JEPARA, Radar Kudus – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kini menyentuh Rp 16.599 per USD rupanya belum berdampak signifikan bagi pelaku ekspor mebel di Jepara.
Meski secara teori pelemahan rupiah seharusnya menjadi angin segar bagi eksportir, kondisi di lapangan justru menunjukkan respons yang masih "wait and see" dari industri.
Jamhari, salah satu eksportir mebel Jepara, mengungkapkan bahwa meski rupiah melemah, efeknya belum terasa secara langsung.
Baca Juga: Mudik Gratis ke Jepara Membludak, 508 Perantau Pulang Kampung, Pemkab Jepara Siapkan 11 Bus
Salah satu alasannya adalah karena pelemahan ini terjadi secara mendadak, sehingga pelaku industri belum bereaksi dengan mengubah strategi harga mereka.
"Produsen yang menjual dalam denominasi USD masih menunggu situasi stabil sebelum memutuskan mengubah kalkulasi harga mereka.
Sementara para buyer yang menggunakan USD juga belum terlalu memperhatikan pelemahan ini karena mereka masih terjebak dalam kondisi resesi global yang menyebabkan turunnya permintaan," jelas Jamhari, yang juga menjabat sebagai Ketua Steering Committee Jepara International Furniture Buyer Weeks (JIFBW).
Pasar Ekspor Lesu, Buyer Masih Menunda Pembelian
Kondisi ekonomi global yang masih dalam bayang-bayang resesi membuat permintaan ekspor furniture belum meningkat meskipun rupiah melemah.
Para pembeli dari luar negeri cenderung menunda pembelian karena stok mereka masih tinggi, sehingga tidak ada urgensi untuk segera melakukan transaksi baru.
Hal ini juga diperparah oleh pelemahan permintaan di pasar lokal, yang seharusnya bisa menjadi alternatif bagi industri mebel di tengah kondisi ekspor yang stagnan.
Bahkan, menurut Jamhari, momen belanja menjelang Lebaran tahun ini pun tidak menunjukkan peningkatan signifikan, yang menandakan masih lemahnya daya beli masyarakat.
Logistik dan Biaya Operasional Tetap Stabil
Salah satu alasan lain mengapa pelemahan rupiah belum berdampak besar bagi industri ekspor mebel adalah karena skema transaksi ekspor yang digunakan.
Sebagian besar eksportir Jepara menggunakan sistem Free On Board (FOB), di mana biaya logistik dalam bentuk USD ditanggung oleh buyer.
"Karena biaya pengiriman ekspor dibayar oleh pembeli, pelemahan rupiah belum menjadi kendala berarti dalam operasional ekspor mebel," tambah Jamhari.
Kondisi Berbeda dengan Krisis 1998
Sebagian pihak mungkin membandingkan kondisi saat ini dengan krisis moneter 1998, ketika rupiah anjlok dari Rp 2.000 per USD ke Rp 16.000 per USD, yang justru menguntungkan industri ekspor mebel saat itu.
Namun, menurut Jamhari, situasi sekarang tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan krisis 1998 karena perbedaan faktor penyebab dan dampaknya.
"Saat krisis 1998, permintaan di negara-negara pasar masih sangat besar, sementara sekarang banyak negara mengalami resesi yang berdampak pada penurunan permintaan barang kebutuhan tersier seperti mebel.
Pelemahan rupiah saat ini juga tidak seekstrem 1998, dan hampir semua mata uang negara produsen juga mengalami pelemahan serupa," tandasnya.
Dengan kondisi seperti ini, pelaku industri mebel di Jepara masih harus bersikap hati-hati dan menyesuaikan strategi mereka.
Meski pelemahan rupiah berpotensi memberikan keuntungan bagi eksportir, permintaan pasar global yang masih lesu menjadi tantangan utama yang harus dihadapi. (*)