Sebelum mengecek ke lokasi, ia menyempatkan untuk mencoba menelpon layanan tersebut seolah-olah melaporkan beberapa masalah.
Tanpa mengenalkan diri sebagai bupati, aduan tersebut diterima oleh petugas layanan aduan 112.
Oleh petugas, aduan tersebut selanjutnya ditindak lanjuti. Kehadiran Witiarso Utomo di posko layanan aduan 112 itu untuk memastikan layanan tersebut benar-benar berjalan.
Bahkan, untuk aduan yang sifatnya darurat, akan langsung ditangani.
Hasilnya, ia memastikan layanan aduan tersebut berjalan dengan lancar.
Ia mengakui, untuk sementara ini layanan tersebut hanya melayani aduan mulai dari pukul 07.00 hingga pukul 21.00 WIB. Itu lantaran saat ini sumber daya manusianya masih terbatas.
”Kemarin banyak complain di Instagram maupun Facebook, kami buktikan bahwa layanan 112 ini benar-benar bisa berjalan. Hari ini (kemarin, Red) ada 3 operator dari jam 07.00 pagi hingga 21.00 malam. Kami tes 2 kali kami telpon, mereka sudah melakukan pekerjaan dengan baik,” papar Wiwit, sapaan akrab Witiarso Utomo.
Diketahui, layanan tersebut pertama kali diluncurkan 19 Mei lalu.
Layanan Jepara Tanggap 112 tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat dan membantu masyarakat Jepara, khususnya dalam menyampaikan aduan dan kegawatdaruratan. Di antaranya terkait laporan kebencanaan.
”Itu yang kami utamakan dahulu. Kedaruratan,” tegas Wiwit.
Namun, adanya layanan Jepara Tanggap 112 itu juga tak lepas dari ulah iseng masyarakat.
Pihaknya mencatat, Senin (20/5) lalu, sehari setelah layanan tersebut di-launching, ada lebih dari 70 panggilan iseng yang diterima operator Jepara Tanggap 112.
Untuk itu, pihaknya meminta masyarakat agar bisa memanfaatkan layanan tersebut sebagaimana mestinya.
”Sehingga kami bisa memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Dan kepada masyarakat yang membutuhkan, kami bisa cepat membantu tanggap daruratnya,” tandas Wiwit. (Moh Nur Syahri Muharrom)
Editor : Ali Mustofa