JEPARA – Kondisi SDN 3 Kaliombo, Kecamatan Pecangaan, menjadi potret nyata keterbatasan fasilitas pendidikan di daerah pinggiran.
Sekolah yang hanya memiliki empat ruang kelas ini terpaksa menyekat ruangan menggunakan papan triplek demi mencukupi kebutuhan belajar enam kelas.
Situasi tersebut akhirnya menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Jepara.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora), Ali Hidayat, menyebutkan bahwa kekurangan ruang kelas di SDN 3 Kaliombo akan ditangani melalui alokasi dana aspirasi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
"Dalam perubahan anggaran 2025, kami mengusulkan alokasi dana sebesar Rp 250 juta untuk penambahan satu ruang kelas," ujar Ali, kemarin.
Baca Juga: Finalisasi Masterplan Pasar Rembang Dikebut, APPSI Usulkan Cold Storage untuk Dongkrak PAD
Sekolah Terendam Saat Hujan
SDN 3 Kaliombo berdiri sejak tahun 1985 dan terletak tak jauh dari bantaran Sungai SWD II Bongpes.
Letaknya yang berada di dataran rendah menyebabkan kawasan sekolah kerap terendam saat musim hujan tiba.
“Saat ini hanya ada tiga ruang kelas dan satu ruang kantor. Sekolah ini memang berada di wilayah pinggiran,” ungkap Ali.
Awalnya, sekolah ini hanya melayani siswa dari kelas 1 hingga kelas 3. Sementara siswa dari kelas 4 hingga 6 harus melanjutkan belajar di sekolah terdekat karena keterbatasan ruangan.
Ali menambahkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Ketua Komisi C DPRD Jepara, Nur Hidayat, serta menyampaikan kebutuhan tersebut kepada Bappeda dan tim anggaran (TA).
"Alokasinya sudah kami usulkan. Harapannya, anggaran bisa diketok antara September atau Oktober mendatang agar pembangunan segera dimulai," jelasnya.
Baru Pertama Kali Bisa Meluluskan Siswa
Kepala SDN 3 Kaliombo, Ahmad Yani, membenarkan kondisi sekolah yang hanya memiliki empat ruangan. Tiga ruangan lama dan satu ruang tambahan yang baru diterima pada 2024.
"Sejak awal berdiri, sekolah ini hanya punya tiga ruangan. Karena itu hanya bisa menampung siswa kelas 1 sampai 3," ungkapnya.
Tambahan satu ruang kelas pada 2024 menjadi momentum penting. Untuk pertama kalinya sejak berdiri, sekolah ini bisa menyelenggarakan pembelajaran lengkap dari kelas 1 hingga kelas 6, dan berhasil meluluskan siswa.
"Saat ini total murid kami dari kelas 1 hingga 6 berjumlah 45 anak. Tahun ini untuk pertama kalinya kami bisa meluluskan peserta didik dari sini," ujarnya bangga.
Namun, demi mengakomodasi semua kelas, ruangan masih harus disekat. Kelas 1 dan 3 berbagi ruang, begitu pula kelas 2 dan 6. Kelas 4 digabung dengan ruang guru dan kepala sekolah, sementara kelas 5 ditempatkan di ruang terpisah tanpa sekat.
"Khusus kelas 5 memang sengaja tidak disekat. Sebab dalam Kurikulum Merdeka, kelas ini merupakan masa transisi penting menuju kelas 6 dan ujian akhir," terangnya.
Tantangan Guru: Ruang Tambah, SDM Kurang
Masalah tak berhenti di ruang belajar. Jumlah guru juga masih minim. Saat ini SDN 3 Kaliombo hanya memiliki tujuh tenaga pengajar, terdiri atas dua orang PNS, empat guru PPPK, dan satu kepala sekolah.
“Dengan tambahan ruangan, kami masih kekurangan dua guru lagi,” tambah Yani.
Ia menyebutkan bahwa faktor demografis menjadi salah satu penyebab rendahnya jumlah peserta didik. Mayoritas warga sekitar berasal dari Dukuh Godangdoro Payung, Desa Kaliombo.
“Warga di sini memang tidak banyak. Tapi karena lokasi sekolah dekat dengan pemukiman, kebanyakan orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya di sini,” pungkasnya. (Fikri Thoharudin)
Editor : Mahendra Aditya