JEPARA – Ribuan orang memadati kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujungbatu, Jepara, kemarin (27/3), untuk mengikuti dan menyaksikan secara langsung tradisi tahunan larung sesaji dalam Pesta Lomban, sebuah tradisi sakral yang mewarnai Pekan Syawalan atau Lebaran Ketupat di Kabupaten Jepara.
Tradisi larung sesaji ini bukan sekadar ritual, melainkan pesta laut besar-besaran yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur nelayan Jepara.
Tahun ini, suasana di perairan sekitar Pulau Panjang, sekitar 3 mil dari bibir pantai Ujungbatu, benar-benar semarak.
Baca Juga: Berikut Daftar Korban Kecelakaan Maut di Kalinyamatan Jepara Libatkan Dua Kendaraan Sepeda Motor
Lautan kapal menghiasi horizon, dari kapal nelayan kecil hingga kapal besar yang mengangkut warga, wisatawan, dan jajaran Forkopimda Jepara.
Namun, antusiasme tinggi dari para peserta nyaris berujung chaos. Beberapa kapal dilaporkan saling bersenggolan akibat padatnya arus lalu lintas laut.
Belum lagi, sejumlah warga nekat menceburkan diri ke laut demi berebut sesaji berupa miniatur kapal berisi kepala kerbau dan berbagai ubo rampe yang baru saja dilarung.
Pemandangan ini menjadi simbol keyakinan bahwa sesaji tersebut akan membawa berkah dan keberuntungan, khususnya bagi hasil tangkapan nelayan.
”Saya tadi lihat sendiri, banyak yang berenang, padahal laut cukup dalam. Tapi demi sesaji, mereka tak peduli,” ujar Roni, warga Jepara Kota yang menyaksikan langsung dari atas kapal.
Tradisi Maritim Penuh Makna
Pesta Lomban, yang selalu digelar tepat H+7 Lebaran, bukan sekadar festival rakyat.
Ia adalah bentuk syukur para nelayan atas rezeki yang diperoleh dari laut serta doa untuk keselamatan dan hasil tangkapan yang melimpah di masa mendatang.
Tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman dahulu dan kini menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) resmi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) sejak tahun 2020.
Tak heran, tradisi ini menjadi event budaya paling populer di Jepara, mengungguli Festival Perang Obor di Desa Tegalsambi yang menempati posisi kedua berdasarkan data dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara.
”Ini adalah bagian dari kearifan lokal yang luar biasa. Kita punya tanggung jawab untuk melestarikannya,” ujar Bupati Jepara, Witiarso Utomo yang turut hadir dan memimpin proses larung sesaji bersama Forkopimda.
Potensi Wisata Bahari Nasional
Melihat antusiasme warga dan potensi ekonomi dari event ini, Bupati Jepara yang akrab disapa Wiwit menyatakan komitmennya untuk menjadikan Pesta Lomban lebih besar lagi di tahun-tahun mendatang.
Ia mengungkapkan rencana melibatkan event organizer profesional agar kemasan festival bisa naik kelas dan menarik lebih banyak wisatawan nasional hingga mancanegara.
”Ini akan kami explore lagi lebih besar tahun depan. Mudah-mudahan bisa bekerja sama dengan event organizer yang bagus, sehingga bisa mengangkat prestige Jepara, bahwa Jepara memang daerah maritim,” tegasnya.
Baca Juga: Pastikan Pesta Lomban 2025 Aman, Polres Jepara Siagakan Ratusan Personel Gabungan
Langkah tersebut dinilai tepat mengingat Jepara dikenal sebagai salah satu kota pesisir dengan kekayaan laut dan budaya yang kuat.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jepara, sektor perikanan dan kelautan menyumbang sekitar 15% dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jepara per tahun.
Event seperti Pesta Lomban berpotensi menjadi daya dorong promosi daerah sekaligus mendongkrak ekonomi lokal melalui pariwisata.
Ribuan Turut Ambil Bagian
Dari pantauan Radar Kudus, warga mulai berdatangan sejak pukul 05.30 WIB. Sebagian besar sudah menaiki kapal jauh sebelum larungan dimulai pada pukul 07.30 WIB. Total ada ratusan kapal yang terlibat dalam prosesi ini.
Meski sempat diwarnai insiden senggolan kapal, prosesi berlangsung aman dan penuh semangat.
Salah satu nelayan, Pak Marso (52), menyampaikan harapannya atas larungan tahun ini.
”Semoga hasil tangkapan tahun ini lebih banyak. Kalau bisa tiap bulan ada Lomban,” candanya sambil tersenyum.
Di darat, warga yang tidak bisa ikut ke tengah laut memadati dermaga dan pesisir, menyaksikan prosesi dari kejauhan.
Anak-anak, remaja, hingga lansia tampak antusias menyaksikan jalannya ritual yang penuh warna ini.
Tak Sekadar Ritual
Pesta Lomban bukan hanya sebuah prosesi keagamaan atau adat, tetapi juga momentum sosial dan ekonomi.
Pedagang makanan, penyedia jasa perahu, hingga pelaku UMKM turut merasakan berkah dari perayaan ini.
Bahkan, sejumlah pelaku pariwisata lokal berharap event ini bisa masuk kalender pariwisata nasional.
”Kalau dikemas serius, bisa jadi seperti Karapan Sapi di Madura atau Sekaten di Jogja. Apalagi Jepara juga punya Karimunjawa,” ujar Eko, pemandu wisata lokal.
Dengan perpaduan antara spiritualitas, budaya, dan potensi wisata, Pesta Lomban membuktikan bahwa kekayaan lokal jika dikelola serius bisa menjadi magnit ekonomi sekaligus kebanggaan daerah.
Jika tahun depan rencana pengembangan festival ini terealisasi, bukan tidak mungkin Jepara akan menjadi ikon wisata budaya bahari nasional yang diperhitungkan.
Ingin tahu seperti apa sensasi berebut sesaji dan kemeriahan di tengah laut? Tandai kalendermu untuk Pesta Lomban tahun depan — dan siapkan nyali! (*)
Editor : Mahendra Aditya