RADAR KUDUS - Momen penyelidikan saat olah TKP Safiq bin Zainal Abidin (21), pelaku predator seksual dengan korban sebanyak 31 perempuan usia remaja menyisakan sejumlah fakta menarik.
Sewaktu Polda Jateng yang juga melaksanakan penggeledahan rumah pelaku di Sendang, Kalinyamatan, Jepara ini sejumlah tetangga memanggil predator seksual dengan sebutan istimewa.
Pada Rabu 30 April 2025, warga Sendang menyebut predator seksual dengan istilah habib, yang notabene panggilan tersebut identik dengan keturunan Nabi Muhammad.
Setelah dilakukan penelusuran, benar, Safiq bin Zainal Abidin memiliki nama belakang Alaydrus.
Sehingga penyematan gelar habib berada di nama depannya. Tidak heran jika warga memanggil Safiq dengan sebutan habib.
Sebelumnya, Polda Jateng menangkap Habib Safiq bin Zainal Abidin Alaydrus karena diduga menjadi pelaku predator seksual dengan rerata usia korban 12 hingga 18 tahun.
Modusnya, pelaku meminta dokumentasi berupa foto atau video ketelanjangan.
Melalui barang itu, pelaku mengancam korban akan menyebarkan ke publik, jika tidak mematuhi keinginan pelaku.
Sebanyak empat kamar di dua tempat berbeda menjadi saksi bisu aksi bejat Safiq, predator seksual asal Desa Sendang, Kalinyamatan. Dua korban dicabuli di kos Langon dan dua korban di Beach Side Villa Telukawur.
Tim Puslabfor Mabes Polri olah tempat kejadian perkara di dua tempat. Ditemukan bercak sperma, darah, dan rambut.
Di kos Langon, pelaku bayar Rp 30 ribu per jam. Sementara di kamar villa di Telukawur Rp 40 ribu per jam.
Pelaku Sabtu (4/3/2025) digiring Reskrim Polda Jateng dan Tim Puslabfor Mabes Polri untuk menunjukkan tempat yang diduga lokasi pencabulan.
Hal itu untuk mempermudah Tim Puslabfor Mabes Polri dan Polda Jateng untuk mengidentifikasi tempat kejadian perkara.
Tangan Safiq diborgol.
Tiba di kos Desa Langon, ia menunjukkan kamar nomor dua dari sisi barat.
Total ada lima kamar di kos itu.
Tim Puslabfor lalu masuk ke dalam kamar TKP.
Hampir sejam di dalam.
Hanya ada kasur, bantal, dan guling di dalam kamar berukuran 3x4 itu.
Lokasi kos-kosan agak tersembunyi. Tepatnya di Desa Langon, Tahunan. Kos diapit gudang mebel.
Depan kos kebun kosong.
Informasi yang dihimpun wartawan, kos-kosan sudah tak berpenghuni beberapa bulan terakhir.
Sementara itu, dari pengakuan pelaku, kejadian pencabulan berlangsung sekitar akhir tahun lalu.
Dua korban diperdaya pelaku di kos Langon.
"Dua orang," kata Safiq.
Ia membayar Rp 30 ribu pada penghuni yang ngekos di kamar itu.
Durasi sejam. Sedangkan yang ngekos sebulan kisaran Rp 300 ribu sebulan.
Terpisah, Ketua RT 2 RW 1 Desa Langon, Abdul Rohman menceritakan, pelaku diketahui meminjam kamar rekannya yang ngekos di tempat itu.
"Kalau yang ngekos, pemilik selalu setor identitas dan saya laporkan ke desa. Ada kejadian seperti pelaku itu ya saya tidak tahu," terangnya.
Setelah menyelesaikan olah TKP di Langon, rombongan Puslabfor Mabes Polri bergeser ke Beach Side Villa Telukawur.
Di lokasi tersebut pelaku pernah memesan dua kamar.
Di lantai dua. Dua korban juga berhasil ia perdaya di akhir tahun lalu dan awal tahun ini.
Sekali booking pelaku merogoh Rp 80 ribu.
Sementara itu, Kasubbid Biologi Serologi, Puslabfor Bareskrim Polri Kompol Irfan Taufik menyampaikan di dua lokasi ditemukan bekas sperma, darah, dan rambut.
Temuan biologis itu digunakan untuk memudahkan identifikasi pemeriksaan tim penyidik.
"Nanti akan ada hasilnya dari cairan biologis.
Dicocokkan dengan keterangan pelaku. Bercak itu juga bisa dari pelaku maupun korban," terangnya.
Diketahui, Safiq, pelaku predator seksual asal Sendang, Kalinyamatan, ditahan Polda Jateng. Sebanyak 31 korban berhasil diperdaya pelaku.
Dari berbagai daerah. Ia meminta korban untuk mengirim foto dan video vulgar.
Sementara korban yang berdomisili di Jepara bahkan sampai dicabuli.
Mengenal Marga Alaydrus
Dirangkum dari berbagai sumber, Alaydrus adalah salah satu keluarga yang berasal dari Hadhramaut, sebuah wilayah di Yaman, dan mereka adalah bagian dari kelompok Sadah Al Alawiyyin.
Adapun Sadah Al Alawiyyin sendiri dikenal sebagai keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW melalui cucunya, Hasan bin Ali.
Keluarga ini telah memainkan peranan penting dalam penyebaran ajaran Islam ke berbagai belahan dunia, termasuk ke wilayah India dan Nusantara.
Nama 'Alaydrus' pertama kali diberikan kepada Abdullah bin Abu Bakar bin Abdurrahman Assegaf, yang dikenal sebagai seorang tokoh agama terkemuka.
Gelar tersebut diberikan oleh kakeknya, Al Habib Abdurrahman Assegaf, yang merupakan seorang ulama besar.
Pemberian gelar ini mengandung harapan agar Abdullah dapat menjadi seorang pemimpin yang berani dan dihormati.
Abdullah Alaydrus dilahirkan di kota Tarim, Hadhramaut, pada tahun 811 Hijriah, dan wafat pada tanggal 12 Ramadhan 865 Hijriah.
Di Indonesia, marga Alaydrus dikenal melalui beberapa tokoh penting yang berkontribusi dalam penyebaran Islam dan pengembangan masyarakat.
Salah satu tokoh paling terkenal dari marga ini adalah Habib Husain bin Abu Bakar Al-Aydrus, yang lebih dikenal sebagai Habib Luar Batang di Jakarta.
Selain itu, beberapa tokoh kontemporer seperti Habib Novel dan ustadzah Halimah Alaydrus juga merupakan bagian dari marga ini.
Marga Alaydrus memiliki berbagai cabang yang meliputi Bin-Umar, al-Zein, ash-Sholabiyah, al-Umar bin Zein, al-Hazem, ats-Tsibi, al-Ismail, dan al-Maigab.
Cabang-cabang ini menunjukkan keragaman dalam keluarga besar Alaydrus dan bagaimana mereka telah menyebar dan beradaptasi di berbagai wilayah.
Migrasi marga Alaydrus ke tanah Jawa dan wilayah Nusantara lainnya diperkirakan terjadi seiring dengan gelombang imigrasi para pedagang dan ulama dari Hadhramaut yang datang untuk berdagang sekaligus menyebarkan ajaran Islam.
Mereka tiba di Indonesia dengan menggunakan jalur perdagangan laut dan menetap di berbagai wilayah, beradaptasi dengan budaya setempat, dan berperan dalam penyebaran agama dan kebudayaan.
Hingga saat ini, warisan dan pengaruh marga Alaydrus masih dapat dirasakan, terutama dalam konteks keagamaan dan sosial di Indonesia.
Editor : Ali Mustofa