TAHUNAN, Radar Kudus - Ratusan warga khususnya dari Desa Senenan dan sekitarnya tumpah ruah dalam momen sedekah bumi.
Bersama dengan sanak keluarga masing-masing mereka menyaksikan berbagai kesenian lokal yang ditampilkan perwakilan RT.
Acara kirab gunungan dan karnaval dimulai pukul 12.30. Setengah jam setelahnya pertemuan antar rombongan peserta dari masing-masing RT dengan rombongan perangkat Desa, Kecamatan hingga Kabupaten. Turut hadir pula Ketua Dekranasda Jepara, Ella Witiarso.
Setelah itu kemudian dituturkan tentang sejarah mengenai sedekah bumi Desa Senenan oleh tokoh masyarakat setempat, bersambung dengan pengalungan ronce melati kepada ketua RT nomor urut satu oleh Camat. Lalu pengalungan selendang sutra oleh Ketua Dekranasda.
Koordinator kepanitiaan, Taufiq menjelaskan di Desa Senenan terdapat setidaknya 24 RT, kesemuanya menampilkan pertunjukan masing-masing.
Persembahan penampilan dilakukan di depan panggung kehormatan yang tak jauh dari kediaman kepala desa.
"Acara ini yang mendorong untuk diadakan ialah dari warga sendiri. Ini diperingati secara besar-besaran sejak empat tahunan yang lalu, dan selalu meriah," jelasnya kemarin.
Taufiq menyebutkan puncak sedekah bumi jatuh pada Senin Pahing, namun diajukan di hari Minggu (4/5).
"Masing-masing RT solid, mendekor, menyiapkan perkap dan hal lain secara mandiri. Dananya menggunakan dana lingkungan masing-masing, karena dana desa fokus untuk pembangunan," katanya.
Keunikan dari sedekah bumi Desa Senenan ialah para penampil tidak boleh membawa budaya dari luar, seperti joget TikTok ataupun sound horeg.
"Kami menjalankan apa yang pak Inggi tegaskan. Sehingga penampilan sore hari ini unik dan meriah," ujarnya.
Pada pukul 16.30 para peserta juga tampak masih menampilkan pertunjukannya, mereka berusaha memukau dengan hasil latihannya selama satu bulan. Tari konvensional, semi modern, teaterikal, hingga ketoprakan dan reog turut ditampilkan.
Pada saat yang sama, Kepala Desa Senenan, Mulyono menyampaikan bahwa tema sedekah bumi 2025 ini ialah Desa Senenan yang mandiri, bergotong royong dan berbudaya.
Dengan semangat tersebut pihaknya berusaha untuk terus mengembangkan seni dan tradisi daerah.
Hal itu dipilihnya karena satu tujuan untuk ke depan semakin guyub dan rukun dalam membangun desa. "Sehingga menjadi desa yang kuat, berjaya dan gemah ripah loh jinawi," ujarnya.
Pihaknya ingin melanggengkan semangat gotong royong yang tinggi, termasuk rasa kekeluargaan dan persaudaraan satu sama lain.
"Apa yang menjadi tanggung jawab desa selanjutnya, kita jadikan beban bersama. Ini akan jauh lebih mudah, ringan sama dijinjing berat sama dipikul," ucapnya.
Untuk itu pihaknya menyampaikan ucapan terima kasihnya lantaran telah turut berpartisipasi. "Ya, pada hari Minggu 4 Mei seluruh warga bisa ikut acara sedekah bumi secara meriah.
Pelestarian budaya menjadi hal yang utama bagi kita, sehingga kita dapat mengingat dan belajar dari masa lalu," tandasnya.(FIKRI THOHARUDIN)
Editor : Mahendra Aditya