalam kesempatan tersebut juga ditebar benih-benih ikan di area sungai. Diharapkan ekosistem dapat lebih terjaga.
“Ini salah satu destinasi wisata yang luar biasa viral. Ke depan kami akan penuhi sarprasnya, supaya dapat membangun wisata di Kali Ndayung ini lebih meriah. Kita tidak bisa langsung bangun, karena ini tanah perhutani," ujarnya.
"Akan kami komunikasikan, kalau bisa kita bangun jalan, lampu, MCK, dan lainnya agar wisatawan nyaman. Sementara dikelola Bumdes,” terangnya.
Wisata Kali Dayung kini menjadi primadona baru bagi para pecinta alam.
Dengan tiket masuk hanya Rp3.000 dan ojek menuju lokasi seharga Rp10.000, pengunjung juga bisa memilih berjalan kaki sambil menikmati suasana hutan yang sejuk.
Salah satu wisatawan asal Kabupaten Demak, Ayu mengungkapkan kekagumannya atas keindahan Kali Dayung.
Dengan alam yang masih sangat alami, sangat cocok untuk menyegarkan pikiran dan menepi dari hiruk pikuknya kota.
Hamparan air sungai yang jernih dikelilingi rimbunnya kaki Muria. Bak surga yang tersembunyi.
Bupati Jepara Witiarso Utomo juga akan memberikan pendampingan melalui dinasdinas terkait untuk dapat membuat UMKM setempat masuk ke toko-toko swalayan.
Baik produk makanan-minuman mau pun produk kerajinan. Batealit juga terkenal dengan perajin batiknya.
Dengan motif khas pertanian yang dipadukan dengan ukir-ukiran.
Yang menjadi keme wahan dari batik di sini ialah selain batik cap, juga terdapat batik tulis yang menggunakan pewarna alami, yang proses pembuatannya dapat berbulan-bulan.
“Bersama dinas bisa direalisasikan dengan masyarakat, untuk membuat UMKM di Jepara maju dan produk-produk nya bisa masuk ke swalayan,” ucapnya kemarin.
Di samping itu, Mas Wiwit -sapaan akrabnya- juga menyampaikan bahwa pihaknya ingin wisata di Batealit kian dikenal secara luas.
“Fokus untuk wisata di ke camatan Batealit, seperti Kali Ndayung ini. Kalau hari libur ramai wisatawan, baik dari anak-anak SD, SMP, SMA dan umum,” sebutnya.
Sebelumnya, saat sesi penyampaian aspirasi oleh masyarakat, di antara yang menjadi bahasan ialah terkait dengan persoalan persediaan pupuk bagi para petani setempat.
Disebutkan para petani, bahwa para di daerah tersebut masih terbilang sulit untuk mengakses pupuk.
Termasuk alat-alat pertanian lainnya, yang dapat dimiliki sebagai inventarisasi barang kelompok.
Termasuk dengan pembangunan jalan usaha tani yang lebih memadai. (Fikri Thoharudin)
Editor : Ali Mustofa