JEPARA – Ratusan umat Kristen dari 17 gereja di Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, menggelar parade Jalan Salib untuk memperingati Jumat Agung, Jumat (18/4).
Kegiatan ini tak sekadar menjadi bentuk penghayatan terhadap pengorbanan Yesus Kristus, tetapi juga menjadi wujud nyata toleransi dan kebersamaan antarumat beragama di kawasan tersebut.
Parade yang berlangsung khidmat ini dimulai dari Gereja Bethany Kelet dan berakhir di GITJ Kelet, menempuh rute sejauh sekitar 1 kilometer.
Prosesi dimulai pukul 14.00 WIB dan diikuti oleh jemaat dari seluruh gereja yang ada di wilayah Keling.
Di sepanjang rute, peserta menampilkan teatrikal Jalan Salib, menggambarkan penderitaan Yesus Kristus menjelang penyaliban.
Setiap gereja membawa salib dengan kreasi khas masing-masing, menambah kekhusyukan dan makna dalam perayaan tersebut.
Baca Juga: Maknai Jumat Agung, Umat Katolik Blora Gelar Visualisasi Jalan Salib di Gua Maria
Tahun Ketiga, Semangat Semakin Menguat
Ketua Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag) Kecamatan Keling, Edi Sukaryo, menyampaikan bahwa perayaan Jalan Salib bersama ini sudah memasuki tahun ketiga sejak pertama kali digelar pada 2023.
Ia menekankan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperdalam penghayatan iman sekaligus membangun harmoni sosial.
"Kami ingin memaknai pengorbanan Kristus, yang menjadi inti dari Paskah.
Jalan Salib ini menjadi simbol penderitaan-Nya pada hari Jumat Agung.
Tapi lebih dari itu, kami juga ingin menyampaikan pesan damai dan toleransi kepada masyarakat sekitar," ujarnya.
Perayaan yang Menyatukan, Bukan Memisahkan
Menurut Edi, kegiatan ini memiliki dua nilai penting, baik secara internal maupun eksternal.
Secara internal, parade menjadi sarana memperdalam iman jemaat. Sementara secara eksternal, kegiatan ini juga menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk hidup rukun berdampingan.
"Bagi kami, ini juga ajang membangun toleransi. Masyarakat Keling sangat heterogen, tapi selama ini kami hidup harmonis.
Parade ini kami gelar terbuka dan disambut baik oleh warga dari latar belakang berbeda," tambahnya.
Perayaan Iman di Tengah Keragaman
Wilayah Kecamatan Keling dikenal sebagai kawasan yang majemuk secara keagamaan.
Karena itu, kegiatan keagamaan seperti parade Jalan Salib menjadi penting untuk terus menumbuhkan semangat saling menghormati antarumat beragama.
Dengan keterlibatan seluruh gereja dan partisipasi masyarakat, kegiatan ini menjadi wujud nyata bahwa penghayatan iman bisa berjalan seiring dengan penghormatan terhadap nilai kebhinekaan.
Editor : Mahendra Aditya