Bangun Imajinasi Kolektif tentang Rainha De Jepara
Nano Warsono merupakan pihak di balik suksesnya pameran terkait Ratu Kalinyamat di Kompleks Masjid Astana Sultan Hadlirin Mantingan.
Pameran yang dibuka sejak Kamis (24/4) tersebut merupakan langkah awal dari konsep pop-up museum yang tengah direncanakan.
Dimaksudkan untuk menginisiasi museum yang secara segar dapat dinikmati berbagai kalangan.
Dengan visualisasi serta narasi yang ada, generasi muda dibidik untuk dapat mencintai lebih-lebih bangga akan hal-hal yang berhubungan dengan kampung halaman.
FIKRI THOHARUDIN, Jepara, Radar Kudus
WAJAH pria kelahiran Jepara 9 Mei 1976 tersebut tampak sumringah. Pandangannya tenggelam dalam landskap tata ruang ruang di depan Masjid Astana Sultan Hadlirin Mantingan pada Kamis (24/4) malam. Nano Warsono, tengah mengamati para pengunjung yang terus berdatangan dalam pameran terkait dengan Ratu Kalinyamat tersebut.
Setiap sudut dibanjiri oleh orang baik tua, muda maupun anak-anak. Mereka hanyut dalam visualisasi yang sebelumnya telah rampung dikerjakan oleh Nano Waraono dalam kurun tiga bulan.
Ribuan pengunjung itu seperti kedapatan berkah, usai berziarah di Makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin yang berada di belakang masjid, disajikan paket lengkap mengenai historiografi tersebut.
Bagi Nano, hal itu bukanlah kebetulan yang benar-benar kebetulan. Pasalnya ia kini pulang kampung usai hijrah ke Yogyakarta sejak 1995. Ini kali, ia tidak hanya sekadar pulang kampung namun menjadi koki yang meramu riwayat terkait sejarah 'Rainha De Jepara Senora De Rica' jika orang Portugis menyebut, atau Raja Jepara, perempuan yang sangat berkuasa dan kaya raya.
Nano merupakan warga asal Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, yang lahir dari keluarga perajin mebel. Sudah sejak kecil telah akrab dengan dunia seni ukir, pertukangkayuan dan mulai belajar mengukir saat masih duduk di bangku SMP.
Ia lulus dari SMA Negeri 1 Jepara dan kemudian pada 1995 hijrah ke Yogyakarta melanjutkan kuliah di bidang seni di ISI Yogyakarta Fakultas Seni Rupa jurusan Seni Murni. Serta melanjutkan S2 di UGM, Yogyakarta. Sejak tahun 2003 menjadi dosen pengajar di Prodi Seni Murni FSR ISI Yogyakarta dan sekarang juga mengajar di Prodi Konservasi Seni.
Dirinya aktif di dunia seni rupa sebagai seniman, kurator maupun inisiator project kolaborasi. Telah mengikuti berbagai kegiatan seni baik di dalam maupun luar negeri. Berkarya secara individu maupun kolektif dengan berbagai komunitas, karya-karyanya dihasilkan cukup variatif dari mural lukisan patung, instalasi dan komik.
Pria 48 tahun tersebut, berhasil memvisualisasi pengaruh Ratu Kalinyamat sebagai pemimpin maritim yang mengedepankan kesejahteraan gender, membuat signifikansi geopolitik, serta perjuangan anti kolonialisme. Termasuk membantu Aceh dan Hitu-Maluku melawan Portugis, dan mengamankan jalur perdagangan Nusantara dari Ancaman Portugis.
Dalam lukisan-lukisannya diringkas mulai dari serangan Jepara ke Malaka pada 1551, pembelaan terhadap Bangsa Hitu pada 1564-1565, bantuan Jepara ke Aceh 1568, dan mengusir Portugis dari Malaka 1574.
Nano juga memvisualisasikan terkait dengan pedagang Arab yang turut hadir pada masa Ratu Kalinyamat. Mereka berdatangan dari Hijaz atau sebelah barat jazirah Arab, tidak hanya dari sebelah barat namun pedagang-pedagang Arab juga berdatangan dari sebelah timur jazirah, dari Ras al-Khaimah, mereka terkenal karena pelaut ulungnya, Ibnu Majid.
Tak luput, ia menggambarkan mengenai jejaring niaga Jepara, yang memiliki sejarah panjang terkait komoditas ekspor. Sebagai pelabuhan ekspor, Jepara mengirim beras dan produk pertanian termasuk kayu bahkan kapal dari daerah-daerah di Muria, Demak dan Rembang. Pada abad ke-16, terjadi perubahan besar.
Tidak hanya di Jepara atau bahkan hanya di Jawa melainkan di Asia Tenggara, Asia, hingga Eropa dan Amerika. Di tengah perubahan itu Jepara sempat mencapai kejayaan pada masa Ratu Kalinyamat.
Termasuk penggambaran mengenai Armada Jepara. Kapal berjenis Jung Java ini dibuat di kalangan Jepara 500 tahun yang lalu pada masa Ratu Kalinyamat di Pulau Muria, cara menjadi pusat kekuatan.
Berkat perjuangan Ratu Kalinyamat hubungan dan perdagangan Daerah Nusantara menjadi lebih aman. Ia berhasil melawan pihak yang telah datang untuk menguasai Nusantara, mengganggu hubungan antar daerah dan merusak perdagangan antar daerah.
Dengan armadanya kartu kalimat melanjutkan perjuangan Pati Unus yang membantu Aceh Darussalam, Hitu dan Ternate, mengajak serta Palembang dan beberapa kekuatan Nusantara lainnya. Sehingga Ratu Kalinyamat disebut sebagai tokoh pemersatu Nusantara.
"Sebetulnya mengenai sejarah, seni dan budaya Jepara saya juga sudah cukup lama dan intens untuk turun ke lapangan. Melakukan riset, bergaul dengan teman-teman yang ada di lokal Jepara," ungkapnya.
Sehingga menurutnya, starting terhadap irisan sejarah Ratu Kalinyamat itu sudah cukup bekal, untuk membuat narasi ataupun membuat visualisasi dari hal tersebut.
"Terus terang ini sebagai bagian dari peran saya sebagai periset seni rupa untuk kemudian bisa menyajikan hasilnya dalam wujud visual. Irisannya banyak, dari sejarah Jepara itu sendiri. Jika flashback ada juga Ratu Shima Kalinggapura, Majapahit, kemudian masuk pada era Demak hingga Kerajaan Kalinyamat," jelasnya.
Narasi sejarah memang cukup mendetail, apalagi dalam penyajiannya dalam bentuk pameran sekaligus langkah awal dari pop-up museum.
"Untuk itu saya juga menampilkan apa yang melatarbelakangi dan apa yang sebelumnya ada, jadi pemahaman secara utuh, seperti narasi sejarah Pulau Muria dengan lebih holistik," ujarnya.
Pameran itu diadakan atas inisiasi Yayasan Dharma Bakti Lestari, yang secara resmi dibuka oleh Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat bersama Bupati Jepara Witiarso Utomo. Dalam prosesnya irisan konsep yang ada muncul dari Suar Bahri Kultura (SUBAK) atas kolaborasi bersama budayawan Idham Bachtiar Setiadi.
"Ini kan sebenarnya projects yang saya di-invite. Kebetulan di-hire bukan karena saya orang Jepara tapi karena saya dipandang punya kapasitas. Saya diminta mas Idham salah satu foundernya SUBAK untuk terlibat. Awalnya itu memang sebagai konseptor untuk membuat pop-up museum, ini adalah salah satu dari proses menuju pop-up museum," katanya.
Pihaknya bertekad untuk menempuh langkah awal, yang fokus dalam memperkenalkan kembali sosok dan figur Ratu Kalinyamat yang sebelumnya baru dipahami secara umum. Tapi kini dapat lebih komprehensif dan menarik, terutama untuk generasi muda.
"Pendekatan visual dan narasi yang lebih ke bahasa mereka (Generasi muda, Red). Jadi awalnya saya diajak mas Idham, adik Hilmar Farid untuk lebih fokus kepada riset dan pengembangan budaya bahari di Indonesia," ulasnya.
Sebagaimana yang diketahui, sosok Ratu Kalinyamat resmi ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 10 November 2023 lalu. Perjalanan itu membutuhkan waktu setidaknya 17 tahun dari untuk dapat ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
"Apa sih yang membuat beliau ini layak untuk menjadi pahlawan. Makanya ini kemudian hadir dalam konteks mengisi suatu era di mana kejayaan Nusantara itu berada di Jepara sebagai kota yang sibuk termasuk dalam perdagangannya. Apalagi dipimpin oleh sosok Ratu," sebutnya.
Dalam salah satu lukisan, Nano memvisualisasikan sosok Ratu Kalinyamat yang berperawakan gagah, membawa senjata sejenis istinggar dan memandang ke laut lepas. Termasuk episode perniagaan dan laut yang dipenuhi kapal-kapal asing yang berdatangan ke Jepara.
"Ini sebuah hal yang baru, pop-up museum bukan ini, tapi pameran ini menjadi salah satu materi untuk itu. Kenapa pop up museum, karena ingin menghadirkan sebuah museum yang fresh. Kita dapat memperlihatkan bahwa narasi sejarah bisa dihadirkan dengan sesuatu yang baru dan menarik audiens," jelasnya.
Di samping itu, bisa menjadi hal yang rekreatif dan internaktif. Hal itu yang sebetulnya sedang dikonsep untuk menuju pop up museum.
"Ini pun sebenarnya juga sebuah hal yang baru di Indonesia, makanya perlu dieksplorasi. Karena juga keterbatasan mengenai jejak arkeologis dari Kerajaan Kalinyamat. Itu memang tidak banyak, tapi kami punya strategi lain untuk membuat visualisasinya. Sekalipun ini pekerjaan yang berat," terangnya.
Dalam proses penyajiannya juga harus tegas utamanya berkaitan tentang kontroversi tentang Ratu Kalinyamat.
"Sasaran kami generasi muda, untuk itu kemudian dapat membantu mengeliminasi hal-hal yang berbau kontroversial. Saya lebih ingin menuliskan narasi sejarah dari Ratu Kalinyamat dari perspektif yang lebih komprehensif. Lebih menunjukkan kapasitas beliau sebagai pemimpin sekaligus ekonomi yang bisa memajukan daerah," tanggapnya.
Nano juga menilai hal tersebut juga merupakan perjalanan spiritual. "Justru pada peristiwa-peristiwa itu ada jalan untuk bisa memvisualisasikan meski sempat terjadi konflik batin. Karena ada beban-beban, apakah akan muncul kontroversi atau tidak. Tapi poinnya adalah ini perjalanan panjang, yang sudah saya tabung dan di antara sekian narasi tentang sejarah Jepara yang selalu paling rumit era Ratu Kalinyamat," tegasnya.
Namun pihaknya tetap menjadi pihak yang moderat untuk tetap melangkah optimis ke depan. Apalagi bagi Nano sebagai seniman yang tertarik pada sejarah dan riset.
"Lebih kepada pembelajar, karena ketertarikan itu dari pertanyaan dan mencari jawaban. Ini lawatan atau bahkan perjalanan untuk pulang ke dalam diri. Jadi tidak ada yang kebetulan itu benar, dalam konteks saya kita masih punya beban sejarah secara kosmologis. Ada hubungannya sesuatu yang sekarang dan masa lampau," katanya.
Pihaknya meringkaskan visualisasi yang dibuatnya itu dibingkai untuk dapat membangun imajinasi kolektif, yang lebih terfokus pada persoalan Ratu Kalinyamat dalam konteks perannya.
"Selama ini tahu sendiri sejarah Ratu Kalinyamat masih umum, untuk itu ini masuk ke dalam konteks mengapa dulu beliau berjasa. Saya ingin membangun imajinasi kolektif tentang itu. Waktu itu sudah maju, buktinya gambarannya, kota yang ramai kosmopolitan sejak dulu dan sekarang seperti ini. Narasi beliau saja sendiri di masyarakat lokal jelas. Kadang-kadang ada sisi negatif, termasuk dalam lakon ketoprak," urainya.
Dalam proses merampungkan visualisasi tersebut, Nano bahkan mengaku melakukan ziarah sunyi lebih dari lima kali di Makam Ratu Kalinyamat. Itu dilakukan di sela-sela kesibukannya di Yogyakarta.
"Saya merasa harus hadir di sini, laku seperti ini ya memang harus dikerjakan, saya peziarah. Justru narasinya adalah narasi sunyi yang didapatkan dari kesunyian. Sejarah tapi juga ada unsur kontemplatif dan interpretatifnya," singkatnya.
Dalam pameran, masyarakat juga membaca perjuangan Ratu Kalinyamat yang juga banyak ditulis oleh sejarawan Eropa. Seperti Decada Da Asia Diogo Do Cuoto (1662-1675) yang menyebut Ratu Kalinyamat sebagai Rainha De Jepara. Lalu Asea Portuguesa oleh Manuel Faria E Sousa (1674) yang menguraikan serangan Ratu Kalinyamat terhadap Malaka.
Hystoria Do Cercos oleh Jorge de Lemos (1585), yang berisi dokumen rincian serangan Ratu Kalinyamat ke Malaka, serta pengaruhnya terhadap perdagangan Nusantara. Kemudian Surat kepada Raja Portugis oleh Fransisco Peres (1551) yang memuat ketakutan Peres atas serangan Ratu Kalinyamat.
Residencia das Moluccas (1564-1565) dokumen yang mencatat bantuan militer Ratu Kalinyamat ke Hitu. Serta Documenta Indica oleh Cristavao Costa (1568) yang menggambarkan aliansi Ratu Kalinyamat melawan Portugis.(fik)
Editor : Mahendra Aditya