Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pragat Kerbau Awali Sedekah Bumi Desa Tempur Jepara, Begini Rangkaian Tradisi Selametan

Abdul Rochim • Sabtu, 3 Mei 2025 | 15:35 WIB

 

MERIAH: Prosesi Sedekah Bumi Desa Tempur pada tahun 2024 lalu.
MERIAH: Prosesi Sedekah Bumi Desa Tempur pada tahun 2024 lalu.

JEPARA, Radar Kudus – Rangkaian tradisi Sedekah Bumi di Desa Tempur tahun 2025 telah resmi dimulai.

Acara pembuka diawali dengan penyembelihan kerbau atau pragat, serta makan bersama (manganan) dan doa bersama warga.

Sejak dini hari, warga telah memadati kawasan Petinggen Desa Tempur.

Mereka berkumpul untuk menyaksikan prosesi pragat atau penyembelihan kerbau, yang menjadi bagian awal dari tradisi sedekah bumi.

Ali Anwar, yang dikenal sebagai Mbah Modin Desa Tempur, menyampaikan bahwa prosesi tersebut sudah menjadi bagian dari adat turun-temurun desa.

"Harus ada mahesa (kerbau), walaupun kecil. Tapi kali ini cukup besar, beratnya sekitar 1,3 kuintal," ungkapnya usai pelaksanaan penyembelihan.

Usai penyembelihan yang berlangsung sekitar pukul 07.00, acara dilanjutkan dengan slametan di lokasi yang sama.

"Sebagai pemangku amanah masyarakat, setiap petinggi desa ikut menggelar slametan dengan dekem (ayam). Nantinya setelah salat Zuhur, Pak Inggi menerima amanah di pendapa Balai Desa," lanjut Ali Anwar.

Suasana sedekah bumi di Desa Tempur selalu hangat dan terbuka untuk semua warga, termasuk pendatang.

Makanan khas seperti tape ketan dan gemblong disuguhkan untuk para tamu.

"Daging kerbau bukan untuk warga, tapi disediakan khusus bagi para tamu. Siapapun yang datang ke sini akan dijamu dengan berbagai hidangan," jelasnya.

Tak hanya itu, warga dari luar daerah juga turut meramaikan acara dengan membuka lapak makanan, minuman, hingga wahana hiburan.

Prosesi pragat juga diiringi doa bersama untuk para leluhur yang dianggap telah menjaga dan melindungi Desa Tempur.

"Kami kirim doa bagi para leluhur. Dahulu, meski latar belakangnya berbeda – ada yang putihan, ada yang abangan tapi tujuannya satu, yakni membangun desa bersama," ujarnya.

Tradisi Sedekah Bumi Desa Tempur selalu digelar pada Jumat Wage di bulan Apit.

Seminggu sebelumnya, masyarakat juga menggelar doa di makam Mbah Romban, tepat pada Jumat Pahing.

Tahun ini, puncak acara jatuh pada Jumat, 2 Mei. Setelah pragat kerbau pagi hari, warga melanjutkan doa dan makan bersama di makam para leluhur.

Seperti Petilasan Mbah Romban di area persawahan Pondok Ruyung, Dukuh Petung; Makam Mbah Kamunoyoso di Dukuh Pekosa; Makam Eyang Parikanan di kawasan perkebunan kopi Hutan Mahkaman; serta makam Mbah Robyong dan Mbah Jenggot di Dukuh Duplak dan Kemiren.

Makam Mbah Kamunoyoso dipadati warga sejak pukul 07.30. Mereka datang untuk berdoa sekaligus mendapatkan telandik atau berkat yang berisi aneka makanan.

Sekretaris Desa Tempur, Mahfudz Aly, menjelaskan bahwa telandik telah disiapkan oleh warga secara gotong royong.

"Setiap kepala keluarga menyumbang dua telandik. Justru banyak warga yang datang dari luar Tempur," ujarnya.

Isi telandik terdiri dari nasi, lauk, gemblong, tape ketan, bubur merah, dan makanan tradisional lainnya.

"Telandik tidak bisa dimonopoli. Dibagikan secara merata sebagai simbol berkah untuk semua. Pengunjung datang dari berbagai daerah seperti Kunir, Sumanding, Jepara, Gunungwungkal, Pati Juwana, Rahtawu, dan sekitarnya," jelas Mahfudz.

Selain di makam Mbah Kamunoyoso, prosesi serupa juga digelar di Petilasan Mbah Romban, yang dikenal sebagai titik asal mula berdirinya Desa Tempur berada di pertemuan Kali Gelis dan Kali Pondok Ruyung.

Desa Tempur sendiri memiliki sekitar 1.000 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 3.630 jiwa.

Semua warga turut berpartisipasi dalam penyelenggaraan sedekah bumi ini.

"Dana kegiatan dikumpulkan secara swadaya, Rp 100 ribu per KK. Totalnya sekitar Rp 110 juta, digunakan untuk kebutuhan acara. Untuk hiburan seperti tayub dan ketoprak, dibantu dari dana desa," ungkapnya.

Salah satu acara yang paling dinantikan adalah doa bersama dan pembagian telandik di Petilasan Mbah Romban.

Ratusan orang sudah memadati lokasi sejak pukul 08.30 setelah berjalan kaki sejauh 500 meter melalui jalan setapak di area persawahan.

Dari anak-anak hingga orang dewasa antusias mengikuti prosesi. Telandik dibagikan usai doa keselamatan dan tahlil yang dipimpin oleh sesepuh desa.

"Banyak yang datang dari luar daerah, berharap mendapat berkah dari tradisi Sedekah Bumi ini," pungkas Mahfudz. (fik/him)

Editor : Mahendra Aditya
#jepara #desa tempur #sedekah bumi #kerbau