JEPARA - Festival Perang Obor di Desa Tegalsambi tinggal menghitung hari. Momen yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat tersebut akan digelar pada Senin (9/6) malam.
Ratusan bahan telah rampung disiapkan, untuk diperangkan setidaknya dalam waktu sekitar satu jam.
Tak hanya itu, dalam rangkaian acaranya juga dimeriahkan dengan tanggapan wayang kulit selama dua sesi.
Semangat melestarikan budaya tersebut tak ubahnya sebagai ekspresi kebudayaan dari Desa Tegalsambi yang telah menyandang status sebagai desa wisata.
Petinggi Desa Tegalsambi, Agus Santoso menjelaskan bahwa tahun ini prosesi Perang Obor akan digelar de ngan lebih meriah.
Pihaknya menyampaikan bahwa obor sendiri telah dibuat sejak dua pekan terakhir.
“400 obor dengan 40 pemain,” ringkasnya kemarin.
Obor dibuat dari dedaunan kering, gabungan antara pelepah kelapa dan daun pisang yang diikat dengan menggunakan tali bambu.
Bahan-bahan yang ada didapatkan dari Desa Lebak dan Kawak Kecamatan Pakis Aji.
Festival Perang Obor sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) pada 2020 lalu.
Dengan terselenggaranya tradisi tersebut, Agus berharap ekonomi kerakyatan juga bergeliat. Seiring dengan keberadaan para wisatawan yang berdatangan.
Secara lebih detail, disebutkan bahwa pada Senin (9/6) pukul 06.00 lebih dulu akan dilakukan penyembelihan kerbau.
Dilanjutkan dengan khataman Alquran di masjid setempat. Sekitar dua jam berselang, ibu-ibu sekitar mulai memasak daging kerbau.
Disambung pagelaran wayang kulit sesi pertama pada pukul 10.00.
“Menjelang Zuhur warga makan siang bersama di dapur umum. Dilanjutkan dengan selamatan khataman Alquran di masjid (Barian Kubro),” ujarnya. (Fikri Thoharudin)
Editor : Ali Mustofa