JEPARA - Pemerintah Kabupaten Jepara mengambil langkah strategis dengan melakukan mutasi besar-besaran terhadap puluhan kepala sekolah dari berbagai satuan pendidikan.
Kebijakan ini bukan tanpa alasan—mutasi dilakukan sebagai upaya untuk mendekatkan para kepala sekolah dengan tempat tinggal mereka, agar mereka bisa bekerja lebih optimal dan minim risiko saat berangkat ke sekolah.
Seremoni penyerahan Surat Keputusan (SK) mutasi digelar di Pendopo Kabupaten Jepara pada Selasa (20/5) sore, langsung dipimpin oleh Bupati Jepara, Witiarso Utomo.
Dalam kesempatan tersebut, Witiarso yang akrab disapa Mas Wiwit menegaskan bahwa kebijakan ini diambil demi peningkatan kinerja para kepala sekolah yang juga merupakan tenaga pendidik di garis depan.
Menurut Mas Wiwit, beberapa kepala sekolah sudah menjabat dalam periode yang cukup panjang.
Sesuai ketentuan, kepala sekolah yang telah menjabat selama dua periode atau sekitar delapan tahun memang perlu digantikan. Selain sebagai bentuk regenerasi, rotasi juga bertujuan menyegarkan suasana kerja.
"Mutasi ini kami lakukan untuk mendekatkan kepala sekolah dengan tempat tinggal mereka. Supaya tidak terlalu jauh, tidak lelah di perjalanan, dan yang terpenting, bisa mengurangi risiko kecelakaan. Kami ingin mereka bisa bekerja dengan tenang, nyaman, dan penuh kebahagiaan," jelasnya dalam sambutannya.
Total ada 69 kepala sekolah yang menerima SK mutasi dalam kegiatan tersebut. Rinciannya, 49 orang menjabat sebagai kepala SD dan 20 lainnya memimpin SMP di wilayah Jepara.
Proses mutasi ini merupakan bagian dari penataan manajemen sumber daya manusia di lingkungan Dinas Pendidikan.
Momen mengharukan terjadi ketika Bupati Jepara memberikan SK kepada salah satu guru lamanya semasa SMP. Mas Wiwit mengungkapkan rasa bangganya saat bisa menyerahkan langsung SK Kepala Sekolah kepada Pak Suhari, guru biologi yang pernah mengajarnya di SMP Donorojo.
"Ini momen yang sangat personal bagi saya. Saya merasa terhormat bisa menyerahkan SK kepada Pak Suhari. Beliau adalah guru saya di SMP, dan hari ini resmi menjadi Kepala Sekolah di SMPN 1 Keling," ujar Mas Wiwit.
Ia menambahkan bahwa Pak Suhari adalah sosok penting dalam perjalanan hidupnya. "Pak Suhari adalah salah satu orang yang membantu saya mencapai prestasi. Saya berutang banyak kepada beliau," lanjutnya.
Sementara itu, Pak Suhari sendiri tampak terharu melihat mantan muridnya kini menjabat sebagai pemimpin daerah. Ia mengaku tak menyangka bahwa siswa yang dulu dia bimbing kini telah dipercaya memimpin Kabupaten Jepara.
"Jujur, saya tidak pernah menduga beliau akan menjadi seorang Bupati. Waktu pelantikan saja saya sampai menangis karena terharu. Saya bangga luar biasa," ungkapnya sambil tersenyum.
Selama 19 tahun, Suhari telah mengabdikan dirinya di SMP Donorojo. Empat tahun terakhir, ia ditugaskan menjadi kepala sekolah di SMPN 2 Batealit.
Namun lokasi sekolah yang jauh dari rumah membuatnya harus menempuh perjalanan hingga 90 kilometer setiap harinya, dengan total waktu tempuh sekitar tiga jam pulang-pergi.
"Perjalanan itu cukup melelahkan. Tapi karena tanggung jawab, saya jalani. Syukurnya sekarang saya dimutasi ke SMPN 1 Keling yang lebih dekat dengan rumah," ungkapnya dengan nada lega.
Ia pun menyampaikan apresiasinya atas kebijakan Bupati yang tidak hanya memikirkan sistem, tetapi juga kesejahteraan para pendidik.
"Pak Bupati benar-benar membawa kebijakan yang merakyat. Kami para guru merasa diperhatikan. Saya kini bisa lebih fokus, lebih sehat, dan tentunya lebih bahagia dalam menjalankan tugas sebagai kepala sekolah," pungkasnya dengan senyum puas.
Mutasi ini bukan hanya soal memindahkan posisi, melainkan bagian dari transformasi pendidikan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
Jepara, di bawah kepemimpinan Mas Wiwit, tampaknya mulai menapaki jalur baru dalam memperlakukan para pendidik dengan lebih bijak dan strategis.
Editor : Mahendra Aditya