Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Begini Kemeriahan Sedekah Bumi di Desa Tempur, Desa Tertinggi di Kecamatan Keling, Jepara, Ada Tayub, Ketoprak dan Campur Sari

Zainal Abidin RK • Minggu, 4 Mei 2025 | 15:31 WIB

 

MERIAH: Para warga tengah menari bersama sinden pada saat pertunjukan tayub dalam rangkaian Sedekah Bumi di Petinggen Desa Tempur, Keling, Jepara.
MERIAH: Para warga tengah menari bersama sinden pada saat pertunjukan tayub dalam rangkaian Sedekah Bumi di Petinggen Desa Tempur, Keling, Jepara.

Sedekah Bumi Desa Tempur telah rampung dilaksanakan.

Dalam prosesnya digelar secara meriah, dipersembahkan hiburan meliputi tiga sesi tayub, dua sesi ketoprakan dan campursari.

Acara Sedekah Bumi Desa Tempur, Keling, Jepara, dimulai sejak Jumat (2/5) pagi.

Ditandai dengan pragat (penyembelihan) kerbau yang ditujukan untuk buka gedek (mengawali) rangkaian sedekah bumi.

Setelah itu dilanjutkan dengan manganan serta kirim doa kepada para leluhur.

Di saat kirim doa ini juga disiapkan ratusan telandik atau berkat.

Dibagikan kepada para pengunjung yang kebanyakan berasal dari luar daerah seperti Pati dan sekitarnya.

Kepala Desa Tempur Mariyono menyampaikan sedekah bumi Desa Tempur di 2025 ini mengusung tema merawat tradisi dan melestarikan budaya.

Topik tersebut dipilih untuk merepresentasikan semangat para warga untuk nguri-nguri tradisi, seni dan adat istiadat lokal.

 "Sebetulnya rangkaian sudah dimulai sejak Jumat Pahing kemarin 25 April lalu dengan selamatan dan ziarah di Petilasan Punden Mbah Romban serta merti atau bersih desa.

Tapi acara inti dimulai pada Jumat Wage yang kebetulan jatuh di tanggal 2 Mei," ungkapnya.

Jumat Wage pada bulan Apit tersebut dipilih setiap tahunnya untuk menghelat berbagai acara kebudayaan tradisional maupun modern.

Ribuan pengunjung hadir ke Desa Tempur untuk turut menyaksikan secara langsung agenda tahunan yang selalu dinantikan tersebut.

Para warga juga menyambut hangat para pengunjung, menjamu dengan sajian olahan makanan dan minuman.

"Faktor keramahan masyarakat untuk menyambut pengunjung menjadi daya tarik tersendiri.

Pada perhelatan semacam ini warga kami dari setiap RT menyajikan kemasan dan bingkisan secara free kepada warga lain daerah yang berkunjung," jelasnya.

 Kopi khas tempur, gemblong, tape ketan menjadi sajian bagi para pengunjung secara cuma-cuma selama rangkaian acara.

Termasuk olahan daging kerbau yang sebelumnya telah disembelih.

"Ini menjadi teman bagi para pengunjung dan wisatawan selama menikmati berbagai pertunjukan yang telah dipersiapkan," tuturnya.

Langen beksan tayub sesi pertama dimulai pada Jumat (2/5) pada pukul 13.00, bersamaan dengan proses kirab gunungan dan karnaval para warga.

Disebutkan sesi ini digelar secara khusus untuk turut menghibur para pengunjung yang berasal dari luar daerah.

Para warga termasuk tamu yang hadir diajak menari ditemani beberapa sinden (penari lokal) dengan diiringi dendangan campursari.

Pengunjung tampak antusias dan saling menyambung untuk menari secara bergantian.

Langen beksan tayub sesi kedua dilakukan pada Jumat (2/5) pukul 21.00 hingga 02.00 menjelang fajar di Petinggen Desa Tempur.

Selanjutnya, langen beksan ketiga diselenggarakan di Dukuh Kemiren Desa Tempur pada Sabtu (3/5) pukul 08.00 hingga 11.00.

Seni drama ketoprak juga tak luput ditampilkan, sesi pertama digelar pada pukul 13.00 hingga 17.00.

Disambung campursari pukul 19.00 hingga 21.00.

Setelah selesai campursari dilanjutkan seni drama ketoprak sesi kedua hingga pukul 03.00. Acara hiburan dipungkasi dengan campursari kembali pada malam ini.

"Tayub ini menjadi pakem, adapun ketoprak dan lainnya mengiringi. Ditujukan untuk mengenalkan seni agar tidak punah, utamanya lewat seni tradisional atau khas nusantara dapat menumbuhkan minat bakat seni.

Di sela-sela pementasan (tayub, Red) anak-anak dari satuan pendidikan juga mementaskan seni tari kreasi," terangnya.

Menurutnya, momen sedekah bumi merupakan hajat semua warga tidak hanya pemerintah desa.

"Di saat momen seperti inilah masyarakat sadar, apa yang dinikmati selama ini sebagai petani adalah hasil yang keluar dari proses pertanian.

Apa yang memberikan kebahagiaan kepada para warga ini kemudian dibuatlah sedekah bumi. Sebagai wujud syukur kepada Tuhan, alam dan sesama manusia," ucapnya.

Dari enam dukuh membuat gunungan hasil buminya secara sendiri-sendiri.

Pegunungan inilah yang kemudian diperebutkan oleh para pengunjung di depan Petinggen Desa Tempur.

"Yang masuk ke Petinggen sebagai simbolisasi, gunungan sebagai persembahan dari manusia kepada Tuhannya, setiap sajian dijadikan untuk memberikan penghormatan kepada tamu dari lain daerah," tegasnya.

Beragam wajah kesenian yang ditampilkan sebagai upaya untuk melestarikan tradisi yang ada.

"Untuk pengemasan seni tidak asal, karena kalau asal itu orang akan bosan. Apalagi Desa Tempur telah dinobatkan sebagai desa wisata," katanya.

Selain momen sedekah bumi pada Jumat Wage di bulan Apit, masyarakat juga bisa berkunjung saat momen liburan lebaran ataupun akhir tahun.

"Kami berusaha menampilkan apa yang banyak disukai masyarakat, yang tidak suka tayub bisa menonton ketoprak ataupun campursari sebagai seni yang banyak digandrungi masyarakat Jawa," tuturnya.

Salah satu pengunjung yang tengah traveling ke berbagai dunia, Wigi, terkesan dengan keramahan masyarakat Desa Tempur. "Setiap desa dan kota yang saya datangi memang berbeda, tapi di sini lebih murni daripada yang lain.

Semua orang, biarpun pendatang dianggap keluarga. Saya jalan-jalan ke Amerika, Eropa, Kanada, sebagian wilayah di Asia tapi sini memiliki atmosfer yang berbeda," jelasnya.

Wigi menyebutkan, secara basic orang-orang Indonesia memang lebih ramah, meskipun tidak semuanya.

"Tapi di sini (Tempur, Red). 99 persen baik hati, mau menolong. Saya menginap di tempur sejak Selasa (29/4) hingga Rabu (7/5), untuk kemudian bertolak ke Sumba dan Flores," ucapnya.

Wiki mengaku menikmati setiap perhelatan dan hiburan yang ada selama prosesi sedekah bumi.

"Kita semua punya waktu 24 jam sehari, tidak ada yang lebih. Mau kita gunakan untuk apa, tinggal bagaimana kita menjalaninya," pungkasnya sembari menyiratkan pilihan perjalanannya. (*)

 

 

Editor : Zainal Abidin RK
#jepara #campur sari #Tayub #wayangan #Kota Ukir