JEPARA – Ribuan warga tumplek blek menghadiri sedekah bumi Desa Tempur, Keling, Jepara, kemarin.
Anak-anak, remaja, hingga kalangan dewasa tak mau ketinggalan momen tahunan tersebut.
Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, sedekah bumi di Desa Tempur diselenggarakan saban bulan Apit, tepatnya jatuh pada Jumat Wage.
Sedekah bumi dimulai dengan berbagai macam prosesi. Mulai dari mragat kebo, manganan beserta kirim doa di makam dan petilasan para leluhur desa, serta pertunjukan seni dan budaya.
Acara inti sedekah bumi dilaksanakan usai Jumatan. Tepatnya pukul 13.00.
Pada saat yang sama juga dimulai tayub sesi pertama yang ditujukan untuk memukau para pengunjung yang berdatangan.
Petinggi Desa (Kepala Desa) Tempur Mariyono menyampaikan, sedekah bumi ini juga untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
Terdapat setidaknya 80 UMKM yang turut menjajakan dagangannya di momen tersebut.
"Sehari ini (kemarin, Red) sekitar 3.000 pengunjung yang datang menyaksikan sedekah bumi," ungkapnya.
Mariyono menyebutkan, warga Desa Tempur sangat memahami terkait dengan hubungan antara alam, sesama manusia, dan terutama Sang Pencipta.
"Saat momen-momen seperti inilah, warga sadar apa yang dinikmati selama ini sebagai kaum petani hasil yang keluar dari proses pertanian. Apa yang telah memberikan warga kebahagiaan, hasil yang melimpah sebagai wujud syukur sehingga membuat sedekah bumi," tuturnya.
Pada sedekah bumi kali ini, ada enam gunungan hasil bumi dari masing-masing dukuh yang diarak keliling desa.
Menurutnya, warga sangat nyengkuyung bareng terkait dengan sedekah bumi ini.
Bahkan, per KK memberi kan swadaya Rp 100 ribu dan terkum pul sekitar Rp 110 juta untuk menyukseskan jalannya acara.
"Hasil dari swadaya masyarakat ini, kemudian digunakan untuk membuat berbagai acara. Termasuk tayub yang sampai tiga sesi dan tanggapan ketoprak," jelasnya.
Pihaknya tidak mau mengadakan pertunjukan seni dan budaya secara main-main. Namun secara totalitas.
"Kami juga ingin menumbuhkan minat dan bakat seni anakanak dengan melibatkannya dalam pentas seni, dari satuan pendidikan di desa," katanya.
Mariyono menyebutkan, masyarakat yang berkunjung sewaktu momen sedekah bumi dijamu dengan olahan daging kerbau yang sebelumnya telah disembelih sebelum acara.
"Kami berharap kegiatan semacam ini kami tetap bisa menjaga, melaksanakan untuk merawat tradisi. Motivasi kami itu sebagai penanda rasa syukur kami kepada Tuhan telah dianugerahi tanah yang begitu subur dan hasil yang melimpah, sehingga dari itu membawa berkah kemakmuran," imbuhnya. (Fikri Thoharudin)
Editor : Ali Mustofa