JEPARA, Radar Kudus – Suasana Lebaran masih terasa di Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, Jepara.
Berbeda dari mayoritas masyarakat Indonesia yang merayakan Idulfitri pada 31 Maret, warga di desa ini baru menggelar perayaan pada Selasa (1/4).
Tradisi ini bukan tanpa alasan, melainkan berdasarkan perhitungan kalender Aboge yang masih dijadikan acuan dalam menentukan momentum-momentum penting bagi masyarakat setempat.
Sejak pagi buta, ratusan warga laki-laki berduyun-duyun mendatangi Balai Desa Sukodono. Mereka membawa tadahan, nampan persegi dari kayu berisi nasi lengkap dengan lauk-pauk.
Kehadiran mereka bukan sekadar silaturahmi, tetapi untuk mengikuti kenduren bada, tradisi syukuran khas desa dalam menyambut Idulfitri versi Aboge.
Tradisi Kenduren Bada, Warisan Leluhur
Ritual kenduren diawali dengan pengumuman dari Kepala Desa Sukodono, Sagiman. Setelah itu, seorang sesepuh desa menyampaikan maksud dan tujuan dari kenduren ini.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan tahlilan bersama yang dipimpin oleh tokoh agama desa.
Menurut Sagiman, tradisi kenduren bada telah dilakukan turun-temurun sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Uniknya, malam sebelum kenduren, warga juga menggelar "tebiran", takbiran khas yang dilantunkan dengan langgam Jawa.
“Kami mengikuti penanggalan Aboge hanya untuk menentukan kegiatan tradisi, bukan dalam praktik ibadah harian.
Secara keagamaan, warga Sukodono tetap menjalankan salat Id dan perayaan Lebaran sesuai ketetapan pemerintah pada 31 Maret lalu,” ungkap Sagiman.
Kalender Aboge, Bukan Sekadar Penanggalan
Banyak yang mengira bahwa warga Sukodono merupakan penganut Islam Aboge.
Padahal, Sagiman menegaskan bahwa penggunaan kalender ini hanya sebagai patokan tradisi, bukan sebagai sistem keyakinan.
“Di desa kami tidak ada komunitas Islam Aboge. Tapi, sudah disepakati bahwa semua kegiatan tradisi, seperti kenduren bada dan perhitungan weton, tetap mengacu pada kalender Aboge,” jelasnya.
Tradisi ini menjadi bagian penting dalam menjaga budaya dan warisan leluhur yang masih dipertahankan oleh masyarakat Sukodono.
Kenduren bada bukan sekadar perayaan, tetapi juga simbol kuatnya kearifan lokal dalam menghadapi perubahan zaman.
Uri-uri Budaya, Menjaga Tradisi di Tengah Modernisasi
Dalam era digital seperti sekarang, banyak tradisi yang perlahan mulai ditinggalkan. Namun, berbeda dengan masyarakat Sukodono yang tetap teguh menjaga budaya mereka.
Bagi mereka, tradisi ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga cara untuk menghormati leluhur dan menjaga harmoni sosial di desa.
Pelaksanaan kenduren bada diharapkan tetap lestari sebagai bagian dari identitas budaya lokal.
Dengan adanya ritual ini, masyarakat tidak hanya berkumpul untuk merayakan Lebaran, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Bagi generasi muda, ini menjadi kesempatan untuk belajar tentang nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun.
Sebab, di tengah derasnya arus modernisasi, menjaga tradisi tetap hidup adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah dan identitas budaya sendiri.
“Harapan kami, tradisi ini tetap bisa diteruskan oleh generasi berikutnya. Sebab, budaya ini adalah bagian dari jati diri masyarakat Sukodono,” pungkas Sagiman. (rom)
Editor : Mahendra Aditya