JEPARA - Pameran mengenai Ratu Kalinyamat yang digelar di Kompleks Masjid Astana Sultan Hadlirin dikunjungi ribuan orang. Pameran tersebut dapat dikunjungi secara gratis untuk umum.
Masyarakat berbondong-bondong tanpa putus mengunjungi pop-up museum tersebut usai resmi dibuka pada Kamis (24/4) sore, oleh Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat bersama Bupati Jepara Witiarso Utomo.
Museum tersebut dibuka atas inisiasi Yayasan Dharma Bakti Lestari yang divisualisasikan oleh seniman kelahiran Jepara, Nano Warsono.
Sebagai upaya mengenalkan kepemimpinan Ratu Kalinyamat secara lebih segar dalam bentuk lukisan disertai narasi.
Sebagaimana yang diketahui, sosok Ratu Kalinyamat resmi ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 10 November 2023 lalu. Perjalanan itu membutuhkan waktu setidaknya 17 tahun dari untuk dapat ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
Pop-up museum itu sendiri sebagai pameran sementara yang diadakan untuk memantik minat terhadap suatu topik, yang dalam hal ini riwayat Ratu Kalinyamat.
Untuk kemudian menarik pengunjung ke pameran berukuran penuh di museum yang lebih besar yang tengah dikonsep.
Rencananya, museum tersebut dibuka hingga 3 bulan ke depan. Tak hanya bisa melihat dan berswafoto atas lukisan-lukisan yang ada, pengunjung juga dapat membaca secara langsung buku-buku dan laporan yang diterbitkan pada abad ke-16 yang ada di stand pameran.
Warga Kelurahan Demaan Muhammad Izzudin tampak antusias menyisir lukisan demi lukis bersama dengan sanh istri dan anak dalam gendongannya.
"Kami asli Jepara kota, rutin ziarah biasanya sepekan sekali tiap malam Jumat. Tadi sebelumnya liat upload-an di Instagram tentang pameran ini, jadi setelah ziarah bisa berkunjung," ungkapnya pada Kamis (24/4) malam.
Izzudin berusaha mengenalkan putranya yang dengan lukisan yang ada di hadapannya itu secara antusias.
"Kenang ini sangat tertarik, biasanya baca buku bergambar dan sangat suka dengan relief kapal di Alun-alun Jepara I. Ini kebetulan juga ada banyak armada kapalnya (lukisan, Red)," sebutnya.
Menurutnya visualisasi yang ada berhasil menjadi magnet bagi para pengunjung ataupun peziarah. "Memang dari visualisasi menarik, warnanya bagus. Anak-anak tertarik, apalagi disertai dengan narasi," jelasnya.
Pengunjung, menurutnya dapat mendapatkan sisi-sisi lain dari riwayat kepemimpinan Ratu Kalinyamat era masa lampau tersebut.
"Di pelajaran SD ada, tapi hanya secara umum terkait sejarah Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin sebagai penguasa di Jepara. Tidak hanya Jepara tapi Pulau Muria bahkan ya, ini seperti buki yang hidup," kesannya.
Pada saat yang sama, remaja berusia 15 tahun berama Alifia Natasya, juga tampak jeli menikmati setiap gambar yang ada. Pelajar kelas X asal Kelurahan Krapyak tersebut membawa segudang pertanyaannya tentang Ratu Kalinyamat.
"Tadi lebih dulu mama ke sini, terus ngasih tahu saya, katanya bagus untuk bahan belajar. Ya karena pelajaran sejarah bakal melekat," katanya.
Bahkan Tasya juga menyampaikan berniat untuk mengambil jurusan sejarah di kemudian hari. "Saya tertarik, karena sejarah punya sisi lain untuk didalami. Kalau ziarah di makam sini (Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin, Red) juga sering, biasanya kalau malam Minggu," ucapnya.
Tasya amat tertarik dengan riwayat mengenai perniagaan waktu era Ratu Kalinyamat yang tak luput tervisualisasi oleh sang seniman.
"Waktu itu kan Jepara sudah menjadi kota yang sibuk, saya tahu karena saya suka baca, di sela-sela istirahat atau jam kosong kadang ke perpustakaan, paling suka peradaban Islam," ringkasnya.
Sementara itu, Apri, 36 atau warga Ngabul juga datang bersama istri dan anaknya yang berumur 10 tahun.
"Awalnya tidak tahu ada apa, ternyata ada pameran terkait Ratu Kalinyamat. Ya, ramai sekali, apalagi ini (kemarin, Red) malam Jumat," katanya melihat pengunjung di lokasi pameran.
Ia mengamini bahwa pameran menambah pengetahuan tentang Ratu Kalinyamat, karena menurutnya belum banyak terpublikasi.
"Malah bahan bacaan kurang, baru ini dipublikasikan dalam bentuk yang menarik seperti ini. Saya biasanya hanya mengenalkan genduk (putri, Red) bahwa ini makamnya Ratu Kalinyamat, ini makamnya Sultan Hadlirin," tuturnya.
Penikmat sejarah lokal, Hisyam Zamroni menyampaikan pameran harus ada tindak lanjutnya. Seperti mendirikan museum Ratu Kalinyamat yang komprehensif.
Hal itu tentu menjadi PR bagi segenap pihal, sehingga tidak hanya lukisan dan visualisasi saja yang dapat dijangkau. Tapi juga hasil riset-riset dan sejenisnya.
"Apalagi sepertinya pak Bupati juga responsif, berencana akan membangun atau menghidupkan kembali Pelabuhan Ekspor Impor Jepara sebagai wujud kota Maritim Nusantara," tandasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya