JEPARA – Warga Desa Semat, Kecamatan Tahunan, digegerkan dengan penemuan mayat laki-laki di aliran sungai setempat, Rabu (18/6) pagi.
Korban diketahui bernama Sukamto (50), warga Krapyak RT 3 RW 9, yang sehari-hari dikenal sebagai marbot masjid sekaligus guru TPQ.
Kapolsek Tahunan AKP Ginyono menjelaskan, korban meninggal dunia saat tengah branjang (mencari ikan) di sungai.
Baca Juga: Bacabup Pilkada Jepara 2024 Diciduk! Diduga Gelapkan Rp600 Juta, Ditangkap Usai Dua Kali Mangkir
Peristiwa bermula sekitar pukul 06.30, saat Sukamto berangkat dari rumah bersama adiknya, Khamidun. Keduanya berboncengan sepeda motor menuju lokasi pencarian ikan di RT 6 RW 3 Desa Semat.
Setibanya di sungai pukul 07.00, Sukamto langsung memasang alat branjang di pinggir sungai.
Sementara Khamidun memilih lokasi berjarak sekitar 100 meter dari titik tersebut. Mereka pun sibuk masing-masing mengurus alat tangkap ikan.
Hingga pukul 09.30, Khamidun masih sempat melihat sang kakak tengah mengangkat branjang.
Namun selang setengah jam kemudian, Sukamto tak lagi terlihat. Khamidun yang curiga kemudian mendekat ke lokasi branjang dan terkejut mendapati tubuh kakaknya telah mengapung dalam kondisi tertelungkup.
"Korban ditemukan mengambang di sungai. Saat itu juga tubuhnya dievakuasi ke tepi dan warga sekitar segera dihubungi," terang AKP Ginyono kepada Radar Kudus.
Baca Juga: 4 Tebing Longsor, 3 Rumah Rusak, BPBD Rembang Selesaikan Kaji Cepat
Dugaan sementara, korban terpeleset akibat alat bantu branjang yang rapuh. Di lokasi kejadian, polisi menemukan anco (penyangga bambu untuk branjang) yang sudah lapuk dan patah.
"Kayu penyangga tempat memasang branjang ambruk. Diduga korban kehilangan keseimbangan dan tercebur ke sungai," tambahnya.
Hasil pemeriksaan tim medis dari Puskesmas Tahunan tidak menemukan tanda-tanda kekerasan.
Namun, ditemukan benjolan besar pada testis korban, diduga hernia, serta busa di bagian mulut.
Petugas medis memperkirakan korban telah meninggal dunia sekitar satu jam sebelum ditemukan.
Jenazah Sukamto kemudian dibawa ke rumah duka untuk segera dimakamkan.
Peristiwa ini menambah daftar kasus kecelakaan di sungai yang kerap kali terjadi akibat peralatan tradisional yang tidak aman. (Fikri Thoharudin)
Editor : Mahendra Aditya