Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Festival Perang Obor 2025 di Tegalsambi Jepara Sukses Digelar, Tahun Depan Dipastikan Lebih Meriah 

Redaksi Radar Kudus • Rabu, 11 Juni 2025 | 17:42 WIB
MEMBARA: Peserta saling serang dalam Festival Perang Obor yang digelar di Desa Tegalsambi, Tahunan, Jepara, kemarin malam.
MEMBARA: Peserta saling serang dalam Festival Perang Obor yang digelar di Desa Tegalsambi, Tahunan, Jepara, kemarin malam.

 

 

JEPARA – Pelaksanaan perang obor yang digelar di Desa Tegalsambi, Tahunan, kemarin malam, berlangsung meriah.

Festival perang obor 2025 ini Pelaksanaan Festival Perang Obor 2025 ini, mendapat apresiasi dari Bupati Jepara Witiarso Utomo.

Dia merasa puas dengan pelaksanaan kali ini.

”Perang Obor berlangsung meriah. Tahun depan dapat diadakan lebih meriah lagi," ujar Petinggi Desa Tegalsambi Agus Santoso.

Menurut Agus, untuk tahun berikutnya, di sepanjang jalan yang menjadi arena perang juga perlu ditambah fasilitas penerangan atau lampu penerangan jalan umum.

”Dengan lighting yang lebih bagus, juga menjadi promosi menarik bagi wisatawan. Ketika semakin banyak yang menyaksikan perang obor, harapannya dapat lebih dikenal di tingkat nasional," harapnya

Dalam faestival ini ratusan obor memerahkan Perempatan Jalan Tegalsambi dengan bara api yang saling beradu. Kali ini, terdapat setidaknya 40 pemain dengan 400 obor.

Ribuan warga dan wisatawan dari berbagai daerah tumpah ruah di sepanjang kiri-kanan jalan. Mereka tak ingin melewatkan puncak acara sedekah bumi setahun sekali tersebut.

Acara dimulai dengan pembacaan doa serta ritual sebelum kirab pusaka. Kumandang azan dan iqamah mengalun dalam pembukaan acara tersebut, yang berlangsung dari kediaman petinggi Desa Tegalsambi.

Setelah itu, proses kirab dilakukan hingga perempatan Jalan Tegalsambi. Tabuhan terbang telon juga turut mengiringi.

Waktu dimulainya perang ditandai dengan bupati Jepara yang menyulut obor kali pertama. Malam memerah ketika perang itu dimulai.

Bara api dari pelepah kelapa dan daun pisang yang diikat itu, menghasilkan percikan api yang memukau.

Sorak sorai para penonton mewarnai jalannya acara. Terlebih saat peserta menggunakan obor untuk saling menyerang lawan.

Agus menyampaikan, prosesi perang obor menandai puncak acara sedekah bumi di desa itu.

Ini menjadi tradisi yang telah berlangsung secara turun temurun sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan.

Menurutnya, wajah pelaksanaan perang obor saat ini, terus dibungkus dengan berbagai inovasi. Seperti pemunculan produk-produk seni dan budaya.

Meliputi seni tari perang obor, teater hingga fashion show dengan batik motif perang obor.

Terlebih dengan statusnya sebagai warisan budaya takbenda (WBTb) yang telah ditetapkan oleh Kemendikbud RI pada 2020 lalu.

”Ke depan kami akan menambahkan inovasi-inovasi lagi, untuk membuat perang obor lebih meriah, sehingga masuk menjadi kalender wisata nasional," ungkapnya. Pihaknya juga akan mendorong dimunculkannya makanan-makanan tradisional. Termasuk adanya homestay yang dapat diinapi para wisatawan.

”Dengan begitu, para pengunjung dapat di sini (Desa Tegalsambi, Red) lebih lama. Terutama yang berasal dari luar kota. Di sini mereka juga bisa mengenal lebih dekat dengan Desa Tegalsambi beserta berbagai kekayaan budayanya. Mereka dapat menginap hingga puncak acara perang obor," jelasnya.

Semakin tahun menurutnya, pembuatan batik dengan motif perang obor juga semakin variatif. Ini menunjukkan ekspresi kebudayaan juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.

”Anak-anak SD sampai SMP juga diajari tarian perang obor. Dengan mengundang pelatih dari guru tari. Harapannya, bisa menjadi satu identitas yang khas bagi daerah. Jika perlu juga bisa ditampilkan di Pendapa Kabupaten Jepara," ucapnya.

Dia juga terus berkomitmen untuk dapat mengembangkan hal tersebut.

Kendati perang obor terlaksana setahun sekali, tepatnya pada Senin Pahing bulan Dzulhijjah, tetapi masyarakat juga dapat menikmati hal yang beririsan dengan perang obor pada event-event tertentu.

”Kami juga berencana membuat koreografi, untuk membuat tarian obor lebih banyak. Supaya desa wisata ini, juga semakin baik," jelasnya. (Fikri Thoharudin)

Editor : Ali Mustofa
#perang obor #bupati #kirab budaya #witiarso utomo #tegalsambi #wisatawan